RADARBANYUWANGI.ID – Di balik agresivitas militer Israel dalam berbagai konflik di Timur Tengah, terdapat sosok jenderal yang kini memegang kendali di level tertinggi komando militer.
Dialah Eyal Zamir, Kepala Staf Umum Israel Defense Forces yang menjadi figur kunci dalam menerjemahkan kebijakan perang menjadi operasi nyata di lapangan.
Dalam sistem pemerintahan Israel, keputusan strategis militer ditentukan oleh pemerintah dan kabinet keamanan yang dipimpin perdana menteri. Setelah itu, komando operasional berada di tangan Kepala Staf IDF. Posisi inilah yang kini dipegang Zamir, menjadikannya penghubung utama antara keputusan politik dan pelaksanaan perang.
Perannya semakin krusial ketika Israel melancarkan operasi militer besar, termasuk serangan ke Iran dalam operasi yang dikenal sebagai Operation Roaring Lion sejak 28 Februari 2026. Dalam konteks ini, Zamir bukan sekadar pelaksana, tetapi arsitek strategi perang Israel.
Ditempa dari Korps Lapis Baja
Eyal Zamir lahir di Eilat pada 1966. Ia memulai karier militernya pada 1984 di Korps Lapis Baja IDF. Dari sinilah fondasi kepemimpinannya terbentuk.
Kariernya berkembang dari komandan peleton tank, komandan kompi, hingga memimpin batalion. Ia juga pernah menjabat sebagai perwira operasi di berbagai unit tempur, menunjukkan rekam jejak panjang di lapangan.
Pengalaman tempurnya mencakup operasi besar seperti Operation Defensive Shield di wilayah Jenin. Dalam operasi tersebut, Zamir memimpin brigade cadangan dan terlibat langsung dalam pertempuran intens di Tepi Barat.
Kariernya terus menanjak dengan memimpin berbagai divisi penting, termasuk Saar Megolan Division, Etgar Division, dan Gaash Division. Posisi-posisi ini membentuknya sebagai komandan yang matang dalam taktik dan strategi.
Dekat dengan Pusat Kekuasaan
Tak hanya kuat di lapangan, Zamir juga memiliki pengalaman strategis di lingkar kekuasaan. Pada 2012–2015, ia menjabat sebagai sekretaris militer untuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Posisi ini memberinya akses langsung ke pengambilan keputusan tingkat tinggi. Ia memahami dinamika politik, keamanan, hingga hubungan sipil-militer yang kompleks di Israel.
Setelah itu, Zamir dipercaya memimpin Southern Command (2015–2018), wilayah strategis yang berbatasan langsung dengan Gaza. Di sana, ia menangani ancaman terowongan Hamas dan ketegangan perbatasan yang intens.
Kariernya berlanjut sebagai Wakil Kepala Staf IDF (2018–2021) di bawah Aviv Kochavi. Dalam posisi ini, ia ikut merancang strategi militer jangka panjang dan menangani operasi lintas sektor, termasuk dukungan militer selama pandemi Covid-19.
Pada 2023, ia semakin dekat ke pusat kebijakan dengan menjabat Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel.
Naik di Masa Paling Kritis
Zamir resmi menjabat Kepala Staf IDF pada Maret 2025, menggantikan Herzi Halevi. Pergantian ini terjadi setelah kegagalan militer Israel dalam mencegah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Ia naik ke pucuk pimpinan dalam situasi yang sangat sensitif—ketika Israel masih dibayangi konflik berkepanjangan dan tekanan keamanan dari berbagai arah.
Sejak awal menjabat, Zamir langsung mengambil langkah tegas, termasuk mengevaluasi kegagalan militer sebelumnya dan menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perwira senior.
Pandangan Keras dan Strategis
Secara akademik, Zamir memiliki latar belakang kuat di bidang strategi. Ia meraih gelar dari Tel Aviv University dan Haifa University, serta mengikuti program manajemen di Wharton School.
Pandangan militernya dikenal tegas, terutama terhadap Iran. Ia menilai Iran tidak boleh dibiarkan mengembangkan senjata nuklir, bahkan jika harus dicegah melalui kekuatan militer.
Zamir juga mendorong modernisasi militer, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam strategi pertahanan.
Pada awal masa jabatannya, ia menegaskan bahwa konflik akan terus berlangsung dan Israel harus memperkuat kemandirian produksi senjata serta kesiapan tempur.
Bayang-bayang Kontroversi dan Kritik Global
Di balik perannya sebagai panglima tertinggi, kepemimpinan Zamir juga berada di bawah sorotan tajam dunia internasional, terutama terkait operasi militer Israel di Gaza.
Sejumlah organisasi seperti Human Rights Watch dan Amnesty International menyoroti dugaan pelanggaran hukum perang, termasuk serangan yang dinilai tidak proporsional.
Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menyebut kerusakan besar pada infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit dan fasilitas publik. Bahkan, muncul tuduhan serius terkait potensi kejahatan terhadap kemanusiaan.
Korban jiwa sipil dalam konflik Gaza disebut mencapai puluhan ribu orang, dengan mayoritas perempuan dan anak-anak. Selain itu, pengungsian massal dan krisis kemanusiaan menjadi dampak besar dari konflik tersebut.
Sebagai Kepala Staf IDF, Eyal Zamir kini berada di titik paling menentukan dalam kariernya. Ia tidak hanya memimpin militer dalam peperangan, tetapi juga menghadapi tekanan global yang terus meningkat.
Dengan kombinasi pengalaman tempur, kedekatan dengan pusat kekuasaan, serta pandangan strategis yang keras, Zamir menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam dinamika konflik Timur Tengah saat ini. (*)
Editor : Ali Sodiqin