RADARBANYUWANGI.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi global setelah menyatakan bahwa Kuba bisa menjadi target berikutnya usai konflik dengan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan di Gedung Putih. Ia menyebut bahwa setelah menyelesaikan perang dengan Iran, Amerika Serikat kemungkinan akan “menghampiri” Kuba.
“Kuba adalah negara yang gagal, dan kita akan melakukan ini, dan kita mungkin akan singgah ke Kuba setelah kita selesai dengan ini,” ujar Trump.
Kuba Masuk Prioritas Kebijakan AS
Pernyataan ini mempertegas bahwa Kuba menjadi salah satu fokus utama kebijakan luar negeri AS di tengah memanasnya konflik global.
Trump juga menilai bahwa negara kepulauan tersebut telah lama dikelola secara buruk.
“Kuba adalah negara yang dikelola dengan sangat buruk selama bertahun-tahun,” tambahnya.
Ia turut menyinggung komunitas warga Kuba-Amerika di AS yang menurutnya mengalami perlakuan buruk.
“Kami punya banyak warga Kuba-Amerika yang hebat. Banyak dari mereka diperlakukan sangat buruk. Ada yang keluarganya dibunuh, dipukuli, dirampok, dan hal-hal mengerikan terjadi di Kuba,” lanjutnya.
Presiden Kuba: Tidak Ada Pembenaran Serangan
Menanggapi pernyataan tersebut, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi Amerika Serikat untuk melakukan agresi militer terhadap negaranya.
“Tidak ada pembenaran bagi Amerika Serikat untuk melancarkan agresi militer terhadap Kuba,” tegas Díaz-Canel.
Ia juga memperingatkan bahwa setiap bentuk serangan akan mendapatkan perlawanan dari Kuba.
Ketegangan AS–Kuba Kian Meningkat
Pernyataan Trump muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Havana. Pemerintah AS diketahui terus memperketat tekanan ekonomi terhadap Kuba melalui sanksi dan kebijakan politik.
Di sisi lain, pemerintah Kuba menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk tekanan yang memperburuk kondisi dalam negeri.
Díaz-Canel bahkan menyebut sanksi AS sebagai tindakan “kejam” yang memperparah krisis ekonomi dan energi di negaranya.
Krisis Berkepanjangan di Kuba
Kuba saat ini tengah menghadapi krisis ekonomi yang berkepanjangan. Kondisi ini ditandai dengan:
-
Kekurangan bahan bakar
-
Pemadaman listrik bergilir
-
Terbatasnya akses makanan dan obat-obatan
Pemerintah Kuba menyalahkan sanksi AS sebagai faktor utama penyebab krisis tersebut. Sementara pihak AS menilai masalah tersebut disebabkan oleh persoalan struktural dalam ekonomi Kuba.
Situasi diperburuk dengan berkurangnya pasokan minyak dari Venezuela serta gangguan distribusi energi yang memicu pemadaman listrik di berbagai wilayah.
Kontak Diplomatik Masih Terbatas
Meski ketegangan meningkat, kedua negara dilaporkan masih memiliki kontak diplomatik terbatas.
Wakil Menteri Luar Negeri Kuba menyebut bahwa diskusi terkait upaya meredakan ketegangan masih berada pada tahap awal.
Hal ini menunjukkan bahwa peluang dialog masih terbuka, meski hubungan kedua negara berada dalam kondisi sensitif.
Sorotan Global di Tengah Konflik Iran
Pernyataan Trump terkait Kuba juga tidak terlepas dari konteks konflik yang lebih luas, khususnya perang antara AS dan Iran yang masih berlangsung.
Sejumlah pengamat menilai langkah ini berpotensi memperluas ketegangan geopolitik global jika tidak dikelola dengan hati-hati.
Dengan Kuba yang kini disebut sebagai “target berikutnya”, perhatian dunia internasional pun tertuju pada kemungkinan eskalasi konflik baru di kawasan Amerika Latin. (*)
Editor : Ali Sodiqin