Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Trump Murka Disebut AS Kalah dari Iran, Sebut Kritik sebagai Pengkhianatan

Ali Sodiqin • Minggu, 3 Mei 2026 | 21:12 WIB
Donald Trump menyatakan AS telah capai semua tujuan militer di Iran. (JawaPos.com)
Donald Trump menyatakan AS telah menang di Iran. Sebut pengkritik AS kalah sebagai penghiatan. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluapkan kemarahannya terhadap narasi yang menyebut Negeri Paman Sam kalah dalam konflik melawan Iran. Ia bahkan menyebut pihak-pihak yang menggaungkan opini tersebut sebagai “pengkhianat”.

Pernyataan keras itu disampaikan Trump dalam pidatonya di Florida, menyusul klaim kemenangan yang sebelumnya dilontarkan oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

“Kita mendapat pernyataan dari kelompok kiri radikal, ‘kita tidak menang’. Mereka tidak punya kekuatan militer lagi. Itu pengkhianatan,” tegas Trump, seperti dilaporkan CNN, Sabtu (2/5/2026).


Iran Klaim AS Alami Kekalahan Memalukan

Ketegangan meningkat setelah Khamenei menyatakan bahwa Amerika Serikat mengalami kekalahan memalukan dalam agresinya terhadap Iran. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato resmi yang disiarkan televisi pemerintah Iran dalam rangka peringatan Hari Teluk Persia.

“Hari ini, dua bulan setelah agresi terbesar, babak baru dimulai untuk kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz,” ujar Khamenei.

Ia juga menyoroti lemahnya posisi pangkalan militer AS di kawasan, yang menurutnya tidak mampu menjamin keamanan bahkan bagi dirinya sendiri.


Konflik Berawal dari Serangan Besar

Mojtaba Khamenei naik sebagai pemimpin tertinggi Iran setelah serangan besar-besaran yang dilancarkan AS dan sekutunya pada akhir Februari lalu. Serangan tersebut menewaskan pemimpin sebelumnya, Ali Khamenei.

Sejak saat itu, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah meningkat tajam, terutama terkait kontrol terhadap Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi global.

Iran bahkan disebut membatasi lalu lintas kapal di wilayah tersebut, memicu kekhawatiran pasar energi internasional.


Trump: Perang Belum Selesai

Meski menolak klaim kekalahan, Trump juga menyatakan bahwa konflik dengan Iran belum sepenuhnya berakhir. Ia mengaku tidak ingin terlalu cepat mengklaim kemenangan.

“Kita hampir sama baiknya di Iran. Tapi saya tidak suka membicarakannya sampai pekerjaan selesai,” ujarnya.

Trump sebelumnya berulang kali mengklaim bahwa militer AS telah melumpuhkan kekuatan laut Iran dan berhasil melakukan blokade strategis terhadap jalur perdagangan Iran.


Selat Hormuz Jadi Titik Panas Dunia

Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian global. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia, sehingga setiap eskalasi konflik berpotensi memicu dampak ekonomi global.

Iran menyebut telah mengembangkan kerangka pengelolaan baru di kawasan tersebut, yang diklaim mampu membawa stabilitas regional. Namun, klaim ini berseberangan dengan pandangan AS dan sekutunya.


Narasi Kemenangan Jadi Perang Baru

Pernyataan saling klaim kemenangan antara AS dan Iran menunjukkan bahwa konflik kini tidak hanya terjadi di medan militer, tetapi juga dalam perang narasi di tingkat global.

Di satu sisi, Iran menegaskan keberhasilan mempertahankan kedaulatan dan pengaruhnya di kawasan. Di sisi lain, Trump tetap bersikukuh bahwa AS berada di jalur kemenangan.

Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik geopolitik modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh persepsi publik dan opini internasional.

Dengan ketegangan yang belum mereda, dunia kini menanti arah baru konflik AS-Iran yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan dan ekonomi global. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Trump Iran #AS kalah Iran #konflik Selat Hormuz #Mojtaba Khamenei #Geopolitik Timur Tengah