Iran Klaim Menang Lawan AS dan Israel, Respons Penundaan Serangan Trump 2 Minggu

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Rabu, 8 April 2026 | 09:45 WIB
Ilustrasi rakyat Iran meyarakan klaim kemenangan perang atas AS dan Israel. (ChatGPT Image)
Ilustrasi rakyat Iran meyarakan klaim kemenangan perang atas AS dan Israel. (ChatGPT Image)

RADARBANYUWANGI.ID – Pemerintah Iran melalui Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengklaim kemenangan atas Amerika Serikat dan Israel, menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump yang menangguhkan serangan militer selama dua minggu.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Washington disebut menerima sejumlah poin penting dalam proposal yang diajukan Iran sebagai dasar negosiasi.

Dilansir dari berbagai media internasional, Rabu (8/4/2026), Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyebut langkah penundaan serangan merupakan bukti bahwa Iran berhasil memaksa Amerika Serikat untuk membuka jalur diplomasi.

Klaim AS Terima Proposal 10 Poin Iran

Dalam pernyataannya, dewan tersebut mengungkapkan bahwa Amerika Serikat pada prinsipnya telah menyetujui proposal 10 poin yang diajukan Iran.

Beberapa poin krusial yang diklaim disepakati antara lain:

Selain itu, pengoperasian jalur pelayaran di Selat Hormuz disebut akan dilakukan secara terkoordinasi dengan angkatan bersenjata Iran.

Iran Ajak Warga Rayakan “Kemenangan”

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran juga mengimbau masyarakat Iran untuk menjaga persatuan nasional dan merayakan apa yang mereka sebut sebagai kemenangan diplomatik.

“Penting untuk menjaga persatuan nasional sepenuhnya dan melanjutkan perayaan kemenangan dengan penuh semangat,” demikian pernyataan resmi dewan tersebut.

Meski demikian, Iran tetap menunjukkan sikap waspada terhadap kemungkinan eskalasi lanjutan.

“Tangan kita berada di pelatuk, dan jika musuh melakukan kesalahan sekecil apa pun, kita akan membalas dengan kekuatan penuh,” tegasnya.

Negosiasi Digelar di Islamabad

Iran memastikan bahwa proses negosiasi dengan Amerika Serikat akan segera dimulai di Islamabad.

Dalam tahap awal, Iran akan memberikan waktu dua minggu untuk proses perundingan tersebut, dengan kemungkinan perpanjangan jika disepakati kedua belah pihak.

Meski membuka ruang dialog, Iran menegaskan bahwa negosiasi dilakukan dengan “ketidakpercayaan penuh” terhadap pihak Amerika Serikat.

Trump Tunda Serangan, Syarat Selat Hormuz Dibuka

Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengumumkan penangguhan serangan terhadap Iran selama dua minggu.

Keputusan itu diambil setelah komunikasi dengan pimpinan Pakistan, termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan pejabat militer setempat.

Trump menyatakan bahwa penundaan serangan dilakukan dengan syarat Iran membuka akses Selat Hormuz secara penuh, aman, dan segera.

Ia juga mengungkapkan optimisme bahwa kesepakatan damai jangka panjang antara kedua negara semakin dekat.

“Kami telah menerima proposal 10 poin dari Iran dan percaya itu menjadi dasar yang dapat dijalankan untuk negosiasi,” ujar Donald Trump.

Selat Hormuz Dibuka Sementara

Menindaklanjuti kesepakatan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka sementara selama masa gencatan senjata.

Pengoperasian jalur strategis tersebut akan dilakukan dengan koordinasi ketat bersama militer Iran serta mempertimbangkan aspek teknis di lapangan.

Ketegangan Belum Sepenuhnya Reda

Meski kedua pihak mulai membuka ruang negosiasi, situasi di kawasan Timur Tengah masih menyimpan ketidakpastian tinggi.

Pengamat menilai, klaim kemenangan dari Iran dan optimisme dari pihak AS menunjukkan perbedaan persepsi yang berpotensi memengaruhi jalannya perundingan.

Dengan posisi Selat Hormuz sebagai jalur vital perdagangan energi dunia, perkembangan konflik ini akan terus menjadi perhatian global dalam beberapa pekan ke depan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Iran vs AS 2026 Donald Trump Iran negosiasi Iran AS selat hormuz konflik timur tengah