RADARBANYUWANGI.ID - Pemerintah Inggris menghadapi tekanan baru untuk melarang penggunaan glyphosate sebagai bahan pengering tanaman menjelang panen. Aktivis lingkungan dan pangan menilai praktik tersebut berisiko meninggalkan residu kimia pada makanan seperti roti, sereal sarapan, hingga bir.
Desakan itu muncul menjelang konsultasi publik yang akan digelar Health and Safety Executive (HSE) Inggris pada musim panas tahun ini. Konsultasi tersebut akan menentukan apakah izin penggunaan glyphosate diperpanjang setelah masa berlaku lisensinya berakhir pada Desember 2026.
Organisasi pertanian organik Soil Association resmi meluncurkan kampanye penghentian penggunaan glyphosate sebagai desiccant atau agen pengering pra-panen di Inggris. Uni Eropa sendiri telah melarang praktik tersebut sejak 2023, meski glyphosate masih diizinkan untuk penggunaan lain.
Baca Juga: NASA Selangkah Lagi Selamatkan Swift Observatory, Wahana Robotik LINK Rampungkan Uji Lingkungan
Pendiri Riverford Organic Farmers, Guy Singh-Watson, menegaskan kampanye itu bukan bertujuan melarang total glyphosate di Inggris. Namun, ia meminta pemerintah menghentikan praktik penyemprotan bahan kimia itu beberapa hari sebelum panen.
“Kami ingin menghentikan praktik menyemprot glyphosate ke tanaman hanya beberapa hari sebelum dipanen, dengan kesadaran penuh bahwa jejak bahan kimia itu akan masuk ke roti, sereal sarapan, dan bir,” ujarnya kepada BBC Radio 4 Today Programme.
Singh-Watson menyebut penggunaan glyphosate sebagai pengering tanaman merupakan praktik yang relatif baru. Menurut dia, klaim bahwa bahan tersebut mutlak diperlukan dalam budidaya gandum tidak sepenuhnya benar.
Di sisi lain, petani dan industri pertanian menilai glyphosate masih menjadi alat penting untuk menjaga produktivitas lahan. Dave Bell, Ketua Voluntary Initiative for the Use of Plant Protection, mengatakan dirinya bergantung pada herbisida tersebut untuk menjaga kesehatan tanah dan mengurangi penggunaan bahan bakar.
“Jika saya tidak menggunakan glyphosate untuk mematangkan tanaman sebelum panen, saya harus membakar lebih banyak diesel untuk mengeringkan hasil panen,” katanya.
National Farmers Union (NFU) juga mendukung kelanjutan penggunaan glyphosate, termasuk sebagai pengering pra-panen. Wakil Presiden NFU Paul Tompkins menyebut bahan tersebut sebagai “alat penting bagi petani dan produsen pangan”.
Menurutnya, glyphosate membantu mempermudah panen, mengendalikan gulma, menekan penyakit tanaman, sekaligus menjaga pasokan pangan tetap terjangkau.
Perdebatan mengenai keamanan glyphosate sendiri telah berlangsung lama. Badan Riset Kanker Internasional (IARC) di bawah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2015 mengategorikan glyphosate sebagai “kemungkinan bersifat karsinogenik bagi manusia”.
Namun, sejumlah regulator lain membantah temuan tersebut. Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat menyatakan glyphosate kemungkinan kecil menyebabkan kanker pada manusia. Pada 2022, European Chemicals Agency (ECHA) juga menyebut tidak ada dasar kuat untuk mengklasifikasikan glyphosate sebagai zat karsinogenik.
Meski demikian, kelompok ilmuwan internasional yang meninjau berbagai riset terbaru pada Maret tahun ini menyatakan glyphosate dan herbisida berbasis glyphosate dapat membahayakan kesehatan manusia dan memicu kanker.
Profesor riset kanker dari Boston College, Kurt Straif, mengatakan bukti dampak kesehatan glyphosate kini semakin kuat sehingga penundaan regulasi baru dinilai tidak lagi dapat dibenarkan.
Pemerintah Inggris menegaskan glyphosate tetap berada di bawah pengawasan ketat. Juru bicara pemerintah menyatakan semua pestisida hanya akan disetujui apabila terbukti aman bagi manusia, hewan, dan lingkungan.
Selain itu, pemerintah juga mendorong petani mengurangi penggunaan pestisida melalui pendekatan integrated pest management atau sistem pengendalian hama terpadu yang lebih berkelanjutan.
Editor : Lugas Rumpakaadi