RADARBANYUWANGI.ID - Krisis kekeringan meluas di Amerika Serikat memasuki titik yang mengkhawatirkan. Pada April 2026, lebih dari 60 persen wilayah daratan di 48 negara bagian utama mengalami kekeringan moderat hingga ekstrem. Kondisi itu tercatat sebagai kekeringan musim semi terburuk dalam sejarah modern negara tersebut.
Wilayah tenggara menjadi area paling terdampak. Data U.S. Drought Monitor menunjukkan hampir seluruh kawasan tenggara Amerika Serikat mengalami kekeringan pada puncaknya bulan lalu. Bahkan, lebih dari 80 persen wilayah berada dalam kategori kekeringan parah hingga luar biasa.
Kondisi kering tersebut sebenarnya telah berkembang sejak akhir tahun lalu. Negara bagian Georgia, North Carolina, dan South Carolina mencatat periode terkering sepanjang sejarah pencatatan cuaca sejak 1895, terutama dalam rentang September 2025 hingga Maret 2026.
Baca Juga: Messi Ukir Rekor Baru MLS, Inter Miami Tumbangkan Toronto FC 4-2
Meski hujan deras sempat turun di kawasan Selatan dan Texas pekan lalu, dampaknya belum signifikan. U.S. Drought Monitor menyebut kelembapan tanah dan debit aliran sungai di Alabama tenggara, Georgia, serta Florida barat laut masih berada pada tingkat sangat rendah.
Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) juga menemukan bahwa periode Januari hingga Maret 2026 menjadi awal tahun terkering yang pernah tercatat di wilayah kontinental AS. Curah hujan nasional hanya mencapai kurang dari 70 persen dari rata-rata normal.
Situasi tersebut mulai menghantam sektor pertanian. Para petani gandum di Kansas hingga petani sayuran di Georgia menghadapi penurunan hasil panen akibat minimnya pasokan air.
Petani Virginia, Billy Bain, mengaku belum pernah menghadapi kondisi seburuk tahun ini sepanjang 58 tahun kariernya bertani.
“Kami terpaksa menghentikan penanaman karena tanah terlalu kering,” ujar Bain, dikutip TIME.
“Biaya operasional juga meningkat akibat krisis bahan bakar setelah perang Iran. Harga solar untuk pertanian mencapai USD 4 per galon dan lebih dari USD 5 untuk penggunaan jalan raya.”
Tekanan terhadap petani semakin berat karena biaya pupuk meningkat tajam dan ketidakpastian perdagangan akibat tarif impor. Di sisi lain, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan luas lahan gandum tahun ini menjadi yang terendah sejak 1919.
Direktur Kebijakan Senior Program Iklim dan Energi Union of Concerned Scientists, Rachel Cleetus, menilai perubahan iklim telah mengubah pola pertanian secara mendasar di Amerika Serikat.
“Perubahan iklim sedang mengubah kondisi pertanian AS secara fundamental dan menciptakan risiko serta ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi petani dan peternak,” tulis Cleetus.
Ia memperingatkan bahwa kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga pangan bagi konsumen dalam beberapa bulan mendatang.
Tidak hanya mengganggu pertanian, cuaca kering juga memperparah kebakaran hutan di berbagai wilayah. Di Florida, kebakaran bahkan meluas hingga kawasan rawa Everglades yang selama ini dikenal basah. Sepanjang tahun ini, sekitar 120 ribu acre lahan di Florida telah terbakar.
NASA menyebut kekeringan saat ini menjadi yang paling luas dan paling parah melanda Florida sejak 2012.
Komisaris Pertanian Florida, Wilton Simpson, mengatakan negara bagian itu sedang menghadapi salah satu musim kebakaran terburuk dalam beberapa dekade terakhir.
Baca Juga: Pecah Tangis Bahagia! Al Ghazali dan Alyssa Daguise Resmi Sambut Putri Pertama, Namanya Jadi Sorotan
“Florida mengalami salah satu musim kebakaran terburuk dalam 30 hingga 40 tahun terakhir, atau setidaknya sedang menuju ke arah itu,” kata Simpson.
Di Georgia, Gubernur Brian Kemp bahkan menetapkan status darurat di 91 county pada akhir April setelah kebakaran hutan menyebar di wilayah tenggara negara bagian tersebut. Garda Nasional dikerahkan untuk membantu penanganan di area terdampak.
Meski demikian, Georgia Forestry Commission mencatat perkembangan positif pada 7 Mei lalu. Untuk pertama kalinya sejak Desember 2025, tidak ada laporan kebakaran baru di negara bagian itu.
Editor : Lugas Rumpakaadi