RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah tekanan krisis pasokan energi global, Malaysia menegaskan posisinya sebagai negara yang relatif stabil di kawasan ASEAN. Perdana Menteri Anwar Ibrahim menyebut, hingga kini Negeri Jiran belum menerapkan kebijakan penjatahan bahan bakar minyak (BBM), berbeda dengan sejumlah negara tetangga.
Pernyataan itu disampaikan Anwar dalam sesi temu ramah bersama staf Institut Pendidikan Guru (IPG) dan siswa Pusat Tingkat Atas di Kampus IPG Temenggong Ibrahim, Jumat (24/4/2026). Ia menggambarkan kondisi kawasan yang mulai tertekan akibat kelangkaan pasokan.
“Berapa harga RON95 di negara-negara tetangga? Beberapa telah mencapai RM10,50 per liter, yang lain RM4, dan RM6. Dan kita? RM1,99,” ujar Anwar, seperti dikutip The Edge Malaysia.
Stabilitas harga dan pasokan BBM di Malaysia tak lepas dari kebijakan subsidi besar yang digelontorkan pemerintah. Saat ini, harga bensin RON95 bertahan di kisaran RM2,05 per liter, termasuk yang terendah secara global.
Langkah ini, menurut Anwar, merupakan bentuk intervensi negara untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah gejolak harga energi dunia. Namun, kebijakan tersebut juga membawa konsekuensi fiskal yang tidak ringan.
Selain subsidi, faktor geopolitik turut memainkan peran penting. Anwar mengungkapkan, hubungan diplomatik Malaysia dengan Iran memberi keuntungan strategis, khususnya dalam akses jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz, salah satu choke point energi paling vital di dunia.
Di saat banyak negara menghadapi hambatan distribusi, kapal tanker Malaysia tetap dapat melintas relatif lancar. Hal ini memperkuat ketahanan pasokan domestik.
Harga BBM yang murah di dalam negeri justru memicu persoalan baru: penyelundupan lintas batas. Selisih harga yang signifikan dengan negara tetangga mendorong praktik ilegal demi keuntungan cepat.
Pemerintah merespons dengan memperketat pengawasan di wilayah perbatasan. Keputusan tersebut diambil dalam rapat Kabinet terbaru.
“Bahan bakar kita terlalu murah dan penyelundupan terlalu merajalela. Ketika penyelundupan terjadi, itu berarti uang negara mengalir keluar,” tegas Anwar.
Ia menambahkan, potensi kerugian negara akibat praktik ini bisa mencapai miliaran ringgit.
Dampak krisis energi global juga terasa hingga negara maju. Australia, misalnya, mulai menjajaki kemungkinan pasokan energi dari Malaysia.
Anwar mengungkapkan, Perdana Menteri Anthony Albanese sempat menanyakan peluang ekspor diesel.
“Dia bertanya apakah Malaysia dapat memasok diesel. Saya mengatakan kita tidak memiliki surplus diesel, tetapi jika ada kelebihan, kita dapat mengekspornya,” ujar Anwar.
Kerja sama bilateral tersebut juga mencakup sektor lain, seperti pasokan pupuk fosfat untuk mendukung produktivitas petani Malaysia.
Editor : Lugas Rumpakaadi