RADARBANYUWANGI.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mengumumkan blokade penuh Selat Hormuz setelah perundingan damai dengan Iran yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, Minggu (13/4/2026).
Pengumuman tersebut disampaikan melalui platform Truth Social, tak lama setelah Wakil Presiden JD Vance memastikan bahwa negosiasi tidak mencapai titik krusial.
“Efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat akan memulai proses memblokade setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump dalam pernyataannya.
Blokade Hormuz Picu Kekhawatiran Global
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa kapal yang terbukti membayar izin lintas kepada Iran akan dicegat. Bahkan, Angkatan Laut AS juga diperintahkan untuk menghancurkan ranjau laut yang diduga dipasang di kawasan tersebut.
Langkah ini mempertegas eskalasi konflik di Timur Tengah yang sebelumnya sudah memanas sejak serangan udara Amerika Serikat bersama Israel ke Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang kemudian memicu respons keras dari militer Iran, termasuk penutupan sebagian Selat Hormuz oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Dampaknya, lalu lintas kapal tanker di jalur vital tersebut anjlok lebih dari 90 persen, mengganggu pasokan sekitar 10 juta barel minyak per hari ke pasar global.
Jalur Energi Dunia di Ambang Krisis
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur strategis energi dunia, dengan sekitar 20 persen konsumsi minyak global dan perdagangan LNG melintasi kawasan tersebut setiap hari.
Negara-negara Asia, termasuk China, menjadi pihak yang paling terdampak jika distribusi energi terganggu.
Blokade penuh oleh Amerika Serikat berpotensi memperburuk krisis pasokan energi global, sekaligus memicu lonjakan harga minyak dalam waktu singkat.
Pergerakan Armada Tempur AS di Kawasan
Sebelum pengumuman blokade, Amerika Serikat telah lebih dulu memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.
Di Laut Arab, gugus tempur dipimpin oleh USS Abraham Lincoln (CVN-72) yang menjalankan Operation Epic Fury.
Kapal induk tersebut membawa berbagai armada udara canggih, antara lain:
-
F/A-18E/F Super Hornet
-
EA-18G Growler
-
E-2D Hawkeye
-
F-35C (jet tempur berbasis kapal induk)
Pengawalan dilakukan oleh sejumlah kapal perusak berpeluru kendali, seperti:
-
USS Spruance (DDG-111)
-
USS McFaul (DDG-74)
-
USS Michael Murphy (DDG-112)
Di Laut Merah, kapal perang seperti USS Bainbridge (DDG-96) dan USS Thomas Hudner (DDG-116) juga disiagakan.
Sementara kekuatan amfibi dipimpin oleh USS Tripoli (LHA-7) yang membawa pasukan ekspedisi Marinir.
Harga Minyak Berpotensi Melonjak Tajam
Pasca kegagalan negosiasi dan ancaman blokade, pasar minyak global langsung bereaksi. Harga minyak diperkirakan akan melonjak signifikan dalam waktu dekat.
Janiv Shah dari Rystad Energy menyebut bahwa konflik yang kembali meningkat dapat mendorong harga minyak naik tajam.
Para trader di platform IG bahkan memperkirakan harga minyak AS berpotensi naik ke level USD98 per barel saat pembukaan perdagangan awal pekan.
Lebih jauh, utusan ekonomi Rusia, Kirill Dmitriev, menyebut harga minyak bisa menembus USD150 per barel jika eskalasi terus berlanjut.
Pasar Masih Skeptis terhadap Trump
Meski demikian, tidak semua pelaku pasar sepakat dengan skenario lonjakan ekstrem. Analis dari Saxo UK, Neil Wilson, menilai pasar mulai kebal terhadap retorika Trump.
Menurutnya, investor masih mengandalkan strategi “TACO” (Trump Always Chickens Out), yakni keyakinan bahwa Trump pada akhirnya akan mundur dari ancaman eskalasi besar.
“Kami dan pasar tahu bahwa Trump sering meningkatkan tekanan untuk negosiasi,” ujarnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin