RADARBANYUWANGI.ID – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kian memanas. Teheran dilaporkan telah memobilisasi lebih dari satu juta kombatan sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi invasi darat AS, khususnya di wilayah strategis Pulau Kharg.
Langkah ini menandai eskalasi serius dalam konflik yang telah berlangsung beberapa pekan terakhir, terutama terkait perebutan kendali jalur vital energi dunia, Selat Hormuz.
Siap Ciptakan “Neraka Bersejarah”
Sumber militer Iran yang dikutip Tasnim News Agency menyebut bahwa pemerintah telah mengorganisir satu juta pejuang untuk menghadapi kemungkinan pertempuran darat melawan AS.
“AS ingin membuka Selat Hormuz dengan taktik bunuh diri dan penghancuran diri. Kami siap menghadapi strategi itu dan memastikan selat tetap tertutup,” ujar pejabat militer tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa gelombang antusiasme masyarakat terus meningkat, dengan ribuan sukarelawan mendaftar untuk ikut serta dalam konflik.
“Antusiasme ini akan menciptakan ‘neraka bersejarah’ bagi pasukan AS di Iran,” tambahnya.
Lonjakan Relawan dari Berbagai Elemen
Dalam beberapa hari terakhir, pusat-pusat perekrutan di Iran dilaporkan dipadati para pemuda yang ingin bergabung dengan berbagai elemen militer.
Di antaranya adalah pasukan paramiliter Basij, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta tentara reguler.
Mobilisasi besar-besaran ini menunjukkan kesiapan Iran dalam menghadapi kemungkinan eskalasi konflik ke tahap yang lebih luas.
Pulau Kharg Jadi Target Strategis
Pulau Kharg menjadi fokus utama dalam potensi konflik darat. Pulau ini merupakan tulang punggung ekonomi Iran karena memproses sekitar 90 persen ekspor minyak negara tersebut.
Secara geografis, Pulau Kharg berada sekitar 55 kilometer barat laut Pelabuhan Bushehr dan sekitar 28 kilometer dari daratan utama Iran.
Kontrol atas pulau ini dinilai sangat krusial, baik bagi Iran maupun AS, karena berpengaruh langsung terhadap distribusi energi global.
AS Pertimbangkan Invasi dan Tambah Pasukan
Di sisi lain, pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi untuk mengambil alih Pulau Kharg apabila Iran tetap menutup Selat Hormuz.
Sejumlah laporan menyebut Washington siap mengerahkan tambahan hingga 10.000 personel ke kawasan Teluk.
Pengerahan tersebut mencakup sekitar 5.000 marinir serta 2.000 pasukan terjun payung dari Divisi Airborne ke-82, ditambah kendaraan lapis baja, infanteri, dan skuadron jet tempur.
Langkah ini memperkuat indikasi bahwa opsi invasi darat bukan lagi sekadar wacana, melainkan kemungkinan nyata.
Selat Hormuz Jadi Titik Panas Global
Iran menegaskan komitmennya untuk mempertahankan penutupan Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan terhadap AS dan sekutunya.
Sebagai jalur yang dilalui hampir 20 persen pasokan minyak dunia, setiap gangguan di Selat Hormuz berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global, termasuk lonjakan harga energi.
Ancaman Konflik Skala Besar
Mobilisasi besar-besaran Iran dan pengerahan pasukan AS menandakan bahwa konflik berpotensi meningkat ke skala yang lebih luas, bahkan mengarah pada perang darat terbuka.
Situasi ini tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas global, baik dari sisi keamanan maupun ekonomi.
Dunia kini menyoroti perkembangan di Teluk Persia dengan kewaspadaan tinggi, mengingat setiap langkah yang diambil kedua negara dapat memicu eskalasi konflik yang lebih besar. (*)
Editor : Ali Sodiqin