RADARBANYUWANGI.ID – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas. Sebuah radar canggih milik Amerika Serikat dilaporkan mengalami kerusakan serius akibat serangan balasan Iran ke pangkalan militer AS di Arab Saudi.
Laporan stasiun televisi CNN menyebutkan bahwa radar AN/TPY-2 yang menjadi bagian penting dari sistem pertahanan rudal THAAD mengalami kerusakan signifikan di Pangkalan Udara Pangeran Sultan.
Berdasarkan citra satelit yang dianalisis, radar tersebut terlihat berada di area terbuka dengan kondisi memprihatinkan.
Antena utama tampak hangus terbakar, sementara sebagian besar komponen lainnya dilaporkan hilang atau hancur.
Radar AN/TPY-2 radar merupakan salah satu elemen kunci dalam sistem THAAD (Terminal High Altitude Area Defense).
Sistem ini dirancang untuk mendeteksi, melacak, dan menghancurkan rudal balistik jarak pendek hingga menengah.
Menurut dokumen anggaran Badan Pertahanan Rudal Amerika Serikat tahun 2025, nilai satu unit radar AN/TPY-2 mencapai 136 juta dolar AS atau setara sekitar Rp2,31 triliun.
Kerusakan ini dinilai sebagai pukulan signifikan terhadap sistem pertahanan udara AS di kawasan Timur Tengah.
Radar tersebut diketahui ditempatkan di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, salah satu fasilitas militer strategis yang digunakan oleh pasukan AS dan sekutunya untuk memantau aktivitas udara di kawasan.
Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi konflik yang lebih luas antara Iran dengan Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Israel.
Ketegangan meningkat setelah pada 28 Februari lalu, AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran.
Serangan tersebut menyasar berbagai fasilitas, termasuk di ibu kota Teheran, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa di kalangan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan ke sejumlah wilayah yang dianggap sebagai basis kepentingan AS dan sekutunya.
Target serangan mencakup wilayah Israel serta beberapa fasilitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
Beberapa negara yang dilaporkan terdampak antara lain Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, serta Arab Saudi.
Pengamat militer menilai, kerusakan radar AN/TPY-2 ini berpotensi melemahkan kemampuan deteksi dini terhadap ancaman rudal di kawasan.
Selain itu, insiden ini juga menunjukkan bahwa fasilitas militer berteknologi tinggi sekalipun tidak sepenuhnya kebal terhadap serangan presisi.
Hingga kini, pihak militer Amerika Serikat belum memberikan keterangan resmi terkait tingkat kerusakan maupun langkah lanjutan yang akan diambil.
Situasi ini menambah kekhawatiran global terhadap potensi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Sejumlah pihak internasional pun mendesak agar ketegangan segera diredakan guna menghindari eskalasi yang dapat berdampak pada stabilitas kawasan dan dunia. (*)
Editor : Ali Sodiqin