RADARBANYUWANGI.ID – Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk mencapai titik panas setelah sejumlah negara mengumumkan menjadi sasaran serangan Iran, Jumat (27/3/2026).
Serangan tersebut disebut menargetkan lokasi dan kepentingan Amerika Serikat di kawasan, namun berdampak langsung pada infrastruktur sipil di beberapa negara.
Mengutip laporan Al Jazeera, sejumlah negara seperti Kuwait, Qatar, Bahrain, Arab Saudi, hingga Uni Emirat Arab melaporkan serangan berupa drone dan rudal balistik dalam waktu hampir bersamaan.
Pelabuhan Shuwaikh Kuwait Diserang Drone
Di Kuwait, Otoritas Pelabuhan Kuwait mengonfirmasi bahwa Pelabuhan Shuwaikh menjadi sasaran serangan drone.
Pelabuhan yang merupakan fasilitas komersial tertua dan terpenting di negara tersebut mengalami kerusakan material. Namun, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden tersebut.
Pihak otoritas langsung mengaktifkan prosedur darurat dan berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait untuk memastikan keamanan serta kelancaran operasional pelabuhan yang menjadi tulang punggung logistik nasional itu.
Pelabuhan Shuwaikh sendiri dikenal sebagai pusat distribusi utama barang dan kargo umum di kawasan pesisir barat Kota Kuwait.
Qatar Sempat Siaga Tinggi, Kini Kembali Normal
Situasi serupa juga terjadi di Qatar. Kementerian Dalam Negeri setempat sempat mengeluarkan peringatan tingkat ancaman keamanan tinggi.
Warga negara dan penduduk diimbau untuk tetap berada di dalam rumah, menjauhi jendela, serta menghindari area terbuka demi keselamatan.
Namun, beberapa waktu kemudian, pihak kementerian menyatakan bahwa ancaman telah berlalu dan kondisi keamanan telah kembali normal. Masyarakat tetap diminta mengikuti arahan resmi jika situasi kembali berubah.
Bahrain Cegat Ratusan Rudal dan Drone
Di Bahrain, sirene peringatan dibunyikan di berbagai wilayah. Pemerintah meminta warga segera menuju tempat aman terdekat.
Komando Umum Pasukan Pertahanan Bahrain melaporkan keberhasilan signifikan dalam menghadapi serangan tersebut.
Sejak awal serangan, mereka mengklaim telah mencegat dan menghancurkan 154 rudal serta 362 pesawat tanpa awak yang diarahkan ke wilayah kerajaan.
Langkah ini dinilai berhasil meminimalisir dampak yang lebih luas terhadap infrastruktur dan keselamatan warga.
Arab Saudi dan UEA Aktifkan Pertahanan Udara
Sementara itu, Arab Saudi melalui kantor berita resmi SPA melaporkan bahwa sistem pertahanan udara berhasil mencegat sejumlah drone yang masuk ke wilayah Riyadh dan kawasan timur.
Kementerian Pertahanan setempat juga mengungkapkan bahwa terdapat enam rudal balistik yang diluncurkan ke arah Riyadh.
Dua di antaranya berhasil dicegat, sementara sisanya jatuh di wilayah perairan Teluk dan daerah yang tidak berpenghuni.
Di Uni Emirat Arab, sistem pertahanan udara juga diaktifkan secara maksimal. Otoritas setempat menyatakan telah menangani 15 rudal balistik dan 11 drone yang datang dari arah Iran.
Dampak Konflik Iran vs AS dan Israel
Situasi ini tidak lepas dari eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Selama hampir satu bulan terakhir, Israel dan Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan ke wilayah Iran.
Sebagai balasan, Teheran meningkatkan intensitas serangan dengan meluncurkan rudal dan drone.
Tak hanya ke Israel, Iran juga menargetkan apa yang disebutnya sebagai kepentingan Amerika di negara-negara Teluk.
Namun, serangan tersebut justru berdampak pada fasilitas sipil dan memicu kecaman dari negara-negara yang terdampak.
Negara Teluk Desak Penghentian Serangan
Sejumlah negara Teluk mengecam keras serangan tersebut dan menuntut penghentian segera aksi militer Iran.
Mereka menilai serangan ini tidak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi memperluas konflik ke skala yang lebih besar.
Dengan meningkatnya intensitas serangan lintas negara, kekhawatiran akan eskalasi konflik regional pun semakin menguat.
Komunitas internasional kini menyoroti perkembangan situasi di Timur Tengah, sembari mendorong upaya deeskalasi untuk mencegah krisis yang lebih luas. (*)
Editor : Ali Sodiqin