Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Arab Saudi dan Kuwait Cabut Pembatasan Militer AS, Operasi Selat Hormuz Siap Dilanjutkan

Ali Sodiqin • Sabtu, 9 Mei 2026 | 18:00 WIB
Ilustrasi blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz. (Gemini AI)
Ilustrasi blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz. (Gemini AI)

RADARBANYUWANGI.ID – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki fase krusial. Arab Saudi dan Kuwait dilaporkan resmi mencabut pembatasan akses terhadap militer Amerika Serikat di pangkalan militer dan wilayah udara mereka.

Keputusan tersebut menjadi sinyal penting di tengah upaya Washington mengamankan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz yang sempat lumpuh akibat perang Timur Tengah sejak akhir Februari 2026.

Langkah Riyadh dan Kuwait City itu sekaligus membuka jalan bagi pemerintahan Presiden Donald Trump untuk kembali mengaktifkan operasi pengawalan kapal komersial di kawasan Teluk.

Pembatasan Dicabut Setelah Operasi Militer AS

Pembatasan akses sebelumnya diberlakukan oleh pemerintah Saudi dan Kuwait setelah militer AS meluncurkan operasi untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Jalur perairan tersebut menjadi pusat ketegangan global setelah konflik besar antara AS, Israel, dan Iran pecah pada akhir Februari lalu.

Aktivitas pelayaran internasional di Selat Hormuz praktis lumpuh setelah Iran membatasi lalu lintas kapal sebagai respons atas serangan militer besar-besaran yang dilancarkan AS dan Israel.

Dalam situasi tersebut, Washington kemudian mengaktifkan operasi laut dan udara guna mengawal kapal-kapal komersial yang melintasi kawasan strategis tersebut.

Namun, operasi itu sempat terkendala karena beberapa negara Teluk membatasi akses militer AS ke pangkalan dan wilayah udara mereka demi menghindari eskalasi konflik lebih luas.

Trump Siapkan Pengawalan Kapal Komersial

Laporan media AS menyebut pemerintahan Donald Trump kini tengah bersiap melanjutkan operasi pengawalan kapal komersial di Selat Hormuz.

Dengan dukungan Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS, operasi tersebut bertujuan menjaga kelancaran distribusi energi global dan mengamankan jalur perdagangan internasional.

Sumber pejabat AS dan Saudi yang dikutip media internasional menyebut Pentagon saat ini sedang mengevaluasi jadwal terbaru untuk memulai kembali operasi militer tersebut.

Beberapa pejabat Washington bahkan mengindikasikan aktivitas pengawalan kapal dapat dimulai kembali dalam pekan ini.

Sebelumnya, misi pengawalan itu sempat dihentikan sementara pada awal pekan setelah berlangsung sekitar 36 jam.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Sebagian besar distribusi minyak global melewati kawasan tersebut sehingga konflik di Selat Hormuz langsung berdampak pada stabilitas ekonomi internasional dan harga energi dunia.

Ketegangan meningkat tajam sejak AS dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Teheran kemudian membalas melalui gelombang serangan rudal dan drone yang menyasar Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi basis aset militer AS, termasuk Saudi dan Kuwait.

Situasi tersebut memicu gangguan besar terhadap aktivitas perdagangan dan pelayaran internasional di kawasan Teluk.

Blokade Laut AS Masih Berlaku

Sebagai respons atas penutupan jalur pelayaran, AS memberlakukan blokade laut terhadap lalu lintas maritim Iran di sekitar Selat Hormuz sejak pertengahan April lalu.

Meski demikian, pemerintahan Trump sempat menghentikan sementara misi militer bertajuk Project Freedom pada Selasa (5/5).

Trump menyebut penghentian tersebut bersifat sementara, sementara blokade laut terhadap Iran tetap diberlakukan penuh.

“Blokade laut tetap berlaku sepenuhnya,” demikian penegasan Trump dalam pernyataannya.

Gencatan Senjata Masih Rapuh

Di sisi lain, situasi keamanan Timur Tengah masih jauh dari stabil.

Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan sejak 8 April lalu dinilai sangat rapuh dan belum menghasilkan perdamaian permanen.

Perundingan damai yang berlangsung di Islamabad gagal mencapai kesepakatan jangka panjang antara pihak-pihak yang bertikai.

Meski begitu, Trump memutuskan memperpanjang status gencatan senjata tanpa batas waktu yang jelas.

Keputusan Arab Saudi dan Kuwait membuka kembali akses militer AS diperkirakan akan semakin memperkuat kehadiran Washington di kawasan Teluk sekaligus meningkatkan tensi geopolitik dengan Iran dalam waktu dekat. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#selat hormuz #kuwait #Arab Saudi #donald trump #militer as