Teheran Tegas: Tidak Ada Permintaan Damai ke AS, Iran Bantah Pernyataan Donald Trump di Tengah Serangan dan Krisis Energi Global

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 2 April 2026 | 13:10 WIB
Iran membantah klaim Donald Trump soal permintaan gencatan senjata. (JawaPos.com)
Iran membantah klaim Donald Trump soal permintaan gencatan senjata. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Pemerintah Iran membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah meminta gencatan senjata dalam konflik yang sedang berlangsung.

Juru bicara presiden Iran, Seyyed Mehdi Tabatabaei, menegaskan bahwa posisi Teheran tidak berubah terkait perang yang disebutnya sebagai “dipaksakan”. Dalam pernyataannya di platform X, ia menyampaikan sikap tegas pemerintah Iran.

“Posisi Republik Islam Iran mengenai pertahanan nasional atas integritas negara terhadap agresi musuh dan syarat untuk mengakhiri perang yang dipaksakan tidak berubah, dan tidak ada perhatian yang diberikan pada khayalan dan kebohongan para penjahat,” ujar Tabatabaei, Kamis (2/4/2026).

Ia juga menambahkan bahwa rakyat Iran tetap bersatu menghadapi situasi konflik saat ini.

“Rakyat Iran bertekad, teguh, dan bersatu dalam membela tanah air mereka. Persatuan adalah kunci kemenangan kita.”

Pernyataan Iran tersebut muncul setelah Trump menulis di Truth Social bahwa kepemimpinan Iran telah mengajukan permintaan gencatan senjata kepada Washington. Namun, Trump tidak menyebutkan secara rinci siapa pihak yang menyampaikan permintaan tersebut, hanya menyebutnya sebagai “Presiden rezim baru Iran”.

Dalam unggahan lainnya, Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mempertimbangkan gencatan senjata jika Iran membuka kembali Selat Hormuz.

“Amerika Serikat akan mempertimbangkan gencatan senjata ketika Selat Hormuz terbuka, bebas, dan bersih. Sampai saat itu, kita akan menghancurkan Iran hingga musnah atau, seperti yang mereka katakan, kembali ke zaman batu!” tulis Trump.

Teheran dengan cepat membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa tidak ada proses negosiasi yang sedang berlangsung dengan pihak Amerika Serikat.

Situasi di kawasan semakin memanas setelah Iran mengumumkan serangkaian serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Ledakan besar juga dilaporkan terjadi di ibu kota Iran pada Rabu (1/4/2026).

Sementara itu, Garda Revolusi Iran menyatakan akan terus menjaga penutupan Selat Hormuz bagi “musuh-musuh” negara tersebut. Selat strategis itu merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global, sehingga penutupannya telah memicu lonjakan harga energi dunia.

Di sisi lain, Trump dijadwalkan menyampaikan pidato nasional yang diperkirakan akan membahas perkembangan konflik. Pernyataannya sebelumnya menunjukkan perubahan nada, dari agresif hingga membuka kemungkinan penyelesaian dalam beberapa pekan.

Meski membantah adanya permintaan resmi, Presiden Pezeshkian sebelumnya menyatakan bahwa Iran memiliki “kemauan yang diperlukan” untuk mencapai gencatan senjata. Namun, hal tersebut hanya dapat dilakukan jika pihak lawan menjamin tidak akan melanjutkan permusuhan.

Menjelang pidato Trump, Pezeshkian juga mempertanyakan motif Amerika Serikat dalam konflik ini, sekaligus menuduh Washington melakukan kejahatan perang dan dipengaruhi oleh kepentingan Israel.

Editor : Lugas Rumpakaadi
krisis energi iran donald trump as Teheran