RADARBANYUWANGI.ID – Ketegangan di Timur Tengah kembali memasuki fase kritis. Panglima Angkatan Darat Israel memerintahkan pasukan untuk bersiap menghadapi kemungkinan dimulainya kembali perang melawan Iran, menyusul kebuntuan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan. Langkah ini memicu kekhawatiran eskalasi konflik regional yang lebih luas.
Media Israel yang mengutip sumber militer menyebutkan bahwa kepala militer telah mengeluarkan instruksi siaga kepada unit-unit tempur untuk menghadapi skenario terburuk apabila jalur diplomasi benar-benar gagal.
Perintah siaga tersebut muncul hanya beberapa jam setelah perundingan maraton selama 21 jam antara delegasi Washington dan Teheran berakhir tanpa kesepakatan.
Diplomasi yang diharapkan menjadi pintu keluar konflik justru menemui jalan buntu, terutama terkait isu program nuklir Iran dan pengaturan strategis Selat Hormuz.
Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras yang semakin meningkatkan tensi.
Trump mengungkapkan bahwa Washington tengah mempersiapkan kapal perang dengan persenjataan terbaik yang pernah dimiliki Amerika.
“Kita sedang melakukan pengaturan ulang. Kita sedang mempersiapkan kapal-kapal dengan amunisi terbaik, senjata terbaik yang pernah dibuat,” kata Trump dalam wawancara dengan New York Post.
Ia bahkan menegaskan, jika kesepakatan tidak tercapai, kekuatan militer akan digunakan secara efektif.
“Dan jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan menggunakannya, dan kita akan menggunakannya dengan sangat efektif,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Washington tidak menutup opsi militer sebagai jalan keluar atas konflik yang terus memburuk.
Ketika ditanya mengenai peluang keberhasilan negosiasi, Trump menyebut hasilnya akan segera diketahui dalam waktu singkat.
“Kita akan mengetahuinya dalam waktu sekitar 24 jam,” ujarnya.
Pernyataan Trump disampaikan hanya beberapa jam setelah Wakil Presiden JD Vance berangkat menuju Pakistan untuk memimpin delegasi Amerika Serikat dalam perundingan langsung dengan Iran.
Vance didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang sebelumnya telah terlibat dalam sejumlah putaran negosiasi tidak langsung dengan pejabat Iran.
Delegasi tersebut diharapkan mampu memecah kebuntuan dan mencegah perang kembali pecah. Namun hasil akhir justru menunjukkan kegagalan diplomatik.
Kebuntuan negosiasi ini semakin sensitif karena terjadi di tengah konflik yang telah berlangsung sejak serangan bersama AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Serangan tersebut memicu respons militer dan gejolak geopolitik yang meluas di kawasan Timur Tengah.
Kini, keputusan Israel untuk meningkatkan kesiapsiagaan pasukan dinilai sebagai indikator bahwa skenario perang lanjutan bukan lagi kemungkinan kecil.
Analis menilai, jika diplomasi benar-benar gagal, Israel kemungkinan akan kembali mengambil langkah ofensif, terutama terhadap fasilitas strategis Iran.
Kondisi ini juga berpotensi menyeret negara-negara lain di kawasan, termasuk Lebanon dan kelompok-kelompok proksi yang selama ini memiliki hubungan erat dengan Teheran.
Di sisi ekonomi global, eskalasi konflik AS-Israel-Iran juga berisiko memicu lonjakan harga energi dunia.
Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak global tetap menjadi titik konflik paling sensitif.
Jika perang kembali pecah, dampaknya diperkirakan akan langsung terasa pada harga minyak, inflasi global, hingga harga BBM di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dengan Israel kini berada dalam posisi siaga penuh dan Washington mengeluarkan ancaman militer terbuka, dunia menunggu apakah diplomasi masih memiliki ruang atau kawasan Timur Tengah akan kembali memasuki babak perang yang lebih besar. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Aljazeera, new york post, The Guardian, ABC News