Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sidang Pemakzulan Sara Duterte Dimulai, Pertarungan Dua Dinasti Politik Filipina Memanas Jelang Pilpres 2028

Ali Sodiqin • Selasa, 19 Mei 2026 | 16:00 WIB
Nasib Sara Duterte ditentukan lewat sidang pemakzulan. Pertarungan dinasti politik Filipina memanas jelang Pilpres 2028. (AP via Nikkei Asia via JawaPos.com)
Nasib Sara Duterte ditentukan lewat sidang pemakzulan. Pertarungan dinasti politik Filipina memanas jelang Pilpres 2028. (AP via Nikkei Asia via JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID – Filipina memasuki fase politik paling panas dalam beberapa tahun terakhir. Nasib Wakil Presiden Filipina, Sara Duterte, kini berada di ujung tanduk setelah Senat dijadwalkan bersidang sebagai pengadilan pemakzulan. Namun perkara ini dipandang jauh melampaui urusan hukum semata. Di balik sidang bersejarah tersebut, tersimpan pertarungan besar dua dinasti politik raksasa yang diperkirakan bakal menentukan arah perebutan kekuasaan menuju pemilu presiden 2028.

Sidang yang dimulai Senin (18/5/2026) menjadi pertaruhan terbesar sepanjang karier politik Sara Duterte.

Jika dinyatakan bersalah, perempuan berusia 47 tahun itu bukan hanya terancam kehilangan jabatan sebagai wakil presiden. Vonis tersebut juga berpotensi menutup jalan politiknya karena dapat disertai larangan menduduki jabatan publik di masa depan.

Konsekuensinya sangat besar: peluang Sara Duterte maju dalam pemilihan presiden Filipina 2028 praktis bisa runtuh sebelum dimulai.

Sebaliknya, jika berhasil lolos dari badai politik ini, Sara justru berpeluang keluar sebagai figur yang semakin kuat.

Sejumlah pengamat menilai kemenangan di sidang pemakzulan bisa mengubahnya menjadi kandidat terdepan untuk menggantikan rival politik utamanya, Ferdinand Marcos Jr., yang secara konstitusi tak dapat mencalonkan diri kembali.

Dari Sekutu Jadi Rival, Aliansi Marcos-Duterte Pecah

Perseteruan yang kini mengguncang politik Filipina sebenarnya berawal dari aliansi besar yang pernah menyatukan dua keluarga politik berpengaruh.

Pada pemilu 2022, Marcos dan Duterte tampil sebagai pasangan politik paling dominan di negara tersebut.

Kombinasi dua nama besar itu sempat dipandang sebagai koalisi super yang sulit ditandingi.

Namun setelah kemenangan diraih, hubungan keduanya perlahan retak.

Ketegangan politik meningkat hingga akhirnya berubah menjadi persaingan terbuka.

Puncaknya terjadi ketika pemerintahan Marcos menyerahkan mantan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, kepada International Criminal Court (ICC).

Rodrigo Duterte kini menghadapi proses hukum internasional terkait kebijakan perang narkoba selama masa pemerintahannya yang menewaskan ribuan orang.

Langkah tersebut dinilai menjadi titik balik hubungan dua keluarga politik terbesar Filipina.

Sara Duterte Dituduh Salahgunakan Dana dan Ancam Presiden

Dalam proses pemakzulan, Sara Duterte menghadapi serangkaian tuduhan serius.

Ia dituduh menyalahgunakan dana publik, memiliki kekayaan yang tidak dapat dijelaskan asal-usulnya, hingga mengancam keselamatan Presiden Marcos, ibu negara, dan mantan Ketua DPR Filipina.

Seluruh tuduhan tersebut dibantah Sara Duterte.

Hingga kini belum ada kepastian kapan sidang resmi memasuki tahapan pemeriksaan substantif.

Presiden Marcos sendiri berupaya menjaga jarak dari proses tersebut.

Ia menegaskan bahwa pemakzulan merupakan ranah legislatif.

Drama Politik Filipina Memanas, Muncul Baku Tembak di Gedung Senat

Ketegangan politik Filipina semakin membara karena sidang pemakzulan berlangsung di tengah situasi yang tidak biasa.

Beberapa hari sebelumnya, terjadi kericuhan hingga laporan suara tembakan di kompleks Senat Filipina.

Kekacauan dipicu munculnya senator loyalis Duterte, Ronald dela Rosa atau yang dikenal sebagai Bato.

Kehadirannya mengejutkan publik karena selama beberapa waktu sebelumnya ia dilaporkan menghilang akibat diburu ICC.

Saat parlemen melakukan voting penting terkait proses pemakzulan, dela Rosa muncul untuk memberikan suara penentu.

Langkah tersebut membantu loyalis Duterte, Alan Peter Cayetano, memenangkan kursi Presiden Senat.

Posisi itu menjadi sangat strategis karena otomatis memimpin jalannya sidang pemakzulan.

Kembalinya Bato Dinilai Ubah Peta Kekuatan Senat

Sejumlah analis menilai dinamika baru di Senat berpotensi mengubah keseimbangan politik secara signifikan.

Dari total 24 senator yang bertindak sebagai juri, sebagian diketahui memiliki hubungan politik dengan keluarga Duterte.

Sementara untuk menjatuhkan vonis bersalah dibutuhkan dukungan dua pertiga suara.

Profesor administrasi publik Universitas Makati, Ederson Tapia, menilai posisi Sara Duterte kini sedikit lebih diuntungkan.

“Dengan mayoritas baru yang sekarang terbentuk berkat upaya Senator Bato, proses penuntutan terhadap Wakil Presiden Sara menjadi sedikit lebih sulit,” ujarnya.

Kemunculan Ronald dela Rosa sendiri menghadirkan drama tersendiri.

Mantan kepala kepolisian Filipina itu sempat dikabarkan berlindung di gedung Senat dengan pengamanan ketat.

Situasi memanas setelah muncul kabar bahwa aparat akan menangkapnya.

Tak lama kemudian terjadi kekacauan disertai suara tembakan sebelum dela Rosa berhasil meninggalkan lokasi.

Hingga kini keberadaannya belum diketahui.

Pemerintahan Marcos telah memastikan upaya penangkapan tetap dilakukan.

Sementara dela Rosa membantah seluruh tuduhan dan mengajukan permohonan ke Mahkamah Agung Filipina agar surat penangkapannya diblokir.

Pertarungan politik Filipina kini tidak lagi sekadar tentang pemakzulan seorang wakil presiden.

Yang sedang diperebutkan adalah masa depan kekuasaan nasional, dominasi dua dinasti besar, serta siapa yang akan menguasai Istana Malacañang pada 2028 mendatang. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Sara Duterte dimakzulkan #Pemakzulan Filipina #Sara Duterte 2028 #Ferdinand Marcos Jr #Politik Filipina