RADARBANYUWANGI.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terkait konflik dengan Iran.
Ia mengklaim bahwa infrastruktur militer Iran telah “dimusnahkan” setelah lebih dari 40 hari perang antara kedua negara.
Namun demikian, Trump menegaskan masih terdapat sejumlah target strategis yang berpotensi menjadi sasaran serangan lanjutan Amerika Serikat.
Target Baru: Air, Listrik, hingga Jembatan
Dalam wawancara di program Sunday Morning Futures With Maria Bartiromo di Fox News, Trump menyebut fasilitas penting Iran seperti pabrik desalinasi air, jaringan listrik, hingga jembatan sebagai target potensial berikutnya.
“Pada dasarnya kita telah memusnahkan seluruh negara mereka,” kata Trump.
Ia bahkan secara spesifik menyoroti sektor air sebagai titik paling rentan.
“Satu-satunya yang tersisa hanyalah air mereka, yang akan sangat menghancurkan jika dihantam,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut menimbulkan kekhawatiran baru terkait dampak kemanusiaan apabila fasilitas sipil vital menjadi sasaran konflik.
Klaim Intelijen dan Sisa Kekuatan Iran
Trump juga menyebut Iran masih memiliki beberapa fasilitas produksi rudal yang belum dihancurkan.
“Kita tahu semuanya,” ujarnya, menegaskan klaim superioritas intelijen militer Amerika Serikat.
Meski demikian, ia mengisyaratkan bahwa tekanan militer yang terus meningkat dapat memaksa Teheran untuk kembali ke meja perundingan.
Tekanan Negosiasi: “Iran Tidak Punya Kartu”
Dalam kesempatan yang sama, Trump menyatakan keyakinannya bahwa Iran tidak memiliki posisi tawar kuat dalam negosiasi.
“Saya memprediksi mereka akan kembali dan memberi kita semua yang kita inginkan,” katanya.
Ia bahkan menegaskan ambisinya untuk mendapatkan konsesi penuh dari Iran.
“Saya menginginkan semuanya… Mereka tidak punya kartu,” tambahnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan negosiasi yang agresif dari Washington, yang menggabungkan tekanan militer dan diplomasi keras.
Kontroversi Ancaman “Peradaban Hancur”
Trump juga membela pernyataan kontroversialnya sebelumnya yang menyebut bahwa “seluruh peradaban akan mati dalam satu malam.”
Menurutnya, pernyataan tersebut justru menjadi faktor yang mendorong Iran kembali ke jalur diplomasi.
“Pernyataan itu membawa mereka ke meja perundingan dan mereka belum meninggalkannya,” ujarnya.
Ia menilai retorika keras diperlukan untuk menghadapi sikap Iran yang selama ini dinilai provokatif terhadap Amerika Serikat.
Dampak Global dan Kekhawatiran Kemanusiaan
Ancaman terhadap infrastruktur sipil seperti air dan listrik memicu kekhawatiran luas di komunitas internasional.
Serangan terhadap fasilitas tersebut berpotensi menyebabkan krisis kemanusiaan besar, termasuk gangguan akses air bersih dan energi bagi masyarakat sipil.
Selain itu, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran juga berisiko mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah serta memengaruhi pasar energi global. (*)
Editor : Ali Sodiqin