RADARBANYUWANGI.ID - Wabah penyakit menular kembali menghantam kapal pesiar dunia. Namun kali ini penyebabnya bukan norovirus ataupun Covid-19, melainkan hantavirus Andes yang tergolong langka dan mematikan. Kasus tersebut terjadi di kapal ekspedisi kutub Belanda M.V. Hondius yang tengah berlayar dari Argentina menuju Kepulauan Canary.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 6 Mei 2026 mengonfirmasi bahwa virus yang terlibat dalam klaster tersebut adalah virus Andes, salah satu strain hantavirus Dunia Baru yang dikenal dapat menular antar manusia.
Hingga kini, sedikitnya delapan kasus telah teridentifikasi. Tiga di antaranya meninggal dunia, satu pasien dalam kondisi kritis, tiga lainnya mengalami gejala ringan, serta satu kasus tambahan ditemukan di Swiss setelah pasien diketahui melakukan perjalanan menggunakan kapal tersebut.
Baca Juga: NASA Rombak Science Discovery Engine, Pencarian Data Sains Kini Lebih Cepat dan Hemat Biaya
Situasi di atas kapal menjadi perhatian serius otoritas kesehatan internasional. M.V. Hondius bahkan masih tertahan setelah ditolak berlabuh di Cape Verde. Penumpang yang tersisa diminta tetap berada di kabin masing-masing guna mencegah penularan lebih lanjut.
Steven Bradfute, imunolog sekaligus peneliti hantavirus dari University of New Mexico Health Sciences Center, menyebut wabah tersebut sebagai kejadian yang tidak lazim.
“Kasus hantavirus baru-baru ini di M.V. Hondius jelas merupakan kejutan,” katanya.
Baca Juga: RSUD Blambangan Pemeriksaan Mata Lebih Cepat dan Akurat dengan US-4000 Echoscan
Menurut Bradfute, wabah penyakit di kapal pesiar memang bukan hal baru. Infeksi saluran cerna seperti norovirus dan E. coli lebih sering ditemukan. Sementara infeksi pernapasan sempat menjadi sorotan global saat pandemi Covid-19 membuat kapal Grand Princess terdampar di lepas pantai California.
Namun, wabah hantavirus di kapal pesiar hampir belum pernah terdengar sebelumnya.
Mayoritas pasien dalam kasus ini mengalami gejala antara 6 hingga 28 April. Gejalanya diawali demam dan gangguan pencernaan sebelum berkembang cepat menjadi pneumonia berat. Pada beberapa pasien, kondisi tersebut memicu kolaps kardiovaskular.
Hantavirus merupakan kelompok virus dari keluarga Hantaviridae yang dibawa hewan pengerat. Tikus dan hewan pengerat lain dapat membawa virus tanpa mengalami sakit, lalu menyebarkannya melalui urine, air liur, dan kotoran.
Manusia dapat tertular ketika partikel virus dari sekresi tersebut terhirup, terutama saat membersihkan area tertutup, gudang, lahan pertanian, atau ruang yang terkontaminasi sarang tikus. Penularan juga dapat terjadi melalui makanan yang tercemar atau tangan yang menyentuh benda terkontaminasi lalu mengenai mulut, hidung, maupun mata.
Secara umum, hantavirus terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni hantavirus Dunia Lama yang banyak ditemukan di Eropa dan Asia, serta hantavirus Dunia Baru yang dominan di kawasan Amerika.
Strain Dunia Lama umumnya menyerang ginjal dan memicu gangguan perdarahan. Sementara strain Dunia Baru lebih sering menyebabkan gangguan paru-paru berat akibat penumpukan cairan atau edema paru.
Baca Juga: Motor Ditabrak Granmax di Srono, Lansia Asal Parijatah Wetan Meninggal di RSUD Genteng
Tingkat kematiannya pun cukup tinggi. Di Asia dan Eropa, sekitar 1 hingga 15 persen kasus berujung fatal. Sedangkan di kawasan Amerika, hampir separuh kasus hantavirus dapat menyebabkan kematian.
Sebagian besar hantavirus diketahui tidak menular antar manusia. Akan tetapi, virus Andes menjadi pengecualian penting.
Virus ini banyak ditemukan di Argentina, Chili, dan Uruguay. Para ilmuwan masih meneliti alasan mengapa strain tersebut mampu berpindah dari satu manusia ke manusia lain.
Baca Juga: RS Al Huda Waspada Gangguan Autoimun, Banyak Menyerang Kaum Hawa
Bradfute menjelaskan bahwa penularan virus Andes tidak seefisien campak ataupun Covid-19 yang dapat bertahan di udara dalam waktu tertentu.
“Ketika ada orang yang tidur di ranjang yang sama, atau pasangan seks, atau orang yang berbagi makanan, virus dapat menular dengan cara itu. Tetapi virus tidak menular ke kelompok besar individu,” jelasnya.
Salah satu contoh terbesar terjadi pada wabah di Argentina tahun 2018–2019. Saat itu, satu orang yang tertular dari hewan pengerat kemudian memicu rantai penularan dalam sejumlah acara sosial. Total terdapat 34 infeksi dan 11 kematian.
Meski demikian, WHO menilai risiko bagi masyarakat umum masih rendah. Kepala kesiapan epidemi dan pandemi WHO, Maria van Kerkhove, menyebut penyebaran virus Andes antar manusia tetap tergolong tidak efisien.
Bradfute juga menegaskan bahwa hantavirus sebenarnya cukup buruk dalam menular, meskipun dampaknya sangat berbahaya.
“Virus ini menular dengan cukup buruk, jadi meskipun merupakan virus berbahaya, virus ini tidak terlalu tersebar luas,” ujarnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi