RADARBANYUWANGI.ID - Kenaikan harga bahan bakar global akibat konflik di Timur Tengah mulai memberikan dampak nyata bagi sektor pangan di Australia. Petani dan nelayan di berbagai wilayah menghadapi tekanan biaya operasional yang meningkat tajam, memaksa mereka mengambil keputusan sulit demi mempertahankan usaha.
Di Canberra, aktivitas di Capital Region Farmers Market, pusat distribusi hasil pertanian dan perikanan dari berbagai daerah termasuk pesisir New South Wales, mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan ekonomi. Para produsen mengaku kondisi ini baru permulaan dari tantangan yang lebih besar dalam beberapa bulan ke depan.
Sejumlah pelaku usaha memilih menaikkan harga jual dan membatasi distribusi untuk menekan biaya. Namun, tidak sedikit yang masih ragu karena khawatir kehilangan pelanggan.
Vicki Abbott, pengelola Narooma Seafoods, mengungkapkan bahwa lonjakan biaya bahan bakar berdampak signifikan pada operasional perusahaannya.
“Kapal kami menampung 40.000 liter bahan bakar. Kami menggunakan sekitar 30.000 liter per bulan. Kenaikannya mencapai sekitar 10.000 dolar per minggu,” ujarnya, dikutip ABC News.
Akibatnya, perjalanan melaut jarak jauh kini mulai dikurangi.
“Dua hari berangkat, dua hari kembali, kami memutuskan tidak ke sana,” katanya.
“Kami akan mencari ikan lebih dekat, seperti marlin dan tuna.”
Tekanan serupa juga dirasakan petani kecil. Rahmatullah Jafari, yang menjual buah delima, harus menempuh perjalanan hingga empat jam menggunakan kendaraan berbahan bakar diesel.
“Semua mesin kami menggunakan diesel. Ini sangat buruk,” katanya.
Meski harga solar telah meningkat dua kali lipat, ia belum menaikkan harga jual.
“Saya tidak ingin mengecewakan pelanggan, tapi saya tidak tahu sampai kapan bisa bertahan dengan harga ini,” ujarnya.
Petani zaitun Caroline O’Clery juga menghadapi tantangan dalam menjaga pasokan bahan bakar untuk musim panen. Ia bahkan harus membawa jeriken untuk memastikan traktor tetap dapat beroperasi.
“Orang mungkin mengira kami menimbun, padahal saya hanya ingin memastikan traktor tetap penuh menjelang panen,” katanya.
Selain bahan bakar, kekhawatiran kini meluas ke potensi kelangkaan pupuk. Paul de Jong, petani bibit tanaman, mengungkapkan bahwa distribusi pupuk mulai dibatasi oleh pemasok.
“Saya mencoba membeli lebih awal, tapi mereka sangat berhati-hati karena memperkirakan akan terjadi kelangkaan,” ujarnya.
Petani kentang Luke Bartlett menilai kombinasi krisis bahan bakar dan pupuk dapat berdampak sistemik.
“Ini akan memengaruhi seluruh rantai pasok,” katanya.
Ia menambahkan bahwa banyak petani mulai mempertimbangkan untuk menghentikan usaha karena risiko yang terlalu tinggi.
“12 bulan ke depan akan sangat menakutkan… biaya bahan bakar dan pupuk bisa lebih besar dari hasil yang didapat,” ujarnya.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : ABC News