Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Trump Tunda Kesepakatan Iran, Negosiasi Nuklir dan Selat Hormuz Kembali Memanas

Ali Sodiqin • Senin, 1 Juni 2026 | 17:01 WIB
Donald Trump menyebut peluang kesepakatan AS-Iran sangat besar setelah pembicaraan intensif 24 jam terakhir. (JawaPos.com)
Trump menunda persetujuan kesepakatan dengan Iran. Isu program nuklir, Selat Hormuz, dan sanksi ekonomi masih menjadi ganjalan utama. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID – Harapan berakhirnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali tertunda. Presiden Donald Trump dilaporkan meminta revisi terhadap rancangan kesepakatan yang sebelumnya disebut hampir final, memperpanjang negosiasi sensitif yang selama beberapa pekan terakhir menjadi perhatian dunia.

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa meskipun kedua pihak telah bergerak mendekati titik kompromi, sejumlah isu strategis masih menjadi batu sandungan utama. Mulai dari komitmen program nuklir Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, hingga persoalan keringanan ekonomi bagi Teheran masih memicu tarik-ulur yang berpotensi menentukan stabilitas Timur Tengah dan pasar energi global.

Situasi ini juga memperlihatkan bahwa perang diplomasi sering kali jauh lebih rumit dibanding penghentian konflik bersenjata di lapangan.

Trump Minta Bahasa Perjanjian Diperketat

Menurut sejumlah pejabat yang mengetahui proses negosiasi, Trump mengembalikan rancangan kesepakatan kepada tim perunding setelah melakukan pertemuan dengan para penasihat keamanan nasional pada Jumat waktu setempat.

Presiden AS itu meminta sejumlah perubahan sebelum memberikan persetujuan akhir.

Meski detail revisi yang diminta belum dipublikasikan secara resmi, sumber pemerintahan menyebut Trump menginginkan bahasa yang lebih tegas terkait komitmen nuklir Iran dan jaminan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Pemerintah AS juga dilaporkan meminta kepastian yang lebih kuat mengenai implementasi kewajiban Iran apabila kesepakatan mulai berlaku.

Seorang pejabat asing yang mengetahui proses pembahasan mengatakan perubahan tersebut tidak mengubah substansi utama perjanjian, namun lebih berfokus pada penguatan jaminan dan kepastian pelaksanaan.

Dengan kata lain, Washington ingin memastikan bahwa seluruh poin penting dapat diterapkan secara nyata, bukan hanya menjadi komitmen politik di atas kertas.

Trump Khawatir Soal Keringanan Dana untuk Iran

Selain isu nuklir, Trump juga disebut memberikan perhatian khusus terhadap kemungkinan bantuan atau keringanan ekonomi yang akan diterima Iran.

Persoalan ini memiliki dimensi politik yang sensitif bagi Trump.

Selama bertahun-tahun, ia menjadi salah satu pengkritik paling keras kesepakatan nuklir era Presiden Barack Obama yang ditandatangani pada 2015.

Trump berulang kali menyebut perjanjian tersebut terlalu lunak terhadap Iran dan mengaitkannya dengan kebijakan pelepasan aset serta dana yang menurutnya menguntungkan Teheran.

Karena itu, pemerintahan saat ini berupaya menghindari kesan bahwa kesepakatan baru akan memberikan keuntungan finansial besar kepada Iran tanpa imbal balik yang jelas.

Sumber pemerintahan AS menyebut Trump sangat berhati-hati agar tidak muncul narasi politik yang menyerupai kontroversi "pallets of cash" yang pernah menjadi isu besar pada era Obama.

Pekan Lalu Disebut Hampir Final

Perkembangan terbaru ini cukup kontras dengan optimisme yang muncul sepekan sebelumnya.

Saat itu Trump menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran secara umum telah selesai dan hanya menunggu penyempurnaan akhir.

Pernyataan tersebut memunculkan harapan bahwa konflik yang sempat mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah akan segera berakhir.

Sejumlah pejabat AS bahkan mulai berbicara mengenai tahapan berikutnya, termasuk pembukaan kembali jalur perdagangan dan pembahasan lebih rinci mengenai masa depan program nuklir Iran.

Namun kenyataannya, sejumlah perbedaan mendasar masih belum berhasil diselesaikan.

Pertemuan selama dua jam yang digelar Trump bersama para penasihatnya pada Jumat berakhir tanpa keputusan final.

Perselisihan Soal Uranium dan Dana Ekonomi

Salah satu titik perbedaan terbesar muncul pada isu nuklir.

Trump sebelumnya menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menyita dan menghancurkan cadangan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Iran.

Namun hingga saat ini Iran menolak pembahasan rinci mengenai program nuklirnya dalam negosiasi yang sedang berlangsung.

Teheran berpendapat bahwa pembicaraan saat ini berfokus pada penghentian konflik dan stabilitas kawasan, bukan pengaturan teknis fasilitas nuklir mereka.

Perbedaan lainnya terkait kompensasi ekonomi.

Trump menegaskan bahwa tidak ada pembahasan mengenai pertukaran dana dalam kesepakatan tersebut.

Sebaliknya, Iran menyatakan bahwa pencabutan sanksi dan manfaat ekonomi merupakan bagian penting yang harus tercantum dalam perjanjian apa pun.

Perbedaan persepsi tersebut memperlihatkan betapa rumitnya upaya menyatukan kepentingan kedua negara yang selama puluhan tahun berada dalam hubungan konfrontatif.

Iran Tegaskan Tidak Akan Menyerah

Di Teheran, sinyal yang muncul juga menunjukkan bahwa pemerintah Iran tidak akan menerima kesepakatan yang dianggap merugikan kepentingan nasional mereka.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa tidak ada perjanjian yang akan disetujui sebelum hak-hak Iran dijamin.

Menurutnya, para diplomat Iran tidak bisa begitu saja mempercayai janji dari pihak yang selama ini dianggap sebagai lawan strategis.

“Yang penting bagi kami adalah pencapaian nyata yang harus kami peroleh. Sebagai imbalannya, kami akan memenuhi komitmen kami,” tegas Ghalibaf.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Teheran juga menghadapi tekanan politik domestik yang besar dalam proses negosiasi.

Setiap kesepakatan yang dianggap terlalu menguntungkan Washington berisiko memicu kritik keras dari kelompok konservatif di dalam negeri.

Selat Hormuz Jadi Kunci

Salah satu isu paling krusial dalam perundingan adalah Selat Hormuz.

Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu merupakan salah satu urat nadi energi dunia.

Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut setiap hari.

Karena itu, setiap ancaman terhadap kebebasan navigasi di Selat Hormuz langsung memengaruhi harga energi internasional.

Senator Demokrat Chris Coons mengingatkan bahwa persoalan Hormuz tidak akan mudah diselesaikan hanya melalui dokumen diplomatik.

Menurut dia, Iran telah menunjukkan kemampuan menggunakan ranjau laut, drone, dan berbagai aset militer lainnya untuk mengganggu lalu lintas pelayaran.

“Amerika mungkin bisa menghancurkan fasilitas besar di Iran, tetapi tidak mudah mencegah mereka menggunakan ranjau untuk menutup Selat Hormuz atau mengerahkan drone terhadap sekutu-sekutu kita,” ujarnya.

Karena itu, Coons menilai kesepakatan yang dihasilkan harus benar-benar kuat dan mampu mengatasi ancaman keamanan baru yang muncul selama konflik berlangsung.

Blokade AS Masih Berjalan

Di tengah negosiasi yang belum selesai, tekanan militer Amerika Serikat terhadap Iran ternyata belum berhenti.

Trump telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk mempertahankan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran dan membersihkan Selat Hormuz dari ancaman ranjau.

Langkah tersebut terus berlangsung selama proses diplomasi berjalan.

Bahkan pada Jumat lalu, militer AS dilaporkan melumpuhkan kapal berbendera Gambia yang menuju pelabuhan Iran setelah dianggap melanggar blokade.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan kapal tersebut telah menerima lebih dari 20 peringatan sebelum akhirnya rudal ditembakkan ke ruang mesinnya.

Menurut data militer AS, kapal itu menjadi kapal komersial kelima yang dilumpuhkan sejak blokade diberlakukan.

Selain itu, lebih dari 100 kapal lainnya telah dialihkan dari jalur menuju Iran.

Dunia Menunggu Keputusan Akhir

Negosiasi terbaru memperlihatkan bahwa jalan menuju kesepakatan masih penuh ketidakpastian.

Di satu sisi, Washington dan Teheran memiliki kepentingan untuk menghindari konflik berkepanjangan yang dapat mengganggu stabilitas kawasan.

Di sisi lain, masing-masing pihak juga menghadapi tekanan politik domestik yang membuat kompromi menjadi semakin sulit.

Bagi pasar global, hasil perundingan ini memiliki dampak yang jauh melampaui hubungan bilateral Amerika Serikat dan Iran.

Harga minyak dunia, keamanan jalur perdagangan internasional, stabilitas Timur Tengah, hingga arah geopolitik global dalam beberapa tahun ke depan akan sangat dipengaruhi oleh isi kesepakatan yang saat ini masih dinegosiasikan.

Karena itu, meskipun Trump menyebut perjanjian tersebut hampir selesai, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa pertempuran diplomatik terbesar justru mungkin baru memasuki babak paling menentukan.

Dunia kini menunggu apakah kedua negara mampu menemukan titik temu, atau kembali terjebak dalam siklus ketegangan yang selama puluhan tahun menjadi ciri hubungan Washington dan Teheran. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Donald Trump Iran #Kesepakatan Nuklir Iran #Amerika Serikat Iran #selat hormuz #konflik timur tengah