RADARBANYUWANGI.ID - Arab Saudi terus mempercepat transformasi sektor pertanian untuk memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tantangan iklim ekstrem, keterbatasan air tawar, dan tingginya kadar garam tanah. Melalui kombinasi teknologi, pertanian presisi, dan inovasi skala besar, kawasan gurun kini disulap menjadi pusat produksi pangan modern.
Perubahan paling mencolok terlihat di Wadi Al-Dawasir. Wilayah yang sebelumnya didominasi hamparan gurun tandus itu kini berkembang menjadi sentra produksi kentang berskala besar yang memasok hampir separuh kebutuhan kentang nasional Arab Saudi.
Transformasi tersebut didorong penggunaan sistem irigasi modern, pengelolaan berbasis data, hingga kolaborasi erat antara pemerintah dan sektor swasta. Dalam kunjungan pertanian bersama pimpinan PepsiCo Agro, terlihat bagaimana lahan gurun berhasil diubah menjadi area pertanian berproduktivitas tinggi dengan standar global.
Presiden dan General Manager PepsiCo MENAPAK Foods Ahmed Al-Sheikh menegaskan efisiensi penggunaan air menjadi kunci utama keberlanjutan pertanian di Arab Saudi.
“Efisiensi air bukan hanya soal menekan biaya, tetapi memastikan keberlanjutan jangka panjang di negara dengan keterbatasan air seperti Arab Saudi,” ujarnya, dikutip Arab News.
Ia menambahkan, perusahaan berhasil memangkas penggunaan air hingga 40 persen melalui optimalisasi di area pertanian maupun fasilitas produksi.
Baca Juga: Messi Ukir Rekor Baru MLS, Inter Miami Tumbangkan Toronto FC 4-2
“Kami sangat bangga berhasil mengurangi penggunaan air hingga 40 persen. Pengurangan dilakukan di pabrik dan di lahan pertanian, keduanya menjadi komitmen kami,” katanya.
Menurut Al-Sheikh, tingkat kandungan lokal industri pertanian Saudi juga terus meningkat. Seluruh kentang yang diproduksi perusahaan berasal dari petani lokal dan dikelola tenaga kerja domestik.
“Seratus persen kentang kami berasal dari Saudi dan dikerjakan oleh tangan-tangan Saudi,” tegasnya.
Salah satu teknologi utama yang menopang keberhasilan tersebut adalah irigasi tetes. Sistem ini memungkinkan distribusi air langsung ke akar tanaman sehingga mengurangi penguapan dan meningkatkan efisiensi penggunaan air tanah yang terbatas.
Model pertanian tersebut kini diproyeksikan diperluas ke wilayah lain seperti Hail dan dinilai dapat menjadi cetak biru pertanian berkelanjutan nasional.
Di perusahaan Saudi Agricultural Development Co. (INMA), teknologi irigasi tetes telah terintegrasi dengan ekosistem pertanian pintar. Perusahaan memanfaatkan pemantauan satelit, mesin berbasis GPS, drone, sistem irigasi otomatis, hingga pengukur air digital untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menghemat sumber daya.
Inovasi juga dilakukan pada rantai pendingin penyimpanan hasil panen. LEHA Group mengoperasikan lebih dari 10 unit penyimpanan berteknologi tinggi yang mampu menjaga kualitas kentang hingga 10 bulan melalui pengaturan suhu dan kelembapan secara presisi.
Direktur LEHA Group Hamoud Al-Saleh bahkan pernah menerima penghargaan “Potato Man of the Year” di Belanda pada 2017 atas kontribusinya terhadap industri kentang global.
Sementara itu, Arab Saudi juga mulai membangun kapasitas produksi benih kentang domestik melalui proyek BEED. Pakar pertanian proyek tersebut, Mohammed Al-Saleh, menyebut produksi tahap awal telah mencapai 3.000 hingga 4.000 ton.
Dengan kebutuhan benih kentang nasional sekitar 40.000 ton per tahun, produksi lokal diperkirakan mampu memenuhi seluruh kebutuhan dalam dua hingga tiga tahun mendatang sekaligus membuka peluang ekspor.
Di sisi lain, kalangan akademisi menilai transformasi pertanian Saudi tidak lepas dari peran riset ilmiah dan teknologi digital. Ketua Center of Excellence for Sustainable Food Security KAUST, Prof. Mark Tester, menyebut pendekatan pertanian kini bergeser dari model intensif sumber daya menuju sistem berbasis ketahanan iklim.
“Riset memungkinkan kami mengembangkan tanaman dan sistem yang tetap produktif di tengah panas dan salinitas tinggi. Ini menjadi kunci keberlanjutan jangka panjang,” jelasnya.
Ia menyoroti penggunaan genomik, kecerdasan buatan (AI), pertanian digital, hingga teknologi digital twins yang mampu mensimulasikan performa tanaman sebelum masa tanam dimulai.
Tester optimistis masa depan pertanian Arab Saudi akan mengarah pada konsep regenerative desert farming, yakni pertanian gurun berbasis teknologi yang tidak hanya mempertahankan produksi pangan, tetapi juga memperbaiki kualitas tanah marginal secara bertahap.
Editor : Lugas Rumpakaadi