Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Selat Hormuz Masih Tersendat, Trump Tuduh Iran Langgar Gencatan Senjata, Harga Minyak Nyaris USD 100

Ali Sodiqin • Jumat, 10 April 2026 | 23:30 WIB
Trump ultimatum Iran buka Selat Hormuz dalam 48 jam atau pembangkit listrik dihancurkan. Jalur vital energi dunia kini terancam konflik.
Trump ultimatum Iran buka Selat Hormuz dalam 48 jam atau pembangkit listrik dihancurkan. Jalur vital energi dunia kini terancam konflik.

RADARBANYUWANGI.ID - Gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran kembali berada dalam tekanan setelah jalur vital perdagangan energi dunia, Selat Hormuz, masih belum kembali normal.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding Teheran tidak menjalankan isi kesepakatan dengan baik, khususnya terkait pembukaan kembali jalur pelayaran minyak dunia tersebut. 

Menurut Trump, Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk dalam mengizinkan minyak dan kapal tanker melintas.

“Iran doing a very poor job,” tulis Trump melalui platform Truth Social, sembari memperingatkan agar Teheran tidak memungut biaya terhadap kapal tanker yang melintas di perairan strategis itu. 

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Konflik

Selat Hormuz kini menjadi titik paling krusial dalam konflik AS–Israel melawan Iran.

Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman ini merupakan salah satu chokepoint energi terpenting di dunia.

Sekitar seperlima hingga seperempat pasokan minyak global biasanya melintasi jalur tersebut setiap hari.

Sebelum perang pecah, rata-rata sekitar 128 kapal per hari melintas di Selat Hormuz. Namun setelah konflik dan penutupan efektif oleh Iran, lalu lintas kapal anjlok drastis.

Laporan terbaru menyebut baru sembilan kapal yang berhasil melintas sejak pengumuman gencatan senjata yang masih rapuh.

Kondisi ini membuat ratusan kapal tanker dan kapal komersial masih tertahan di kawasan Teluk.

Harga Minyak Dunia Nyaris Sentuh USD 100

Belum pulihnya arus pelayaran di Selat Hormuz berdampak langsung pada pasar energi global.

Harga minyak internasional kini kembali mendekati USD 100 per barel, setelah sempat turun sesaat usai pengumuman gencatan senjata.

Kekhawatiran pasar muncul karena setiap gangguan di Selat Hormuz hampir selalu memicu lonjakan harga minyak dunia dan berimbas pada inflasi global. 

Analis energi internasional menilai kondisi ini dapat menekan ekonomi negara-negara importir minyak, termasuk kawasan Asia dan Eropa.

Starmer Telepon Trump, Desak Solusi Praktis

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga ikut turun tangan.

Starmer dilaporkan telah berbicara langsung dengan Trump untuk menekankan pentingnya rencana praktis agar pelayaran kembali bergerak normal.

Langkah ini dilakukan setelah rangkaian kunjungan diplomatik ke Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Arab Saudi.

Tujuannya adalah memperkuat dukungan internasional agar Selat Hormuz segera dibuka penuh. 

20 Ribu Pelaut Masih Terjebak

Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyebut sekitar 20.000 pelaut masih berada di kawasan konflik.

Banyak di antaranya masih tertahan di atas kapal karena belum dapat keluar dari Selat Hormuz secara aman.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran baru terkait keselamatan pelaut dan kelancaran rantai pasok global. 

Hezbollah Balas Serangan ke Israel

Di tengah ketidakpastian gencatan senjata, konflik di Lebanon juga kembali memanas.

Kelompok Hezbollah mengklaim telah meluncurkan roket ke wilayah utara Israel, termasuk kota Kiryat Shmona dan kawasan Misgav Am.

Serangan ini disebut sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.

Hezbollah menegaskan serangan akan terus dilakukan hingga agresi Israel-Amerika terhadap Lebanon dihentikan. 

Sementara itu, Israel hingga kini belum memberikan komentar resmi terkait serangan terbaru tersebut.

Gencatan Senjata Masih Rapuh

Masalah utama saat ini adalah perbedaan tafsir mengenai cakupan gencatan senjata.

AS dan Israel menilai kesepakatan hanya berlaku untuk Iran, sementara Pakistan sebagai mediator menyebut Lebanon juga termasuk di dalamnya.

Perbedaan ini membuat gencatan senjata yang diumumkan sebelumnya masih sangat rapuh dan sewaktu-waktu dapat runtuh.

Situasi Selat Hormuz dan Lebanon kini menjadi penentu apakah konflik Timur Tengah akan mereda atau justru kembali meluas. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#gencatan senjata Iran #Trump Iran #Hezbollah Israel #selat hormuz #harga minyak dunia