RADARBANYUWANGI.ID - Pemerintah Malaysia mengambil langkah darurat dengan menyiapkan operasi hujan buatan atau cloud seeding untuk mengatasi kekeringan yang melanda wilayah utara negara tersebut. Kawasan yang dikenal sebagai “lumbung padi” Malaysia mengalami keterlambatan musim tanam akibat minimnya curah hujan dan menyusutnya cadangan air waduk.
Menteri Pertanian dan Ketahanan Pangan Malaysia Mohamad Sabu mengatakan kondisi cuaca tahun ini jauh lebih berat dibanding musim sebelumnya. Cuaca panas berkepanjangan membuat sebagian besar petani gagal menjalankan dua dari tiga fase tanam padi metode wet direct seeding yang membutuhkan genangan air di sawah.
“Tahun ini terdampak cuaca kering berkepanjangan, curah hujan rendah, dan penurunan level air waduk,” ujar Mohamad Sabu kepada AFP, dikutip VN Express.
Metode tanam alternatif berupa dry direct seeding sebenarnya masih memungkinkan dilakukan hingga Juni. Namun, banyak petani menilai cara tersebut menghasilkan panen lebih rendah. Di sejumlah area, hujan yang turun tidak merata justru membuat kondisi lahan semakin sulit ditanami.
Lebih dari separuh lahan sawah di wilayah terdampak dilaporkan sudah dipersiapkan. Namun, hanya sebagian kecil yang benar-benar ditanami sambil menunggu hujan turun.
Mohamad menegaskan musim tanam belum dibatalkan. Pemerintah, kata dia, tengah menjalankan berbagai langkah mitigasi sementara agar produksi beras nasional tetap terjaga.
Baca Juga: Messi Ukir Rekor Baru MLS, Inter Miami Tumbangkan Toronto FC 4-2
Wilayah Kedah menjadi daerah paling terdampak. Kawasan ini merupakan produsen padi terbesar di Malaysia sekaligus penyokong utama kebutuhan beras nasional. Laporan lokal menyebut cadangan air di waduk utama wilayah Muda Agricultural Development Authority kini tinggal sekitar 8 persen.
“Wilayah ini sangat strategis bagi ketahanan pangan Malaysia,” kata Mohamad.
Di tengah sawah-sawah yang mengering, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pekan ini mengumumkan rencana operasi hujan buatan. Teknologi tersebut dilakukan dengan menyemprotkan partikel seperti garam dan perak iodida ke awan menggunakan pesawat untuk memicu hujan.
Teknik ini telah lama digunakan di berbagai negara untuk memengaruhi pola cuaca maupun mengurangi polusi udara. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada kondisi atmosfer. Tanpa keberadaan awan yang memadai, operasi hujan buatan tidak akan efektif.
Sejauh ini pemerintah belum mengumumkan jadwal pasti pelaksanaan operasi tersebut.
Petani setempat mulai merasakan tekanan ekonomi akibat kekeringan yang berkepanjangan. Abdul Rashid Yob, petani padi di Kedah yang mengelola sawah seluas tiga hektare, mengaku kondisi semakin berat karena kenaikan biaya bahan bakar.
“Bahkan ketika air tersedia, banyak petani tidak mampu melanjutkan tanam karena biaya yang tinggi,” ujarnya.
Pemerintah Malaysia telah menyiapkan sejumlah program bantuan untuk menekan biaya produksi, termasuk subsidi bahan bakar dan perluasan bantuan yang sudah ada sebelumnya.
Namun, sebagian petani menilai bantuan tersebut sering terlambat cair. Fitri Amit, petani padi skala kecil di Perak, mengatakan petani lebih membutuhkan kepastian harga gabah dibanding bantuan sementara.
“Petani lebih memilih dukungan diberikan melalui kenaikan harga gabah,” katanya.
“Jika harga gabah dijamin, setelah menjual hasil panen mereka langsung mendapat uang,” imbuhnya.
Meski wilayah Perak berada di selatan Kedah dan tidak termasuk area terparah, Fitri mengaku tetap kesulitan mendapatkan pasokan air irigasi.
“Irigasi dihentikan karena level waduk rendah,” ujarnya.
Krisis ini muncul di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap kemungkinan kembalinya fenomena cuaca El Nino di Asia. Fenomena tersebut berpotensi memicu perubahan pola angin, tekanan udara, dan curah hujan secara global.
Sejumlah prakiraan cuaca menyebut El Nino dapat berkembang mulai Mei hingga Juli tahun ini dan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa tahun terakhir. Asia termasuk kawasan yang paling rentan terdampak, terutama melalui gelombang panas dan kekeringan panjang di sejumlah wilayah.
Editor : Lugas Rumpakaadi