Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Blokade AS di Selat Hormuz Picu Ketegangan Baru, Iran Sebut Ancaman bagi Gencatan Senjata dan Siap Ambil Tindakan Militer

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 16 April 2026 | 15:52 WIB
Ilustrasi blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz. (Gemini AI)
Ilustrasi blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz. (Gemini AI)

RADARBANYUWANGI.ID - Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali meningkat menyusul langkah Amerika Serikat (AS) memblokade lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Pemerintah Iran menilai tindakan tersebut berpotensi menggagalkan upaya gencatan senjata yang sebelumnya sempat dibahas antara kedua negara.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyampaikan bahwa blokade tersebut merupakan tindakan provokatif yang melanggar hukum internasional. Ia menegaskan bahwa langkah tersebut dapat memperburuk situasi keamanan kawasan.

“Blokade Selat Hormuz adalah langkah provokatif, melanggar hukum internasional, dan dapat menyebabkan terganggunya gencatan senjata. Dalam hal ini, angkatan bersenjata kami siap mengambil tindakan yang diperlukan,” ujar Baghaei dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026), dikutip Antara.

Sejak 13 April, Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan mulai membatasi seluruh akses kapal menuju dan keluar dari pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz. Jalur ini memiliki peran strategis karena menjadi lintasan sekitar 20 persen distribusi minyak dunia, termasuk produk petroleum dan gas alam cair (LNG).

Pihak Washington menyatakan bahwa kapal non-Iran masih diperbolehkan melintasi selat tersebut, selama tidak membayar pungutan kepada Teheran. Meski demikian, hingga kini otoritas Iran belum secara resmi menerapkan kebijakan pungutan tersebut, walaupun wacana itu telah dibahas sebelumnya.

Ketegangan ini tidak berdiri sendiri. Pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap puluhan target di wilayah Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan serta korban sipil.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah. Eskalasi ini memicu kekhawatiran luas, hingga beberapa negara di kawasan memutuskan menutup wilayah udara mereka, baik secara penuh maupun sebagian, guna mengantisipasi ancaman rudal dan drone.

Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui jalur diplomasi. Pada 11 April, delegasi dari Iran dan AS bertemu di Islamabad setelah Presiden Donald Trump mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua pekan.

Namun, harapan tersebut tidak bertahan lama. Sehari setelahnya, Wakil Presiden AS J.D. Vance menyatakan bahwa negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan final. Delegasi AS pun kembali ke negaranya tanpa membawa hasil konkret.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#selat hormuz #iran #as