Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Trump Hina Paus Leo XIV, Presiden Iran Masoud Pezeshkian Murka: Penodaan Yesus Tak Bisa Diterima

Ali Sodiqin • Selasa, 14 April 2026 | 14:30 WIB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Al-Jazeera)
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Al-Jazeera)

RADARBANYUWANGI.ID – Konflik verbal antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Paus Leo XIV memantik reaksi keras dari Teheran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terbuka mengecam penghinaan yang dilontarkan Trump kepada pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu, menyebut tindakan tersebut sebagai penodaan terhadap ajaran perdamaian.

Pernyataan keras itu disampaikan Pezeshkian melalui akun media sosial X, Senin (13/4), di tengah memanasnya tensi geopolitik akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Dalam unggahannya, Pezeshkian tidak hanya membela Paus Leo XIV, tetapi juga menyinggung simbol religius yang sensitif.

“Penodaan terhadap Yesus, nabi perdamaian dan persaudaraan, tidak dapat diterima oleh siapa pun,” tulis Pezeshkian.

Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa konflik ini tidak lagi sekadar perseteruan politik antara Washington dan Vatikan, melainkan telah merembet ke ranah moral dan simbol keagamaan yang lebih luas.


Iran Pasang Badan untuk Paus, Serang Balik Trump

Kecaman dari Iran tidak berhenti pada level presiden.

Kementerian Luar Negeri Iran ikut melontarkan kritik keras terhadap komentar Trump yang dinilai menyerang sosok religius yang menyerukan perdamaian.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa suara Paus Leo XIV justru menjadi penyeimbang di tengah dunia yang dipenuhi perang dan kekerasan.

“Di era ketika gemuruh bom dan hiruk pikuk para panglima perang dan penjajah membebani hati nurani dunia, kata-kata Paus Leo XIV menggemakan seruan mendalam Injil: Berbahagialah orang-orang yang menciptakan perdamaian,” ujarnya. 

Baghaei menyebut penghinaan terhadap Paus sebagai serangan terang-terangan terhadap advokasi perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan.

Kalimat itu mempertegas posisi Iran yang kini mencoba membingkai konflik sebagai pertarungan moral antara suara perang dan suara perdamaian.


Awal Konflik: Trump Sebut Paus Lemah dan Buruk dalam Diplomasi

Ketegangan bermula setelah Trump melancarkan serangan verbal terhadap Paus Leo XIV.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut Paus sebagai sosok yang:

Trump juga mengkritik keras sikap Paus terkait perang Iran, termasuk seruan Vatikan untuk menghentikan konflik bersenjata.

Ia bahkan menuding kepemimpinan Paus Leo XIV di Gereja Katolik bermuatan politik. 

Serangan ini menjadi salah satu kritik paling frontal dari seorang Presiden AS terhadap seorang Paus dalam beberapa tahun terakhir.


Paus Leo XIV dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ChatGPT Image)
Paus Leo XIV dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ChatGPT Image)

Paus Leo XIV Balas Tegas: Saya Tidak Takut Trump

Alih-alih mundur, Paus Leo XIV merespons dengan nada tegas.

Ia menyatakan tidak takut terhadap pemerintahan Trump dan akan tetap bersuara lantang menentang perang.

“Saya tidak takut pada pemerintahan Trump,” kata Paus Leo XIV. 

Paus menegaskan bahwa seluruh sikapnya berakar pada ajaran Injil, bukan kepentingan politik.

Ia juga menolak masuk dalam polemik personal dengan Trump.

dirinya tidak berniat berdebat langsung dengan Presiden AS tersebut.

Sikap ini memperkuat citra Paus Leo XIV sebagai figur moral yang memilih berdiri di atas arena politik praktis.


Paus Makin Vokal Soal Perang AS-Israel vs Iran

Dalam beberapa pekan terakhir, Paus Leo XIV memang semakin vokal menyoroti perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

Ia berulang kali menyerukan penghentian konflik dan mengecam apa yang disebutnya sebagai “pamer kekuatan” yang memicu eskalasi perang.

Seruan tersebut menjadi salah satu pemicu ketegangan dengan Gedung Putih, terutama ketika Trump menganggap kritik Paus sebagai bentuk intervensi politik luar negeri. 

Di tengah meningkatnya korban sipil dan tekanan internasional, suara Vatikan menjadi salah satu yang paling konsisten menyerukan gencatan senjata.


Siapa Paus Leo XIV? Paus Pertama dari Amerika Serikat

Paus Leo XIV yang memiliki nama lahir Robert Francis Prevost terpilih menjadi Paus pada 8 Mei 2025, menjadikannya Paus pertama dalam sejarah yang berasal dari Amerika Serikat.

Ia lahir di Chicago, Illinois, pada 14 September 1955.

Latar belakang keluarganya dikenal sangat religius, dengan warisan campuran Prancis, Italia, dan Spanyol.

Sebelum menjadi Paus, Prevost dikenal sebagai misionaris Ordo St. Agustinus yang lama bertugas di Peru.

Kariernya di Vatikan terus menanjak hingga dipercaya menjabat sebagai:

Posisi itu membuatnya menjadi tokoh sentral dalam pemilihan uskup di berbagai negara.


Figur Moderat, Fokus Perdamaian dan Keadilan Sosial

Paus Leo XIV dikenal sebagai tokoh moderat dengan gaya komunikasi tenang namun tegas.

Ia fasih berbahasa Spanyol dan Italia, serta memiliki perhatian besar terhadap isu:

Dalam banyak kesempatan, Paus Leo XIV konsisten menempatkan Gereja sebagai suara moral di tengah konflik dunia.

Konfrontasi terbuka dengan Trump kini membuat posisinya semakin menjadi sorotan global.


Angle Konflik: Pertarungan Moral Washington vs Vatikan

Perseteruan Trump dan Paus Leo XIV kini berkembang menjadi lebih dari sekadar beda pandangan.

Ini telah menjelma menjadi pertarungan narasi moral:

Masuknya Iran ke dalam polemik ini menambah lapisan konflik baru yang sarat kepentingan diplomatik.

Respons Pezeshkian menunjukkan bagaimana isu agama dan simbol perdamaian kini digunakan sebagai bagian dari pertarungan opini global. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Trump hina Paus Leo XIV #Iran kecam Trump #Masoud Pezeshkian #Paus Leo XIV #perang Iran AS Israel