RADARBANYUWANGI.ID - Konflik yang melibatkan Iran mulai menimbulkan efek domino terhadap sektor pertanian di kawasan Asia. Lonjakan harga bahan bakar dan pupuk memaksa banyak petani mengurangi masa tanam, bahkan membiarkan sebagian lahan tidak digarap karena biaya produksi dinilai tidak lagi sebanding dengan potensi pendapatan panen.
Laporan The Washington Post pada Sabtu (9/5/2026) menyebut tekanan rantai pasok di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz membuat akses terhadap pupuk serta bahan bakar menjadi semakin terbatas. Situasi itu terjadi saat sejumlah negara Asia memasuki periode penting penanaman.
Negara-negara yang terdampak antara lain Thailand, Filipina, Bangladesh, dan Australia. Para petani di negara tersebut mulai mengurangi penggunaan pupuk, menunda penanaman, hingga memangkas luas lahan budidaya untuk menekan kerugian.
Salah satu komoditas yang paling terdampak adalah pupuk urea. Pupuk berbasis nitrogen tersebut selama ini menjadi komponen utama untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Namun, sebagian besar pasokan urea global disebut praktis keluar dari pasar sehingga harga di pasar spot melonjak tajam sejak Februari lalu.
Di Thailand, tekanan biaya produksi semakin terasa bagi petani padi. Seorang petani yang dikutip dalam laporan menyebut biaya tanam dan panen mencapai sekitar USD 33 ribu, sementara nilai penjualan hasil panen diperkirakan hanya sekitar USD 22 ribu.
“Biaya yang kami keluarkan jauh lebih besar dibanding hasil yang akan diperoleh,” keluh petani tersebut, dikutip The Jerusalem Post.
Baca Juga: Messi Ukir Rekor Baru MLS, Inter Miami Tumbangkan Toronto FC 4-2
Kondisi itu diperburuk oleh melemahnya permintaan ekspor. Negara-negara Timur Tengah sebelumnya menjadi salah satu pasar utama ekspor beras Thailand sepanjang 2025. Namun, pengiriman ke kawasan Teluk terhenti sejak konflik berlangsung sehingga memicu kelebihan pasokan di dalam negeri dan menekan harga beras.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) juga memperingatkan dampak krisis dapat semakin meluas dalam beberapa bulan ke depan. Kekhawatiran muncul ketika India dan Brasil, dua produsen pertanian besar dunia, mulai meningkatkan kebutuhan pupuk pada Juni mendatang.
Tanpa pengiriman pupuk yang tepat waktu, sejumlah negara diperkirakan menghadapi penurunan hasil panen serta kenaikan harga komoditas pangan global.
Pemerintah Thailand menyatakan cadangan pupuk nasional masih mencukupi untuk musim tanam. Namun, sejumlah toko pupuk di wilayah tengah Thailand mengaku stok urea telah kosong selama berminggu-minggu. Upaya mencari pasokan alternatif dari Rusia juga diperkirakan menghadapi kendala waktu pengiriman yang panjang.
Di sisi lain, banyak petani Thailand sebenarnya sudah bergantung pada pinjaman sebelum konflik terjadi. Kenaikan harga pupuk dan bahan bakar, disertai penurunan pendapatan hasil panen, dikhawatirkan akan memperdalam jeratan utang petani.
Perwakilan sektor pertanian menilai situasi tersebut berada di luar kendali petani. Meski demikian, mereka tetap mendorong para petani untuk bertahan menghadapi musim tanam di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.
“Petani tidak punya banyak pilihan selain terus menanam sambil berharap situasi segera membaik,” ujar salah satu perwakilan petani dalam laporan tersebut.
Editor : Lugas Rumpakaadi