RADARBANYUWANGI.ID - Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) memperingatkan potensi lonjakan tajam harga pangan global apabila distribusi input pertanian penting, seperti pupuk dan energi, melalui Selat Hormuz tidak segera kembali normal. Jalur laut strategis ini menjadi tumpuan bagi 20 hingga 45 persen perdagangan input agrifood dunia.
Ekonom Utama FAO, Maximo Torero, menegaskan urgensi situasi tersebut. “Waktu terus berjalan,” ujarnya dalam sebuah podcast bersama Direktur Divisi Ekonomi Agrifood FAO, David Laborde, dikutip situs resmi FAO.
Ia mengingatkan bahwa keterlambatan distribusi dapat berdampak langsung pada musim tanam di negara-negara berpendapatan rendah yang sangat bergantung pada impor pupuk.
Menurut Torero, dampak terburuk yang ingin dihindari adalah penurunan hasil panen disertai lonjakan harga komoditas pangan. “Hal terakhir yang kita inginkan adalah hasil panen yang lebih rendah dan harga komoditas serta inflasi pangan yang lebih tinggi tahun depan,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut berpotensi memaksa pemerintah mengambil kebijakan penstabil harga domestik yang justru dapat mendorong kenaikan suku bunga dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.
Data terbaru FAO menunjukkan Indeks Harga Pangan relatif stabil pada Maret berkat pasokan serealia yang memadai. Namun, tekanan mulai meningkat sejak April dan diperkirakan memuncak pada Mei, seiring petani mengambil keputusan penting terkait pola tanam dan alokasi lahan, termasuk kemungkinan beralih ke produksi biofuel yang lebih menguntungkan akibat tingginya harga energi.
Laborde menekankan bahwa dunia saat ini berada dalam krisis input pertanian. “Kita berada dalam krisis input; kita tidak ingin menjadikannya bencana. Perbedaannya tergantung pada tindakan yang kita ambil,” ujarnya.
FAO juga mengimbau negara-negara untuk menghindari pembatasan ekspor energi dan pupuk, serta meninjau kembali kebijakan wajib biofuel yang berpotensi mengurangi pasokan pangan global. Pengalaman krisis sebelumnya menunjukkan bahwa pembatasan perdagangan justru memperburuk lonjakan harga.
Dalam situasi terburuk, FAO mendorong lembaga multilateral seperti International Monetary Fund untuk menyediakan fasilitas pembiayaan bagi negara yang kesulitan mengakses pupuk. Skema seperti Food Shock Window dinilai dapat membantu negara memperoleh input penting tanpa memicu distorsi pasar melalui subsidi berlebihan.
FAO juga telah menyusun prioritas negara berdasarkan kalender tanam guna memastikan distribusi pupuk tepat waktu. Hal ini krusial mengingat pasar pupuk dan energi bersifat tidak elastis, sehingga gangguan kecil dalam pasokan dapat memicu lonjakan harga yang signifikan.
Torero menegaskan bahwa krisis ini berbeda dari bencana alam atau fenomena iklim seperti El Niño. “Ini adalah sesuatu yang bisa diselesaikan pemerintah dan harus diselesaikan,” katanya.
Jika gangguan berlanjut, risiko penurunan produksi pertanian tidak hanya akan terasa tahun ini, tetapi juga hingga 2027. Dengan margin keuntungan petani yang sudah tipis, kebangkrutan massal dapat memperparah krisis pangan global dalam jangka panjang.
FAO memperingatkan bahwa risiko saat ini bahkan lebih besar dibandingkan dengan 2022. Kombinasi gangguan distribusi, kebijakan yang tidak tepat, dan potensi El Nino yang kuat dapat menciptakan “badai sempurna” yang dampaknya menyerupai atau bahkan melampaui krisis pangan saat pandemi COVID-19.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : FAO