RADARBANYUWANGI.ID – Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, memerintahkan seluruh unit militer negaranya untuk menghentikan serangan setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua minggu dengan Amerika Serikat (AS).
Namun, dalam pernyataan resminya, Mojtaba menegaskan bahwa kesepakatan tersebut bukan akhir dari perang yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah selama enam pekan terakhir.
Pernyataan itu disampaikan melalui siaran stasiun televisi pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), Rabu (8/4), beberapa jam setelah Washington dan Teheran secara resmi mengumumkan kesepakatan penghentian sementara tembakan yang dimediasi Pakistan.
“Ini bukanlah akhir dari perang, tetapi semua cabang militer harus mematuhi perintah Pemimpin Tertinggi dan menghentikan tembakan mereka,” tegas Mojtaba Khamenei dalam pernyataan resminya.
Kesepakatan tersebut menjadi titik balik penting dalam konflik yang selama beberapa pekan terakhir memicu kekhawatiran global, terutama terkait stabilitas jalur energi dunia di Strait of Hormuz.
Informasi yang beredar menyebut, gencatan senjata berlaku selama dua minggu dan menjadi bagian dari kerangka diplomatik yang dikenal sebagai Islamabad Accord, hasil mediasi intensif pemerintah Pakistan.
Meski demikian, nada keras tetap disampaikan Teheran.
Secara terpisah, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan bahwa penghentian tembakan tidak boleh dimaknai sebagai berakhirnya perang.
“Ditekankan bahwa ini tidak menandakan berakhirnya perang,” demikian bunyi pernyataan resmi lembaga tersebut.
Iran juga mengeluarkan peringatan keras kepada AS dan sekutunya.
“Jari kita tetap berada di pelatuk, dan jika kesalahan sekecil apa pun dilakukan oleh musuh, itu akan ditanggapi dengan kekuatan penuh,” tegas Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa meskipun jalur diplomasi mulai dibuka, situasi di lapangan masih sangat rapuh dan berpotensi kembali memanas sewaktu-waktu.
Konflik ini semakin rumit setelah Mojtaba Khamenei dikabarkan berada dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan medis darurat di kota Qom.
Sejumlah laporan media internasional menyebut pemimpin tertinggi Iran berusia 56 tahun itu dalam kondisi parah dan tidak dapat terlibat langsung dalam pengambilan keputusan strategis pemerintahan Teheran.
Kondisi tersebut memunculkan spekulasi mengenai siapa sosok yang sebenarnya mengendalikan arah kebijakan militer dan diplomasi Iran di tengah perang melawan AS dan Israel.
Ketidakpastian kepemimpinan ini menjadi perhatian dunia, terlebih setelah Mojtaba menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan gabungan AS-Israel pada akhir Februari lalu.
Di sisi lain, Teheran menegaskan bahwa penghentian perang secara permanen baru akan diterima apabila seluruh detail negosiasi disepakati berdasarkan rencana 10 poin yang diajukan Iran.
Proposal tersebut disebut sebagai revisi dari proposal 15 poin yang sebelumnya disampaikan Washington.
Isi rencana itu mencakup sejumlah tuntutan strategis, mulai dari pengendalian lalu lintas di Selat Hormuz, penarikan seluruh pasukan AS dari kawasan, pembayaran kompensasi perang kepada Iran, hingga pencabutan sanksi primer dan sekunder terhadap Teheran.
Perundingan lanjutan dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada Jumat (10/4) mendatang.
Negosiasi itu akan berlangsung selama masa gencatan senjata dua minggu dan dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan kedua pihak.
Meski ada secercah harapan menuju deeskalasi, pernyataan keras dari Teheran menegaskan bahwa kawasan Timur Tengah masih berada di ambang ketidakpastian.
Gencatan senjata ini lebih dipandang sebagai jeda taktis daripada penutup konflik.
Seluruh mata dunia kini tertuju pada hasil perundingan Islamabad yang akan menentukan apakah perang benar-benar dapat dihentikan, atau justru kembali pecah dengan skala yang lebih besar. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : The Times of India, The Guardian