RADARBANYUWANGI.ID – Negara-negara di kawasan ASEAN mulai bersiaga menghadapi dampak konflik di Timur Tengah terhadap pasokan energi global.
Berbagai kebijakan penghematan energi pun diterapkan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan energi nasional.
Langkah tersebut diambil sebagai respons atas potensi gangguan distribusi bahan bakar minyak (BBM) yang dapat memicu lonjakan harga dan tekanan inflasi di kawasan.
Berdasarkan data yang dirilis ANTARA, masing-masing negara ASEAN memiliki strategi berbeda sesuai kondisi domestik.
Indonesia Percepat Energi Alternatif
Indonesia memilih fokus pada penguatan energi alternatif. Pemerintah mempercepat implementasi program biodiesel B50 serta pengembangan bensin berbasis etanol E20.
Selain itu, penggunaan kendaraan listrik juga terus didorong sebagai bagian dari transisi energi.
Di sisi lain, pemerintah menerapkan skema kerja fleksibel bagi aparatur sipil negara (ASN) serta membatasi perjalanan dinas guna menekan konsumsi BBM.
Cadangan energi Indonesia saat ini berada di kisaran 24 hari.
Thailand dan Vietnam Dorong WFH
Thailand mengambil langkah agresif dengan menerapkan work from home (WFH) bagi pegawai negeri serta membatasi perjalanan dinas.
Masyarakat juga diimbau menghemat listrik, termasuk mengurangi penggunaan lift dan eskalator.
Sementara itu, Vietnam juga mengadopsi kebijakan serupa dengan mendorong WFH serta penggunaan transportasi umum dan kendaraan listrik.
Pemerintah Vietnam turut mengampanyekan efisiensi penggunaan bahan bakar di masyarakat.
Cadangan energi Thailand tercatat mencapai 90 hari, sedangkan Vietnam sekitar 15 hari.
Filipina Pangkas Hari Kerja
Filipina mengambil pendekatan berbeda dengan mengurangi hari kerja pegawai menjadi empat hari dalam sepekan.
Selain itu, penggunaan listrik dan bahan bakar di instansi pemerintah dipangkas hingga 20 persen.
Langkah ini dinilai efektif untuk menekan konsumsi energi dalam jangka pendek. Cadangan energi Filipina saat ini berada di angka 30 hari.
Malaysia dan Singapura Perkuat Subsidi
Malaysia memilih memperbesar anggaran subsidi BBM guna menjaga daya beli masyarakat di tengah potensi kenaikan harga energi.
Pemerintah juga aktif mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan energi.
Sementara itu, Singapura mengombinasikan kebijakan subsidi dengan bantuan sosial.
Pemerintah setempat meningkatkan bantuan biaya hidup, khususnya bagi kelompok rentan, serta menambah subsidi untuk listrik, air, dan gas.
Cadangan energi Singapura mencapai 90 hari, salah satu yang tertinggi di kawasan.
Laos Tekan Harga BBM
Berbeda dengan negara lain, Laos justru menurunkan harga BBM untuk mengendalikan inflasi.
Pemerintah juga meminta masyarakat dan pelaku usaha mengurangi perjalanan yang tidak esensial.
Namun, Laos memiliki cadangan energi paling rendah di ASEAN, yakni sekitar 10 hari, sehingga kebijakan efisiensi menjadi sangat krusial.
Antisipasi Dampak Global
Pengamat menilai langkah kolektif negara ASEAN ini menunjukkan keseriusan kawasan dalam menghadapi tekanan global akibat konflik Timur Tengah.
Selain menjaga stabilitas energi, kebijakan tersebut juga diharapkan mampu menekan dampak lanjutan seperti inflasi, perlambatan ekonomi, hingga gangguan sektor industri.
Dengan berbagai strategi yang diterapkan, negara-negara ASEAN berupaya menjaga ketahanan energi sekaligus melindungi daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung. (*)
Editor : Ali Sodiqin