RADARBANYUWANGI.ID – Intensitas perang antara Amerika Serikat dan Iran yang kini memasuki pekan keempat memunculkan kekhawatiran baru.
Militer AS dilaporkan telah meluncurkan sekitar 850 rudal jelajah Tomahawk dalam operasi militer yang berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Penggunaan masif ini memicu kekhawatiran internal di lingkungan Pentagon, karena persediaan rudal disebut mulai menipis ke level yang mengkhawatirkan.
Stok Disebut “Alarmingly Low”
Laporan The Washington Post mengungkapkan bahwa sejumlah pejabat militer AS menyebut stok rudal Tomahawk di kawasan Timur Tengah kini berada pada tingkat “alarmingly low” atau sangat rendah.
Bahkan, salah satu pejabat menggambarkan situasi tersebut mendekati istilah militer “Winchester”, yakni kondisi ketika amunisi hampir habis.
Digunakan Masif Sejak Awal Perang
Rudal Tomahawk, yang dapat diluncurkan dari kapal perang dan kapal selam Angkatan Laut AS, telah digunakan secara intens sejak hari pertama konflik.
Dengan harga lebih dari 2 juta dolar AS per unit, penggunaan ratusan rudal ini mencerminkan skala besar operasi militer yang tengah berlangsung.
Dalam laporan investigasi awal, satu rudal Tomahawk bahkan diduga menjadi penyebab serangan ke sebuah sekolah dasar di Minab, Iran selatan, yang menewaskan 175 orang, termasuk anak-anak.
Bisa Capai Seperempat Stok Nasional
Jumlah pasti stok rudal Tomahawk memang dirahasiakan. Namun, sejumlah analis memperkirakan bahwa 850 rudal yang telah digunakan bisa mencapai sekitar seperempat dari total persediaan nasional AS.
Center for Strategic and International Studies memperkirakan Angkatan Laut AS memiliki sekitar 3.000 rudal Tomahawk sebelum konflik dimulai.
Pakar pertahanan dari lembaga tersebut, Mark Cancian, mengingatkan bahwa penggunaan besar-besaran ini berpotensi menciptakan “kekosongan signifikan” jika AS harus menghadapi konflik lain, khususnya di kawasan Pasifik Barat.
Ia menambahkan, pengisian kembali stok tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Pentagon Bantah Krisis Amunisi
Meski muncul kekhawatiran, pihak Pentagon membantah adanya krisis persediaan senjata.
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menegaskan bahwa militer AS tetap memiliki kemampuan penuh untuk menjalankan operasi di berbagai wilayah.
Pernyataan serupa juga disampaikan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang memastikan tidak ada kekurangan amunisi.
Gedung Putih: Stok Masih Aman
Dari Gedung Putih, juru bicara Karoline Leavitt menyatakan bahwa stok senjata masih lebih dari cukup untuk mencapai target Operasi Epic Fury yang dicanangkan Presiden Donald Trump.
Produksi Akan Ditingkatkan
Sebagai langkah antisipasi, pemerintahan Trump telah menggelar pertemuan dengan industri pertahanan, termasuk Raytheon, yang merupakan produsen utama rudal Tomahawk.
Trump mengklaim perusahaan-perusahaan tersebut siap meningkatkan kapasitas produksi hingga empat kali lipat dalam waktu cepat guna menjaga kesiapan militer AS.
Risiko Strategis ke Depan
Penggunaan besar-besaran rudal Tomahawk ini tidak hanya mencerminkan eskalasi konflik yang tinggi, tetapi juga memunculkan risiko strategis jangka panjang bagi AS.
Jika konflik terus berlanjut atau meluas ke kawasan lain, keterbatasan stok senjata dapat menjadi tantangan serius dalam menjaga dominasi militer global.
Situasi ini sekaligus menjadi sinyal bahwa perang yang awalnya diperkirakan singkat kini berkembang menjadi konflik berkepanjangan dengan konsekuensi besar, baik secara militer maupun geopolitik global. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : The Washington Post