Gencatan Senjata Iran-AS Terancam Runtuh Usai Serangan Israel di Lebanon, Ratusan Korban Berjatuhan

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 9 April 2026 | 10:39 WIB
Gencatan senjata Iran-AS terancam runtuh usai serangan besar Israel di Lebanon. (Antara)
Gencatan senjata Iran-AS terancam runtuh usai serangan besar Israel di Lebanon. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID - Gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat berada di ambang kegagalan setelah eskalasi militer terbaru di Lebanon memicu ketegangan baru di kawasan Timur Tengah.

Serangan besar yang dilancarkan Israel pada Rabu (8/4/2026) menewaskan sedikitnya 254 orang di seluruh Lebanon, termasuk 91 korban jiwa di ibu kota Beirut. Serangan tersebut disebut sebagai salah satu yang paling mematikan dalam beberapa waktu terakhir dan langsung memicu reaksi keras dari Teheran.

Ketua Parlemen Iran, Mohammed Bager Qalibaf, menegaskan bahwa situasi saat ini membuat upaya diplomasi menjadi tidak relevan.

“Dalam situasi seperti itu, gencatan senjata bilateral atau negosiasi tidak masuk akal,” ujarnya dalam sebuah pernyataan resmi.

Pernyataan ini muncul hanya sehari setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu. Kesepakatan tersebut rencananya menjadi landasan awal pembicaraan damai antara kedua negara pada akhir pekan ini.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Iran menilai Israel telah melanggar kesepakatan dengan melanjutkan operasi militernya terhadap Hizbullah di Lebanon. Sementara itu, Washington tetap bersikeras agar Iran menghentikan program nuklirnya, tuntutan yang ditolak keras oleh Teheran.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut.

“Israel telah memegang pelatuk dan siap untuk kembali berperang kapan saja,” katanya.

Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa gencatan senjata tidak mencakup wilayah Lebanon.

“Saya pikir Iran mengira gencatan senjata itu mencakup Lebanon, padahal tidak,” ujarnya kepada wartawan.

Perselisihan utama antara Iran dan AS tetap berkisar pada program nuklir. Trump mengklaim bahwa Iran telah sepakat menghentikan pengayaan uranium dan bahkan bersedia menyerahkan stok yang ada.

“Amerika Serikat, bekerja sama dengan Iran, akan menggali dan menyingkirkan semua ‘debu’ nuklir,” kata Trump melalui media sosial.

Namun, klaim tersebut dibantah oleh Qalibaf yang menyebut Iran tetap berhak melanjutkan pengayaan uranium sesuai kesepakatan.

Perbedaan ini menegaskan bahwa meskipun kedua pihak sama-sama mengklaim kemenangan dalam konflik lima minggu terakhir, akar konflik masih jauh dari penyelesaian.

Di tengah ketegangan geopolitik, pasar global menunjukkan reaksi yang beragam. Indeks saham dunia mengalami kenaikan, sementara harga minyak sempat anjlok hingga 14% sebelum stabil di kisaran US$ 95 per barel.

Namun demikian, harga minyak mentah Brent masih sekitar US$ 25 lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik dimulai, mencerminkan kekhawatiran jangka panjang terhadap stabilitas pasokan energi.

Iran juga dilaporkan menyerang infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk pipa minyak di Arab Saudi serta target di Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, masih ditutup untuk sebagian besar pelayaran.

Di Iran, ribuan warga turun ke jalan merayakan apa yang mereka anggap sebagai kemenangan, meskipun kekhawatiran tetap membayangi.

Seorang warga Teheran bernama Alireza mengungkapkan ketidakpastian tersebut.

“Israel tidak akan membiarkan diplomasi berhasil dan Trump mungkin akan mengubah pandangannya besok. Tapi setidaknya kita bisa tidur nyenyak malam ini tanpa serangan.”

Konflik yang dimulai sejak 28 Februari ini awalnya diklaim oleh Washington dan Tel Aviv sebagai upaya untuk menghentikan ambisi nuklir Iran dan membatasi pengaruhnya di kawasan.

Namun hingga kini, Iran masih mempertahankan persediaan uranium yang diperkaya tinggi serta kemampuan militernya, termasuk serangan rudal dan drone ke negara-negara tetangga.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran bahkan menyatakan kemenangan tegas atas apa yang mereka sebut sebagai agresi ilegal.

“Musuh telah menderita kekalahan yang tak terbantahkan, bersejarah, dan menghancurkan,” demikian pernyataan resmi mereka.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Israel iran lebanon amerika serikat gencatan senjata