RADARBANYUWANGI.ID - Upaya Pentagon meredam dampak perang dengan Iran mulai retak. Di tengah pengakuan terbatas Washington, bukti kerusakan besar pada fasilitas militer Amerika di kawasan Teluk terus bermunculan—mengungkap potensi skala kehancuran yang jauh lebih luas dari narasi resmi.
Sedikitnya 16 pangkalan militer Amerika dilaporkan terkena serangan dalam konflik yang meletus usai operasi militer AS bertajuk Operasi Epic Fury pada 28 Februari. Namun, di balik data resmi, muncul tudingan bahwa pemerintah AS berusaha keras menutup-nutupi tingkat kerusakan sebenarnya.
Biaya Membengkak, Data Pentagon Dipertanyakan
Dalam laporan ke Kongres, pejabat senior Pentagon, Jules Hurst, menyebut konflik ini menelan biaya sekitar USD25 miliar. Namun angka tersebut langsung menuai kritik.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth menolak merinci apakah biaya tersebut termasuk perbaikan pangkalan yang rusak. Legislator menilai estimasi itu tidak realistis.
Sebagai perbandingan, laporan awal Pentagon mencatat biaya USD11 miliar hanya dalam enam hari pertama konflik. Investigasi media seperti CNN bahkan memperkirakan total biaya bisa melonjak hingga USD40–50 miliar jika kerusakan fasilitas diperhitungkan.
Serangan balasan Iran disebut menghantam gudang amunisi, hanggar pesawat, sistem radar, hingga landasan pacu di delapan negara kawasan Timur Tengah.
Sensor Satelit: Upaya Menutup Jejak?
Indikasi penutupan informasi juga terlihat dari pembatasan citra satelit. Perusahaan teknologi Planet Labs menunda rilis gambar hingga 14 hari, dengan alasan mencegah penyalahgunaan oleh pihak musuh.
Laporan Bloomberg mengungkap pemerintah AS bahkan meminta perusahaan satelit untuk menahan publikasi gambar lokasi tertentu selama konflik berlangsung.
Meski begitu, sejumlah citra yang bocor menunjukkan kerusakan signifikan pada aset bernilai tinggi, termasuk pesawat pengintai E-3 AWACS dan jet tempur F-35.
Serangan Presisi Iran Lumpuhkan Infrastruktur Kunci
Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam mengklaim berhasil menargetkan fasilitas strategis, termasuk radar jarak jauh dan sistem komunikasi.
Dalam waktu kurang dari sebulan, hampir seluruh kubah radar utama AS di kawasan dilaporkan hancur—menyisakan hanya satu unit aktif.
Serangan pada 27 Maret di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi menjadi salah satu yang paling krusial. Selain melukai 12 tentara AS, serangan itu juga dilaporkan merusak pesawat pengisian bahan bakar dan sistem pengawasan udara.
Beberapa laporan bahkan menyebut pesawat E-3 Sentry hancur total—klaim yang belum dikonfirmasi penuh oleh CENTCOM.
20 Pangkalan AS Mengelilingi Iran
AS diketahui mengoperasikan sekitar 20 pangkalan militer di kawasan, termasuk di Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Pangkalan terbesar, Pangkalan Udara Al Udeid, menampung sekitar 10.000 pasukan dan menjadi pusat operasi regional.
Dengan tambahan pengerahan terbaru, jumlah tentara AS di Timur Tengah kini melampaui 50.000 personel—meningkat signifikan dari rata-rata normal.
Daftar Pangkalan yang Diserang
Sejumlah fasilitas yang dilaporkan terkena serangan meliputi:
-
Pangkalan Udara Al-Asad (Irak)
-
Kamp Arifjan & Camp Buehring (Kuwait)
-
Pangkalan Udara Sheikh Isa (Bahrain)
-
Pangkalan Udara Al-Dhafra (UEA)
-
Pangkalan Udara Pangeran Sultan (Arab Saudi)
-
Pelabuhan Jebel Ali (UEA)
Sebagian serangan dikonfirmasi pejabat AS, sementara lainnya berasal dari klaim Iran dan laporan media internasional.
Dampak Geopolitik: Sekutu Mulai Goyah
Konflik ini tak hanya berdampak militer, tetapi juga geopolitik. Negara-negara Teluk mulai mempertanyakan ketergantungan mereka pada AS.
Sumber yang dikutip CNN menyebut pejabat Saudi mulai membuka opsi aliansi alternatif.
Selain itu, blokade di Selat Hormuz mengganggu ekspor energi global. Bahkan, Uni Emirat Arab dilaporkan mempertimbangkan transaksi minyak dalam yuan China untuk mengurangi dampak ekonomi.
Konflik yang Belum Usai
Dengan kerusakan yang terus terungkap dan tekanan politik yang meningkat, narasi resmi Washington semakin sulit dipertahankan.
Pertanyaan besarnya kini: apakah publik hanya melihat sebagian kecil dari dampak perang ini—sementara fakta yang lebih besar masih tersembunyi di balik sensor militer? (*)
Editor : Ali Sodiqin