RADARBANYUWANGI.ID – Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran memicu reaksi mengejutkan dari Israel.
Langkah tersebut bahkan disebut sebagai “kejutan total” oleh pejabat Israel di tengah situasi perang yang masih memanas.
Dilaporkan sejumlah media internasional seperti Al Jazeera dan CNN, hingga kini pemerintah Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kesepakatan tersebut.
Namun, seorang pejabat Israel yang enggan disebutkan namanya mengaku tidak menyangka perubahan sikap Washington yang dinilai sangat mendadak.
“Dari sudut pandang kami, ini adalah kejutan total,” ungkap pejabat tersebut, menggambarkan kebingungan yang muncul di kalangan pemerintah Israel.
Berubah Cepat dari Ancaman ke Gencatan
Keputusan Trump dinilai mengejutkan lantaran hanya beberapa jam sebelumnya, ia masih melontarkan ancaman keras terhadap Iran.
Bahkan, militer Amerika Serikat dilaporkan masih melancarkan serangan ke sejumlah titik strategis, termasuk Pulau Kharg yang menjadi salah satu pusat energi Iran.
Di saat yang sama, Israel juga masih melakukan serangan udara ke beberapa wilayah Iran. Kondisi ini membuat perubahan kebijakan AS dianggap tidak sinkron dengan dinamika di lapangan.
Menurut laporan Al Jazeera, pihak Israel hanya menerima pemberitahuan singkat terkait kesepakatan tersebut, tanpa koordinasi mendalam sebelumnya.
Iran dan AS Klaim Sama-sama Menang
Kesepakatan gencatan senjata ini dicapai setelah Iran menyodorkan 10 poin tuntutan kepada Amerika Serikat. Menariknya, kedua pihak sama-sama mengklaim kemenangan.
Iran menyebut kesepakatan ini sebagai bukti keberhasilan diplomasi mereka karena AS bersedia menerima tuntutan yang diajukan. Sementara itu, Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dilakukan karena tujuan militer AS telah tercapai.
“Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah,” tulis Donald Trump melalui pernyataan resminya.
Ia juga menegaskan bahwa kesepakatan tersebut menjadi langkah menuju perdamaian jangka panjang di kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz Dibuka, Negosiasi Dimulai
Salah satu poin penting dalam kesepakatan adalah pembukaan Selat Hormuz oleh Iran selama masa gencatan senjata. Jalur ini merupakan rute vital perdagangan minyak dunia.
Sebagai imbalannya, Iran sepakat memulai perundingan resmi dengan AS yang rencananya digelar di Islamabad, Pakistan. Negosiasi ini akan berlangsung selama dua pekan dengan kemungkinan diperpanjang jika kedua pihak menyetujui.
Israel Diprediksi Lakukan Tekanan Diplomatik
Dengan dinamika terbaru ini, Israel diperkirakan tidak akan tinggal diam. Sejumlah analis menilai Tel Aviv akan melakukan berbagai upaya di balik layar untuk memengaruhi keputusan AS.
Laporan Al Jazeera menyebutkan bahwa Israel kemungkinan akan melobi Washington agar membatalkan atau merevisi kesepakatan tersebut.
Selain itu, Israel juga tengah mempertimbangkan langkah strategisnya, termasuk kemungkinan menolak gencatan senjata jika kesepakatan AS-Iran benar-benar berjalan penuh.
Situasi Masih Penuh Ketidakpastian
Meski gencatan senjata telah disepakati, situasi di kawasan Timur Tengah masih jauh dari stabil. Ketidakpercayaan antara Iran dan AS masih tinggi, sementara Israel belum menentukan sikap resminya.
Perkembangan ini membuat pasar global, terutama sektor energi dan keamanan geopolitik, terus memantau setiap langkah yang diambil oleh para aktor utama konflik.
Gencatan senjata dua pekan ini pun dinilai sebagai momentum krusial: apakah akan menjadi pintu menuju perdamaian, atau justru hanya jeda sebelum konflik kembali memanas. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Aljazeera, CNN