RADARBANYUWANGI.ID - Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang baru saja diumumkan kini berada di ujung tanduk. Situasi memanas kembali setelah Israel melancarkan serangan baru yang mematikan ke wilayah Lebanon pada Jumat pagi (10/4).
Serangan tersebut menewaskan ratusan orang dan langsung memicu reaksi keras dari Teheran. Pemerintah Iran menyebut aksi militer itu sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Pakistan, serta memperingatkan akan adanya “respons kuat” jika serangan terus berlanjut.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan perjanjian gencatan senjata dengan Iran.
Namun mediator Pakistan menyatakan wilayah Lebanon memang menjadi bagian dari kesepakatan awal, sehingga perbedaan tafsir ini berpotensi menggagalkan proses damai.
Netanyahu Setujui Pembicaraan Langsung dengan Lebanon
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa negaranya akan memulai negosiasi langsung dengan Lebanon.
Keputusan ini diambil setelah tekanan diplomatik dari Washington, menyusul kekhawatiran bahwa gelombang serangan besar ke Lebanon dapat meruntuhkan proses gencatan senjata yang masih rapuh.
Presiden AS Donald Trump disebut telah menelepon Netanyahu dan meminta agar intensitas serangan dikurangi demi menjaga peluang keberhasilan perundingan dengan Iran.
Menurut pejabat senior pemerintahan AS, Washington saat ini berusaha menjaga agar jalur diplomasi tetap terbuka menjelang pembicaraan damai di Islamabad, Pakistan.
Selat Hormuz Masih Belum Pulih
Ketegangan juga masih terasa di jalur perdagangan minyak dunia, khususnya di Strait of Hormuz.
Meski Amerika mengklaim lalu lintas kapal mulai meningkat, laporan terbaru menunjukkan jalur strategis tersebut masih jauh dari kondisi normal.
Iran bahkan mengisyaratkan kemungkinan telah menempatkan ranjau laut di kawasan itu dan menawarkan rute alternatif bagi kapal-kapal yang masih melintas.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia, tempat sekitar 20 persen pasokan minyak global melintas setiap hari.
Gangguan di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia dan tekanan terhadap ekonomi global.
Trump Tegaskan Pasukan AS Tetap Siaga
Trump juga menegaskan seluruh kapal perang, pesawat militer, dan personel AS akan tetap berada di sekitar Iran hingga tercapai kesepakatan final yang benar-benar dipatuhi.
“Pasukan kami akan tetap di tempat sampai ada perjanjian nyata dan sepenuhnya dipatuhi,” demikian pernyataan Trump, seperti dikutip sejumlah media internasional.
Meski demikian, hingga Jumat siang belum ada laporan serangan baru di kawasan Teluk, sehingga gencatan senjata di front utama AS-Iran masih dinilai bertahan.
Pembicaraan Damai di Pakistan Jadi Penentu
Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi Amerika dalam pembicaraan damai di Pakistan pada Sabtu (11/4).
Ia menyebut polemik mengenai Lebanon sebagai “kesalahpahaman yang sah” dan menilai Iran akan melakukan kesalahan besar jika membiarkan perundingan gagal hanya karena persoalan itu.
Sementara itu, duta besar Iran di Islamabad sempat menulis di media sosial X bahwa tim negosiasi Iran akan tiba pada Jumat malam, meski unggahan tersebut kemudian dihapus.
Korban Tewas Tembus Ribuan
Jumlah korban jiwa akibat konflik yang terus berlangsung juga terus meningkat.
Kelompok pemantau HAM berbasis di AS, HRANA, memperkirakan hampir 3.400 orang tewas, termasuk lebih dari 1.600 warga sipil di Iran.
Sementara itu, lebih dari 1.700 orang dilaporkan meninggal di Lebanon, 23 korban jiwa di Israel, serta 13 personel militer AS tewas dalam konflik ini.
Situasi ini menjadikan perundingan damai di Pakistan sebagai titik krusial yang dapat menentukan apakah konflik Timur Tengah akan mereda atau justru semakin meluas. (*)
Editor : Ali Sodiqin