RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, Presiden Iran Masoud Pezeshkian merilis surat terbuka yang ditujukan langsung kepada rakyat Amerika Serikat. Surat ini muncul sebagai respons atas pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim Iran ingin bernegosiasi untuk menghentikan perang.
Dalam suratnya, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tidak pernah memusuhi rakyat Amerika maupun bangsa lain. Ia juga meminta publik AS untuk melihat fakta sejarah secara lebih objektif di tengah narasi konflik yang berkembang.
“Iran tidak menyimpan permusuhan terhadap bangsa lain, termasuk rakyat Amerika, Eropa, dan negara tetangga lainnya,” tulis Pezeshkian.
Pezeshkian secara tegas menolak anggapan bahwa Iran merupakan ancaman global. Ia menilai persepsi tersebut tidak sesuai dengan fakta sejarah dan justru dibentuk oleh kepentingan politik tertentu.
“Iran tidak pernah memilih jalan agresi, ekspansi, atau kolonialisme dalam sejarah modernnya,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa Iran selama ini hanya bertindak defensif.
“Apa yang dilakukan Iran adalah tanggapan terukur berdasarkan pertahanan diri yang sah, bukan memulai perang,” tulisnya.
Dalam surat tersebut, Pezeshkian menyinggung akar panjang ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk peristiwa kudeta tahun 1953 yang didukung AS.
Menurutnya, intervensi tersebut merusak proses demokrasi Iran dan menanamkan ketidakpercayaan yang masih terasa hingga kini.
Selain itu, ia juga menyoroti dukungan AS terhadap rezim Syah, keterlibatan dalam konflik Iran-Irak, serta sanksi ekonomi yang berkepanjangan.
Pezeshkian mengkritik keras aksi militer terbaru AS dan sekutunya yang disebut telah menyasar infrastruktur sipil.
“Menyerang infrastruktur vital, termasuk fasilitas energi dan industri, secara langsung menargetkan rakyat Iran. Ini bukan demonstrasi kekuatan, melainkan tanda kebingungan strategis,” tegasnya.
Ia juga mempertanyakan dampak kemanusiaan dari perang tersebut.
“Apakah pembantaian anak-anak tak berdosa dan penghancuran fasilitas farmasi pengobatan kanker memiliki tujuan lain selain merusak reputasi global Amerika Serikat?” tulisnya.
Surat ini dirilis tak lama setelah Trump melontarkan pernyataan keras terkait Iran, termasuk ancaman untuk “menghancurkan Iran hingga kembali ke zaman batu” jika kepentingan AS tidak terpenuhi.
Trump juga mengklaim bahwa Iran telah meminta gencatan senjata, namun klaim ini dibantah oleh pihak Teheran.
Sejumlah analis menilai pernyataan Trump sebagai bagian dari strategi komunikasi politik yang emosional. Gaya tersebut dinilai menciptakan ketidakpastian di tengah tekanan ekonomi global akibat konflik.
Dalam bagian lain suratnya, Pezeshkian menyinggung dugaan keterlibatan Israel dalam mendorong konflik.
“Bukankah benar bahwa Amerika telah memasuki agresi ini sebagai perpanjangan tangan bagi Israel?” tulisnya.
Ia juga mempertanyakan apakah konflik ini digunakan untuk mengalihkan perhatian dunia dari isu Palestina.
Di akhir surat, Pezeshkian mengingatkan bahwa dunia saat ini berada di titik krusial.
“Dunia berada di persimpangan jalan. Pilihan antara konfrontasi dan keterlibatan akan menentukan masa depan generasi mendatang,” tulisnya.
Ia pun mengajak rakyat Amerika untuk melihat melampaui “banjir distorsi dan narasi buatan” serta mempertimbangkan jalur dialog sebagai solusi.
Surat terbuka ini dinilai sebagai langkah diplomasi publik Iran untuk memengaruhi opini masyarakat Amerika, sekaligus menekan pemerintah AS agar mempertimbangkan deeskalasi konflik yang kian memanas.
Editor : Lugas Rumpakaadi