Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Trump Tolak Proposal Damai Iran dan Sebut “Sampah”, Gencatan Senjata di Selat Hormuz Terancam Runtuh

Ali Sodiqin • Rabu, 13 Mei 2026 | 14:30 WIB
Donald Trump menolak proposal damai Iran dan menyebutnya sampah. Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz kini makin memanas. (ILUSTRASI CHATGPT IMAGE)
Donald Trump menolak proposal damai Iran dan menyebutnya sampah. Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz kini makin memanas. (ILUSTRASI CHATGPT IMAGE)

RADARBANYUWANGI.ID – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menolak proposal perdamaian terbaru dari Teheran.

Trump bahkan melabeli dokumen usulan damai Iran sebagai “sampah” dan mengaku tidak tertarik membaca proposal tersebut hingga selesai. Pernyataan keras itu sekaligus mempertegas bahwa prospek perdamaian permanen antara kedua negara kini semakin menjauh.

Di tengah ketegangan soal program nuklir Iran dan konflik di Selat Hormuz, Trump menyebut status gencatan senjata saat ini berada dalam kondisi kritis.

“Sekarang sedang sekarat,” ujar Trump menggambarkan kondisi kesepakatan gencatan senjata yang rapuh.

Pernyataan itu langsung memicu perhatian internasional karena terjadi setelah kedua negara terlibat aksi saling serang di kawasan strategis Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir.

Trump Klaim AS di Ambang Kemenangan Militer Total

Berbicara dari Ruang Oval Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan memberikan ruang bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir.

Dengan nada provokatif, Trump mengejek strategi Iran dan mengklaim Washington berada di posisi unggul secara militer.

“Mereka pikir saya akan bosan atau merasa tertekan, tapi tidak ada tekanan sama sekali. Secara teori, kita sudah meraih kemenangan total dari sudut pandang militer,” kata Trump seperti dikutip dari Metro Hari Ini, Metro TV, Selasa (12/5/2026).

Trump juga mengeklaim kekuatan militer Iran mengalami degradasi besar-besaran, terutama pada sektor angkatan laut dan udara.

Menurutnya, armada laut Iran terus mengalami kerugian akibat operasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

“Dari 159 kapal yang dimiliki Iran, sekarang yang tersisa hanya kapal-kapal cepat kecil dan itu pun terus kami lumpuhkan setiap hari,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Washington tidak menunjukkan tanda-tanda akan melunak terhadap Teheran dalam waktu dekat.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas Konflik

Ketegangan terbaru antara kedua negara tidak lepas dari situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi salah satu titik paling strategis bagi distribusi minyak dunia.

Iran sebelumnya mengusulkan pembukaan jalur aman di Selat Hormuz sebagai bagian dari proposal perdamaian.

Namun usulan tersebut justru ditolak mentah-mentah oleh Trump.

Selat Hormuz selama ini menjadi pusat perhatian dunia karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dari Timur Tengah ke pasar internasional.

Setiap konflik di kawasan tersebut langsung memicu kekhawatiran global terkait pasokan energi dan stabilitas ekonomi dunia.

Iran Sebut Tuntutan AS Tidak Masuk Akal

Di sisi lain, pemerintah Iran membalas keras pernyataan Trump.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan proposal yang diajukan Teheran merupakan langkah sah dan bertanggung jawab demi menjaga stabilitas kawasan.

Menurutnya, pembukaan jalur aman di Selat Hormuz justru menjadi solusi untuk meredakan ketegangan.

“Apakah usulan kami untuk jalur aman melalui Selat Hormuz merupakan tuntutan yang berlebihan? Apakah membangun keamanan di seluruh wilayah, termasuk Lebanon, merupakan tuntutan yang tidak bertanggung jawab?” tegas Baghaei.

Iran juga menuduh Amerika Serikat selama ini kerap mengajukan tuntutan yang tidak realistis dalam berbagai negosiasi.

Meski demikian, Teheran mengklaim masih membuka ruang diplomasi selama dilakukan dengan penghormatan terhadap kedaulatan Iran.

Prospek Perdamaian Makin Tipis

Situasi terbaru membuat harapan tercapainya kesepakatan damai permanen antara AS dan Iran semakin menipis.

Hubungan kedua negara memang terus memburuk dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait program nuklir Iran, embargo ekonomi, hingga konflik keamanan di Timur Tengah.

Ketegangan yang meningkat di Selat Hormuz juga memperbesar risiko eskalasi militer lebih luas di kawasan.

Sejumlah pengamat internasional menilai perang terbuka mungkin belum menjadi pilihan utama kedua negara. Namun retorika keras yang terus dipertontonkan kedua pihak berpotensi memperburuk situasi diplomatik.

Di tengah konflik yang terus memanas, dunia kini menanti apakah Washington dan Teheran masih memiliki ruang kompromi atau justru bergerak menuju konfrontasi yang lebih besar. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#proposal damai Iran #selat hormuz #iran #donald trump #konflik AS Iran