RADARBANYUWANGI.ID– Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan telah melancarkan serangan yang menargetkan infrastruktur teknologi milik perusahaan Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Mengutip laporan kantor berita resmi Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA) dan Tasnim News Agency, serangan tersebut menyasar pusat komputasi awan milik Amazon di Bahrain serta basis data Oracle di Dubai, Uni Emirat Arab.
IRGC menyatakan, aksi tersebut merupakan bentuk pembalasan langsung atas serangan yang disebut dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap kediaman mantan Menteri Luar Negeri Iran, Kamal Kharrazi, di Teheran pada 1 April lalu.
Insiden itu dilaporkan menewaskan istrinya dan menyebabkan Kharrazi mengalami luka serius.
Dalam pernyataannya, IRGC mengklaim bahwa pusat data Amazon di Bahrain mengalami kehancuran total akibat serangan tersebut.
Iran juga menegaskan bahwa sebelumnya telah memberikan peringatan akan menargetkan perusahaan teknologi Amerika jika serangan terhadap kepemimpinan Iran terus berlanjut.
Seorang perwakilan Komando Angkatan Laut IRGC menyebutkan bahwa serangan tidak akan berhenti sampai ancaman terhadap para pemimpin Iran benar-benar dihentikan.
“Kami akan terus memperluas operasi jika upaya pembunuhan terhadap pemimpin Iran tidak dihentikan,” demikian pernyataan yang dikutip media setempat.
Tidak hanya sektor teknologi, militer Iran juga mengklaim telah menargetkan sejumlah fasilitas industri lain.
Di antaranya pabrik baja milik AS di Abu Dhabi, pabrik aluminium di Bahrain, serta fasilitas manufaktur senjata milik Rafael Israel.
Serangan tersebut disebut sebagai balasan atas aksi sebelumnya yang menargetkan industri baja Iran.
Namun demikian, klaim Iran langsung mendapat bantahan dari otoritas setempat. Pemerintah Dubai melalui Kantor Komunikasi resminya menyatakan bahwa laporan kerusakan pada fasilitas Oracle di wilayahnya tidak benar.
“Informasi yang beredar tersebut direkayasa dan tidak sesuai fakta,” demikian pernyataan resmi yang disampaikan melalui media sosial pada 3 April.
Dari pihak Bahrain, Kementerian Dalam Negeri setempat mengakui adanya serangan terhadap sejumlah bisnis di wilayahnya, namun tidak merinci perusahaan mana yang terdampak.
Sementara itu, pihak Amazon memilih tidak memberikan komentar terkait klaim serangan terbaru ini.
Meski demikian, sebelumnya pada 2 Maret, perusahaan tersebut mengonfirmasi bahwa fasilitasnya di Uni Emirat Arab dan Bahrain sempat menjadi sasaran serangan pesawat tanpa awak.
Perkembangan ini semakin memperkeruh situasi di Timur Tengah, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan blok Barat.
Serangan yang menyasar infrastruktur teknologi juga menandai eskalasi baru dalam konflik, di mana sektor digital dan industri strategis menjadi target utama.
Pengamat menilai, jika situasi ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas global, terutama di sektor teknologi dan ekonomi digital. (*)
Editor : Ali Sodiqin