RADARBANYUWANGI.ID – Pasukan komando elite Amerika Serikat dilaporkan harus menerobos jauh ke wilayah Iran untuk menyelamatkan seorang pilot jet tempur F-15E Strike Eagle yang jatuh setelah ditembak sistem pertahanan udara Iran.
Insiden dramatis itu terjadi pada Jumat (3/4/2026) saat pesawat tempur milik Angkatan Udara AS terbang di atas wilayah Iran di tengah meningkatnya tensi militer di kawasan Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim operasi penyelamatan tersebut sebagai salah satu misi pencarian dan evakuasi paling berani dalam sejarah militer AS. Pernyataan itu disampaikan setelah personel yang hilang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, meski mengalami luka.
Menurut laporan sejumlah media internasional, termasuk The New York Times yang mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, unit elite Navy SEAL Team 6 ditugaskan untuk menembus wilayah pegunungan Iran demi menyelamatkan penerbang tersebut.
Operasi itu disebut berlangsung sangat berisiko karena pilot berada di wilayah musuh selama lebih dari satu hari sambil menghindari kejaran pasukan Iran.
Bertahan di Pegunungan, Hindari Penangkapan
Pilot yang identitasnya dirahasiakan itu dilaporkan berhasil keluar dari bangkai pesawat setelah jet tempur F-15E yang dia awaki ditembak jatuh.
Meski mengalami luka, penerbang tersebut masih mampu berjalan dan bertahan hidup di medan pegunungan yang terjal selama lebih dari 24 jam.
Ia disebut terus berpindah tempat untuk menghindari penangkapan oleh pasukan Iran yang juga memburu lokasi jatuhnya pesawat.
Selama masa bertahan hidup itu, sang pilot hanya dibekali pistol, alat pemancar sinyal darurat, serta perangkat komunikasi aman yang memungkinkannya tetap berkoordinasi dengan tim penyelamat AS.
Keberadaan perangkat komunikasi tersebut menjadi faktor kunci dalam menentukan titik evakuasi.
Pesawat Tempur AS Hujani Konvoi Iran dengan Bom
Untuk membuka jalur penyelamatan, pesawat tempur AS dilaporkan menjatuhkan bom dan melepaskan tembakan ke arah konvoi militer Iran yang mendekat ke area persembunyian pilot.
Langkah itu dilakukan untuk menjauhkan pasukan Iran dan memberikan waktu bagi unit komando memasuki lokasi.
Sejumlah laporan menyebutkan, drone dan pesawat tempur AS memberikan perlindungan udara intensif selama operasi berlangsung.
Serangan udara tersebut juga digunakan untuk menghalangi kendaraan Iran yang mencoba mengepung area pegunungan tempat pilot bersembunyi.
Navy SEAL Team 6 Dikerahkan
Unit yang diterjunkan dalam misi ini bukan pasukan biasa.
Navy SEAL Team 6 merupakan salah satu satuan operasi khusus paling elite milik militer Amerika Serikat yang dikenal menangani misi berisiko tinggi, termasuk operasi penyelamatan sandera dan infiltrasi wilayah musuh.
Satuan ini sebelumnya dikenal luas setelah menjalankan operasi yang menewaskan Osama bin Laden di Abbottabad, Pakistan, pada 2011.
Dalam operasi di Iran, mereka disebut harus bergerak diam-diam melewati wilayah pegunungan yang sulit, sembari menghindari deteksi radar dan patroli darat Iran.
Laporan Reuters menyebut operasi ini nyaris gagal ketika dua pesawat transportasi mengalami kendala saat proses evakuasi, memaksa militer AS mengirim gelombang pesawat tambahan.
Trump Sebut Operasi Paling Berani
Presiden Trump memuji keberhasilan operasi tersebut dan menyebut seluruh personel yang terlibat telah menunjukkan keberanian luar biasa.
“Ini adalah salah satu operasi pencarian dan penyelamatan paling berani dalam sejarah Amerika Serikat,” ujar Trump dalam pernyataannya.
Ia juga menegaskan bahwa pilot yang diselamatkan akan segera mendapatkan perawatan medis intensif.
Ketegangan AS-Iran Makin Memanas
Peristiwa penembakan jet tempur F-15E dan operasi penyelamatan dramatis ini diperkirakan akan semakin memperburuk hubungan antara Washington dan Teheran.
Insiden ini terjadi di tengah konflik yang terus memanas di kawasan, dengan aktivitas militer yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Iran sebelumnya mengklaim berhasil menembak jatuh pesawat tempur AS yang memasuki wilayah udaranya, sementara Washington menegaskan bahwa seluruh personelnya akan selalu diupayakan untuk dipulangkan. (*)
Editor : Ali Sodiqin