Krisis Pertanian Kuba yang Memburuk, Petani Artemisa Berjuang di Tengah Inflasi, Kelangkaan, dan Sanksi Ekonomi

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 15 April 2026 | 05:15 WIB
Ilustrasi krisis pertanian di Kuba semakin parah. (Pexels/Thái Trường Giang)
Ilustrasi krisis pertanian di Kuba semakin parah. (Pexels/Thái Trường Giang)

RADARBANYUWANGI.ID - Di bawah terik matahari siang yang menyengat di wilayah Artemisa, Abraham Rodríguez menatap deretan ladang jagung yang harus ia bajak sebelum hari berakhir. Usianya hampir 26 tahun, dan lebih dari separuh hidupnya telah dihabiskan untuk bertani. Namun kini, pekerjaan itu tak lagi menjamin kelangsungan hidup.

“Saya mendapatkan 1.200 peso sehari, jadi saya harus bekerja dua hari hanya untuk membeli sebotol minyak,” ujarnya, dikutip The Guardian.

Ia menambahkan bahwa sudah berminggu-minggu dirinya tidak makan daging. Makan malam terakhirnya hanyalah nasi putih dan pisang goreng.

“Sarapan? Apa itu?” katanya lirih.

Kondisi Rodríguez mencerminkan krisis yang melanda sektor pertanian Kuba. Di kawasan pedesaan yang dahulu dikenal sebagai lumbung pangan bagi Havana, banyak petani kini kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Pemangkasan sistem pembelian hasil pertanian oleh negara membuat sebagian hasil panen tidak terserap pasar dan akhirnya membusuk di ladang.

Situasi ini diperparah oleh inflasi pascapandemi Covid-19 serta sanksi ekonomi yang masih diberlakukan terhadap Kuba. Akibatnya, sejumlah warga beralih ke aktivitas ilegal seperti perdagangan arang, atau memilih bermigrasi demi mencari penghidupan yang lebih baik.

Hal serupa dialami Yomar Matos, yang sebelumnya bekerja di sektor konstruksi di Havana. Setelah kehilangan pekerjaan, ia pindah ke Artemisa untuk bertani bersama keluarganya. Sarapan mereka hanya berupa kopi hitam dalam botol kecil dan beberapa batang rokok.

“Saya punya dua anak. Yang satu tinggal di Brasil dan hidupnya lebih baik dari di sini,” katanya dengan suara bergetar.

Ia mengakui bahwa perpisahan keluarga menjadi konsekuensi pahit dari krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Artemisa sendiri menyumbang sekitar 40 persen pasokan produk segar untuk Havana. Namun kini, kelangkaan bahan bakar membuat biaya produksi melonjak dan distribusi hasil panen terhambat. Petani seperti Maykel Romero Álvarez mengaku tidak mampu menjual hasil panennya.

“Sangat menyedihkan melihat panen yang bagus tetapi tidak bisa dijual,” ujarnya.

Krisis energi di Kuba juga diperburuk oleh dinamika geopolitik, termasuk perubahan situasi di Venezuela. Menurut petani setempat, dampaknya terasa langsung pada ketersediaan bahan bakar.

“Sejak Donald Trump mengambil tindakan terhadap Nicolás Maduro, semuanya berubah,” kata Maykel.

Sejak Revolusi 1959, sebagian besar lahan di Kuba dimiliki negara. Reformasi yang dilakukan oleh Raúl Castro pada 2008 mencoba membuka akses bagi petani kecil, namun minimnya investasi membuat sistem tersebut tetap tidak efisien.

Di tengah krisis, produksi arang menjadi alternatif penghasilan bagi sebagian warga. Luis Torres García, misalnya, menjual arang kepada negara maupun pasar lokal. Meski harga meningkat, ia tetap menjaga harga agar terjangkau.

“Saya ingat rasanya miskin dan lapar. Mengapa saya harus mengambil keuntungan berlebihan?” ujarnya.

Sementara itu, Ángel Reyes, mantan sopir taksi, kini beralih ke bisnis arang akibat kelangkaan bahan bakar.

“Sederhana saja: saya harus memberi makan anak-anak saya,” katanya.

Para petani berharap adanya solusi konkret dari pemerintah untuk mengatasi krisis yang kian dalam.

“Kami bekerja agar orang bisa makan, kami butuh solusi segera,” tegas Maykel.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : The Guardian
krisis pertanian kuba artemisa Petani Inflasi