Petani di Inggris Tertekan Biaya Tinggi akibat Konflik Iran, Inovasi Jadi Jalan Bertahan

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 14 April 2026 | 09:15 WIB
Petani di selatan Inggris menghadapi tekanan biaya akibat konflik Iran. (Gemini AI)
Petani di selatan Inggris menghadapi tekanan biaya akibat konflik Iran. (Gemini AI)

RADARBANYUWANGI.ID - Sejumlah petani di wilayah selatan Inggris mulai mempertanyakan keberlanjutan usaha mereka di tengah melonjaknya biaya operasional yang dipicu oleh konflik di Iran. Kenaikan harga input pertanian, khususnya pupuk dan bahan bakar, semakin menekan sektor yang sebelumnya sudah menghadapi tantangan ekonomi.

Data terbaru menunjukkan bahwa inflasi biaya operasional pertanian pada Maret tercatat lebih dari 7% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lembaga konsultan pertanian The Andersons Centre bahkan memperingatkan adanya “tekanan biaya baru” yang berpotensi memperburuk kondisi petani.

Di tengah situasi tersebut, sebagian petani mulai beradaptasi dengan cara-cara inovatif untuk menekan pengeluaran. Jo Robertson, petani di Poppies Farm, Hurst, Berkshire, mengaku memanfaatkan limbah makanan sebagai pakan ternak.

Ia mengumpulkan roti dari bank makanan, sisa produksi dari perusahaan jus, hingga limbah kaya nutrisi dari industri pembuatan bir. Meski langkah ini membantu mengurangi biaya pakan, Robertson menegaskan bahwa hal tersebut belum cukup menyelamatkan kondisi finansial peternakan.

“Hewan di peternakan tidak menghasilkan cukup uang untuk membayar gaji atau bahkan biaya diesel,” ujarnya, dikutip BBC.

Robertson juga mengungkapkan bahwa pendapatan tambahan diperoleh dari program pendidikan alternatif bagi anak-anak yang tidak mengikuti sekolah formal akibat berbagai alasan. Program ini menjadi sumber pemasukan sekunder yang penting.

“Saya tidak tahu seperti apa masa depan kami, harapannya kami bisa terus bertahan dan bertani dengan lebih baik,” tambahnya.

Sementara itu, David Christensen dari Kingston Hill Farm di Oxfordshire menyoroti kenaikan harga pupuk sebagai tantangan utama bagi petani tanaman pangan. Ia menyebut beberapa petani kini mempertimbangkan kembali jenis tanaman yang akan dibudidayakan.

Gangguan rantai pasok global turut memperburuk situasi. Sekitar sepertiga bahan kimia pupuk dunia melewati Selat Hormuz, yang sempat ditutup setelah serangan terkoordinasi oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Penutupan ini menyebabkan lonjakan harga pupuk secara signifikan.

Meski harga serealia mengalami kenaikan sekitar £5 per ton, Christensen menilai hal tersebut tidak cukup untuk menutup lonjakan biaya produksi.

“Kenaikan itu jelas tidak cukup untuk mengimbangi biaya yang harus kami tanggung, dan ini menjadi tantangan besar bagi sektor ini,” katanya.

Ia juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa dampak konflik tidak akan segera mereda meskipun telah terjadi gencatan senjata sementara selama dua minggu yang memungkinkan jalur pelayaran dibuka kembali.

“Saya tidak melihat situasi akan kembali normal dalam waktu dekat, bahkan jika gencatan senjata ini bertahan,” ujarnya.

Pemerintah Inggris melalui Departemen Lingkungan, Pangan, dan Urusan Pedesaan menyatakan bahwa pasokan pangan nasional diperkirakan tetap stabil. Namun, pihaknya mengakui potensi dampak konflik terhadap sektor pertanian dan berjanji akan terus memantau perkembangan harga pupuk dan minyak.

Dalam pernyataannya, pemerintah menegaskan komitmennya untuk melindungi komunitas pedesaan serta akan terus berkoordinasi dengan serikat petani dan pemangku kepentingan lainnya guna memahami dampak yang lebih luas dari konflik tersebut.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : BBC
iran Petani inggris inovasi konflik