Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Trump Mendadak Ubah Kesepakatan Iran, Perdamaian Timur Tengah Kembali Terancam

Ali Sodiqin • Senin, 1 Juni 2026 | 18:00 WIB
Drama Diplomasi Perang AS–Israel vs Iran: Utusan Trump Batal ke Pakistan, Perdamaian Masih Abu-abu. (ChatGPT Image)
Perdamaian Timur Tengah Masih Jauh, Trump dan Iran Belum Temukan Titik Temu. (ChatGPT Image)

RADARBANYUWANGI.ID – Harapan berakhirnya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali tertahan di meja diplomasi. Presiden Donald Trump dilaporkan meminta sejumlah perubahan penting terhadap rancangan kesepakatan yang sebelumnya disebut hampir final, memicu babak baru negosiasi yang berpotensi menentukan masa depan stabilitas Timur Tengah.

Langkah Trump tersebut memperlihatkan bahwa meski jalur diplomatik masih terbuka, Washington belum sepenuhnya puas dengan isi proposal yang telah disusun para perunding. Di tengah ancaman gangguan pasokan energi global dan ketegangan militer yang sewaktu-waktu dapat kembali meletus, perundingan kini memasuki fase paling krusial.

Laporan The New York Times menyebutkan Trump meminta syarat-syarat perjanjian diperketat sebelum memberikan persetujuan akhir. Kerangka baru hasil revisi Washington telah dikirim kembali ke Teheran untuk dipelajari dan dipertimbangkan.

Meski rincian perubahan belum diungkap secara resmi, sejumlah sumber menyebut presiden AS ingin memperkuat beberapa klausul yang dianggap fundamental, terutama terkait masa depan program nuklir Iran dan pengelolaan material nuklir yang dimiliki negara tersebut.

Trump Belum Beri Lampu Hijau

Keputusan Trump muncul setelah pertemuan penting di Situation Room Gedung Putih pada Jumat waktu setempat.

Sebelumnya, sejumlah pejabat AS mengindikasikan bahwa proposal perdamaian hanya tinggal menunggu persetujuan akhir dari presiden. Namun rapat selama beberapa jam tersebut berakhir tanpa keputusan final.

Menurut laporan Axios, Trump menilai sejumlah poin masih perlu diperjelas agar kepentingan strategis Amerika Serikat terlindungi secara maksimal.

Salah satu pejabat senior AS bahkan mengungkapkan bahwa pemerintah memperkirakan Iran membutuhkan waktu hingga tiga hari untuk memberikan respons resmi terhadap revisi terbaru tersebut.

"Kami siap menunggu sampai presiden mendapatkan apa yang dimintanya. Bisa seminggu, bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama," kata pejabat tersebut.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Washington tidak ingin terburu-buru menandatangani kesepakatan yang berpotensi berdampak jangka panjang terhadap keamanan kawasan.

Iran Tegaskan Tidak Akan Mengalah

Di sisi lain, Teheran mengirim sinyal bahwa mereka juga tidak akan menerima perjanjian yang dianggap merugikan kepentingan nasional.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa negaranya hanya akan menyetujui kesepakatan jika seluruh hak Iran benar-benar terjamin.

Menurutnya, pengalaman panjang hubungan dengan Amerika Serikat membuat Iran tidak lagi menjadikan janji politik sebagai dasar kepercayaan.

"Tidak ada kepercayaan terhadap kata-kata dan janji musuh. Satu-satunya kriteria kami adalah memperoleh hasil nyata sebelum memenuhi komitmen kami," tegas Ghalibaf setelah kembali terpilih sebagai Ketua Parlemen Iran.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan politik domestik juga membayangi proses negosiasi di Teheran.

Pemerintah Iran harus memastikan bahwa setiap konsesi yang diberikan akan diimbangi manfaat konkret bagi negara tersebut, baik dalam aspek ekonomi maupun keamanan.

Nuklir Tetap Jadi Isu Utama

Salah satu hambatan terbesar dalam negosiasi adalah program nuklir Iran.

Trump sejak awal menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus menjamin Iran tidak pernah mengembangkan senjata nuklir.

Posisi tersebut sejalan dengan kebijakan lama Washington yang menganggap kemampuan nuklir Iran sebagai ancaman strategis bagi kawasan Timur Tengah dan sekutu-sekutu Amerika.

Namun Iran terus menolak tuduhan tersebut.

Pemerintah Teheran berulang kali menyatakan bahwa program nuklir mereka bertujuan damai dan tidak diarahkan untuk memproduksi senjata.

Menariknya, pada Maret 2025, mantan Direktur Intelijen Nasional AS Tulsi Gabbard bahkan pernah menyampaikan kepada Kongres bahwa penilaian intelijen Amerika saat itu menyimpulkan Iran tidak sedang membangun senjata nuklir.

Meski demikian, isu tersebut tetap menjadi titik sensitif karena menyangkut kepercayaan dan mekanisme pengawasan internasional yang belum sepenuhnya disepakati.

Selat Hormuz Jadi Taruhan Dunia

Selain program nuklir, perhatian dunia juga tertuju pada Selat Hormuz.

Jalur laut strategis itu menjadi urat nadi perdagangan energi global karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut setiap hari.

Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan militer membuat akses pelayaran di kawasan itu terganggu dan memicu kekhawatiran pasar internasional.

Trump menjadikan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai salah satu syarat utama dalam kesepakatan.

Washington menilai kebebasan navigasi di jalur tersebut merupakan kepentingan global yang tidak dapat ditawar.

Namun Iran tetap menunjukkan sikap tegas.

Markas Besar Khatam al-Anbiya milik militer Iran pada Sabtu kembali menegaskan bahwa Teheran memiliki kendali penuh atas perairan tersebut.

Pihak militer Iran bahkan memperingatkan kapal komersial maupun kapal perang asing agar mematuhi seluruh aturan yang diberlakukan pemerintah Iran saat melintas.

Peringatan tersebut menunjukkan bahwa Selat Hormuz masih berpotensi menjadi sumber ketegangan baru meskipun negosiasi damai sedang berlangsung.

Risiko Perang Belum Hilang

Para pengamat menilai setiap penundaan kesepakatan meningkatkan risiko konflik kembali meledak.

Richard Weitz, peneliti senior NATO Defense College, mengatakan absennya gencatan senjata permanen membuat ancaman operasi militer tetap terbuka.

"Semakin lama tidak ada kesepakatan yang disetujui kedua pihak, semakin besar risiko operasi militer kembali dimulai," ujarnya.

Meski demikian, ia menilai kehati-hatian dalam menyusun perjanjian lebih baik dibanding menghasilkan kesepakatan yang rapuh.

Menurutnya, dokumen yang mampu memuaskan kedua belah pihak akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan mencegah eskalasi di masa depan.

Dunia Menunggu Keputusan Trump

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa meskipun perang di lapangan mulai mereda, pertarungan diplomatik masih berlangsung sengit.

Baik Washington maupun Teheran sama-sama berusaha memperoleh posisi terbaik sebelum menandatangani kesepakatan yang dapat mengubah lanskap geopolitik Timur Tengah.

Bagi pasar global, hasil negosiasi ini akan berdampak langsung terhadap harga energi, keamanan jalur perdagangan internasional, hingga stabilitas ekonomi dunia.

Karena itu, perhatian internasional kini tertuju pada respons Iran terhadap revisi yang diajukan Trump.

Jika kedua pihak berhasil menemukan titik temu, kesepakatan tersebut berpotensi mengakhiri salah satu krisis geopolitik terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Namun jika perbedaan tetap bertahan, dunia kembali menghadapi kemungkinan meningkatnya ketegangan di kawasan yang selama ini menjadi salah satu pusat konflik paling strategis di planet ini. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Donald Trump Iran #Kesepakatan Damai Timur Tengah #selat hormuz #perang as israel iran #program nuklir iran