RADARBANYUWANGI.ID – Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam area dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr di Iran memicu kekhawatiran serius dunia internasional. Insiden yang terjadi Sabtu (4/4) itu disebut berpotensi memicu krisis radioaktif lintas negara di kawasan Teluk apabila eskalasi terus meningkat.
PLTN Bushehr merupakan satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir operasional milik Iran yang berada di pesisir selatan, menghadap langsung ke Teluk Persia. Posisi geografis tersebut membuat ancaman dampak radiasi tidak hanya berisiko bagi Iran, tetapi juga negara-negara tetangga seperti Kuwait, Bahrain, Qatar, hingga Uni Emirat Arab.
Penjaga PLTN Tewas, Rusia Evakuasi 198 Staf
Dalam serangan terbaru itu, satu orang penjaga fasilitas dilaporkan tewas akibat pecahan proyektil. Selain itu, satu bangunan penunjang di lokasi mengalami kerusakan akibat gelombang kejut dan serpihan ledakan.
Badan pengawas nuklir PBB, International Atomic Energy Agency (IAEA), membenarkan adanya insiden tersebut dan menyatakan bahwa ini merupakan serangan keempat dalam beberapa pekan terakhir di sekitar fasilitas Bushehr.
Sementara itu, perusahaan energi nuklir Rusia Rosatom mengonfirmasi telah mengevakuasi 198 staf tambahan dari lokasi.
Langkah ini merupakan bagian dari proses penarikan personel yang sudah dilakukan sejak konflik pecah pada akhir Februari.
Kepala Rosatom Alexei Likhachev bahkan memperingatkan bahwa situasi di sekitar PLTN mulai mengarah pada skenario terburuk.
Ia juga telah melaporkan perkembangan situasi kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.
Iran Ingatkan Ancaman Radioaktif ke Negara GCC
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengeluarkan peringatan keras terkait potensi dampak yang jauh lebih besar.
Menurut dia, jika fasilitas Bushehr sampai mengalami kebocoran radioaktif, maka negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) justru berpotensi terdampak lebih dulu dibanding Teheran.
“Ini bisa mengakhiri kehidupan di ibu kota negara-negara GCC, bukan di Teheran,” tegasnya.
Pernyataan tersebut dinilai sangat relevan mengingat lokasi Bushehr yang lebih dekat ke garis pantai negara-negara Teluk.
IAEA: Belum Ada Kenaikan Radiasi
Meski kekhawatiran meningkat, IAEA menegaskan bahwa hingga saat ini belum terdeteksi kenaikan tingkat radiasi di lokasi.
Kepala IAEA Rafael Grossi menegaskan bahwa fasilitas nuklir dan area sekitarnya tidak boleh menjadi target serangan dalam kondisi apa pun.
“Fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir atau area di sekitarnya tidak boleh pernah menjadi target serangan,” tegas Grossi.
Menurutnya, bangunan penunjang di area tersebut bisa menyimpan peralatan keselamatan vital yang sangat penting untuk mencegah kecelakaan nuklir.
Risiko Krisis Regional Meningkat
PLTN Bushehr saat ini menggunakan reaktor air bertekanan berkapasitas sekitar 1.000 megawatt, yang memasok listrik untuk ratusan ribu rumah dan sektor industri di Iran.
Meski kontribusinya terhadap total kebutuhan listrik nasional hanya sekitar 1–2 persen, Iran sedang mengembangkan dua reaktor tambahan masing-masing berkapasitas 1.000 megawatt.
Dengan intensitas serangan yang terus meningkat, para pengamat menilai konflik ini kini bukan lagi sekadar perang konvensional.
Ancaman terhadap fasilitas nuklir menjadikan situasi berkembang menjadi potensi krisis keselamatan regional yang bisa berdampak lintas negara. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : jawapos.com