RADARBANYUWANGI.ID – Perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 diperkirakan semula hanya berlangsung singkat.
Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan konflik semakin meluas dan sulit dikendalikan.
Serangan awal yang ditujukan untuk melumpuhkan kepemimpinan Iran dan membuka jalan bagi pemerintahan baru yang lebih pro-Barat ternyata tidak berjalan sesuai rencana.
Meski sejumlah tokoh penting, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas, Teheran tetap menunjukkan perlawanan sengit.
Serangan Udara dan Korban Sipil Meningkat
Sejak hari pertama konflik, Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan udara intensif ke berbagai wilayah Iran, termasuk Teheran, Minab, dan sejumlah kota strategis lainnya.
Serangan tersebut menyebabkan dampak kemanusiaan yang besar. Sekitar 1.900 orang dilaporkan tewas di Iran, termasuk 175 siswi sekolah dasar. Selain itu, lebih dari 3,2 juta warga terpaksa mengungsi akibat eskalasi konflik.
Tidak hanya itu, dua pabrik baja utama serta sejumlah fasilitas penting, termasuk yang berkaitan dengan program nuklir Iran, dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat bombardir udara.
Iran Balas dengan Serangan Rudal dan Drone
Iran tidak tinggal diam. Negara tersebut merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke berbagai target, termasuk wilayah Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.
Serangan juga menjangkau Kuwait, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Yordania.
Di Abu Dhabi, serpihan rudal yang berhasil dicegat dilaporkan menewaskan dua orang. Sementara itu, Pelabuhan Shuwaikh di Kuwait juga menjadi sasaran serangan.
Klaim AS Hancurkan Ribuan Target
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengklaim pihaknya telah menghancurkan lebih dari 10.000 target di Iran.
Target tersebut mencakup fasilitas bawah tanah, infrastruktur militer, serta basis industri pertahanan. Selain itu, lebih dari 150 kapal Angkatan Laut Iran disebut telah ditenggelamkan.
Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Korban Meluas di Banyak Negara
Menurut laporan The Independent, total korban tewas akibat konflik ini telah melampaui 4.500 orang di lebih dari selusin negara.
Di Lebanon, bentrokan antara Israel dan kelompok Hizbullah turut memperparah situasi. Lebih dari 1.100 orang dilaporkan tewas dan jutaan lainnya mengungsi.
Selat Hormuz Jadi Senjata Strategis
Di tengah tekanan militer, Iran memanfaatkan kendalinya atas Selat Hormuz sebagai alat tekanan global.
Jalur ini diketahui menjadi jalur distribusi hampir 20 persen pasokan minyak dunia. Dengan membatasi akses kapal-kapal tertentu, Iran berhasil mengganggu distribusi energi global dan mendorong kenaikan harga minyak mentah.
Trump Tunda Serangan, Iran Menolak Negosiasi
Presiden AS, Donald Trump, dikabarkan menunda serangan lanjutan terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari.
Ia menyebut bahwa pembicaraan damai “berjalan sangat baik”. Namun, Iran menolak klaim tersebut dan menyebut proposal AS sebagai “sepihak dan tidak adil”.
Teheran mengajukan sejumlah syarat yang tidak bisa dinegosiasikan, termasuk pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz serta tuntutan ganti rugi perang.
Israel Tegaskan Serangan Tak Akan Berkurang
Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa negaranya tidak akan mengurangi intensitas serangan terhadap Iran.
Pernyataan ini semakin memperjelas bahwa konflik belum akan mereda dalam waktu dekat.
Dampak Global Kian Terasa
Konflik yang awalnya diprediksi sebagai operasi militer singkat kini berubah menjadi krisis geopolitik besar dengan dampak global.
Selain korban jiwa dan pengungsi dalam jumlah besar, gangguan terhadap pasokan energi dunia serta meningkatnya ketegangan regional menjadi ancaman serius bagi stabilitas internasional.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik menjadi perang regional berskala besar yang melibatkan lebih banyak negara di kawasan dan dunia. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : The Independent