Trump Ciut? Ini 5 Alasan AS Akhirnya Setuju Gencatan Senjata dengan Iran

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 8 April 2026 | 15:30 WIB
Presiden Donald Trump. (Al Jazeera)
Presiden Donald Trump. (Al Jazeera)

RADARBANYUWANGI.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mengumumkan penangguhan serangan udara terhadap infrastruktur energi Iran selama dua minggu, seiring tercapainya gencatan senjata sementara dua sisi yang masih bergantung pada persetujuan Teheran untuk membuka Strait of Hormuz secara penuh dan segera. 

Keputusan tersebut menjadi titik balik penting dalam konflik yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah dan memicu gejolak pasar energi global selama lebih dari satu bulan terakhir.

Trump menyebut proposal 10 poin dari Iran yang disampaikan melalui mediasi Pakistan sebagai “dasar yang layak untuk bernegosiasi”, namun ia menegaskan bahwa proposal tersebut belum sepenuhnya memenuhi kepentingan Washington. 

Presiden AS itu juga memperingatkan bahwa apabila tidak tercapai kesepakatan final sebelum batas waktu dua minggu berakhir, Washington siap kembali melancarkan serangan udara besar-besaran.

Langkah Trump itu dinilai sebagai perubahan strategi yang signifikan setelah sebelumnya Gedung Putih terus meningkatkan tekanan militer terhadap Teheran.

Di sisi lain, Iran menyebut keputusan AS menerima pembicaraan berbasis proposal Teheran sebagai kekalahan diplomatik besar bagi Washington.

Pemerintah Iran mengklaim AS pada akhirnya terpaksa menerima kerangka 10 poin yang mereka susun sebagai fondasi negosiasi politik.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan bahwa perundingan resmi dengan AS akan dimulai pada Jumat, 10 April, di Islamabad, dengan durasi awal dua minggu yang bisa diperpanjang atas persetujuan kedua pihak. 

Keputusan Trump menerima gencatan senjata sementara ini disebut didorong oleh sejumlah faktor strategis.

1. Tekanan Ekonomi dan Ancaman Krisis Energi

Salah satu alasan utama adalah dampak ekonomi yang semakin mengkhawatirkan, terutama terkait kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Penutupan atau gangguan di jalur tersebut memicu lonjakan harga minyak dan mengganggu rantai pasok energi global. 

Sejumlah analis menilai Trump menghadapi tekanan besar dari pasar keuangan dan sektor industri energi untuk segera meredakan konflik.

Setelah pengumuman gencatan senjata, harga minyak dunia langsung terkoreksi tajam.

Harga minyak mentah AS dilaporkan turun sekitar 16 persen menjadi USD 94,59 per barel, sementara Brent melemah ke USD 92,35 per barel. 

Pasar saham Asia pun langsung merespons positif.

Indeks Nikkei Jepang melonjak sekitar 5 persen dan Kospi Korea Selatan naik 6 persen.

2. Tekanan Politik dan Ancaman Pemakzulan

Di dalam negeri, Trump juga menghadapi tekanan politik yang meningkat.

Sejumlah anggota Kongres dari Partai Demokrat kembali menggulirkan wacana pemakzulan.

Tokoh Demokrat Alexandria Ocasio-Cortez menilai kebijakan eskalasi terhadap Iran telah membahayakan stabilitas dunia.

Pernyataan tersebut menambah tekanan politik terhadap Gedung Putih di tengah tahun politik yang semakin memanas. 

3. Tidak Banyak Opsi Strategis

Para pengamat kebijakan luar negeri menyebut Trump tidak memiliki banyak pilihan.

Perang terbuka dengan Iran dinilai berisiko menghancurkan kredibilitas politik dan ekonomi pemerintahannya.

Konflik yang lebih luas berpotensi menyeret negara-negara Teluk dan memicu krisis energi yang lebih besar.

4. Pembukaan Selat Hormuz

Salah satu poin paling strategis dari kesepakatan ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz.

Trump menyebut pembukaan jalur tersebut sebagai kemenangan diplomatik sekaligus keberhasilan militer AS.

Jalur laut ini menjadi pusat perhatian dunia karena berperan besar terhadap distribusi minyak global. 

5. Menurunkan Harga Minyak dan Menenangkan Pasar

Gencatan senjata juga dinilai penting untuk menstabilkan harga minyak dunia dan mengurangi kepanikan pasar.

Investor global kini menunggu hasil perundingan di Islamabad yang akan menentukan apakah perdamaian sementara ini dapat berubah menjadi kesepakatan permanen. 

Meski begitu, sejumlah pihak mengingatkan bahwa kesepakatan ini masih sangat rapuh.

Jika pembicaraan gagal, konflik berpotensi kembali memanas dengan dampak yang jauh lebih besar terhadap ekonomi global dan stabilitas kawasan Timur Tengah. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Iran Amerika Serikat gencatan senjata Iran selat hormuz harga minyak dunia donald trump