RADARBANYYUWANGI.ID – Jumlah korban tewas akibat serangan terhadap jembatan B1 di Karaj, Iran, terus bertambah. Otoritas setempat melaporkan sedikitnya delapan orang meninggal dunia, sementara 95 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang terjadi pada Kamis (2/4) waktu setempat.
Serangan tersebut menjadi salah satu eskalasi terbaru dalam konflik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah. Infrastruktur sipil kembali menjadi sasaran, memicu kekhawatiran internasional atas dampak kemanusiaan yang semakin meluas.
Jembatan B1 yang berada di Kota Karaj, Provinsi Alborz, diketahui merupakan salah satu proyek infrastruktur strategis dan disebut sebagai salah satu jembatan tertinggi di kawasan. Sebagian besar struktur tengah jembatan dilaporkan runtuh akibat dua kali serangan.
Serangan Terjadi Dua Kali
Berdasarkan laporan media pemerintah Iran, serangan terjadi dalam dua gelombang.
Serangan kedua disebut menghantam bagian tengah jembatan hingga menyebabkan kerusakan lebih parah.
Korban terdiri atas warga sipil, termasuk penduduk sekitar, pengguna jalan, serta keluarga yang sedang berada di kawasan bawah jembatan dalam rangka perayaan Nature Day, tradisi tahunan penutup libur Nowruz di Iran.
Pihak otoritas Alborz menyebut para korban luka langsung dievakuasi ke sejumlah rumah sakit terdekat.
Trump: Akan Ada Lebih Banyak Lagi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya secara terbuka menyinggung serangan tersebut.
Ia bahkan memperingatkan bahwa aksi militer lanjutan masih mungkin terjadi.
“Akan ada lebih banyak lagi,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip sejumlah media internasional.
Pernyataan itu dinilai mempertegas meningkatnya tensi antara Washington dan Teheran.
Trump juga mendesak Iran untuk segera mencapai kesepakatan guna mencegah serangan lanjutan.
Iran Bereaksi Keras
Pernyataan Trump langsung mendapat respons keras dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Menurutnya, serangan terhadap jembatan sipil tidak akan melemahkan posisi Iran.
“Ini justru menunjukkan kekalahan dan keruntuhan moral musuh yang sedang kacau,” katanya.
Araghchi juga menegaskan bahwa kerusakan fisik bukan persoalan utama bagi negaranya.
“Setiap jembatan dan bangunan akan dibangun kembali dengan lebih kuat,” ujarnya.
Namun, ia memperingatkan bahwa dampak jangka panjang justru akan dirasakan Amerika Serikat.
“Yang tidak akan pulih adalah kerusakan terhadap reputasi Amerika di mata dunia,” tegasnya.
Tekanan Internasional Diperkirakan Meningkat
Serangan terhadap jembatan B1 menambah daftar panjang sasaran infrastruktur dalam konflik terbaru Iran-AS.
Langkah ini memperkuat kekhawatiran bahwa eskalasi tidak lagi terbatas pada fasilitas militer, tetapi juga mulai menyasar objek sipil strategis.
Dengan jumlah korban sipil yang terus bertambah, tekanan internasional terhadap kedua pihak diperkirakan meningkat.
Meski demikian, hingga kini belum terlihat tanda-tanda deeskalasi di lapangan.
Konflik yang terus membesar ini dikhawatirkan dapat memicu instabilitas kawasan yang lebih luas, termasuk gangguan jalur energi dan perdagangan internasional. (*)
Editor : Ali Sodiqin