Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

AS-Iran Beda Klaim Soal Negosiasi, Trump Tunda Ultimatum Hormuz 5 Hari, Teheran Sebut Hoaks

Ali Sodiqin • Selasa, 24 Maret 2026 | 10:23 WIB

Trump ultimatum Iran buka Selat Hormuz dalam 48 jam atau pembangkit listrik dihancurkan. Jalur vital energi dunia kini terancam konflik.
Trump ultimatum Iran buka Selat Hormuz dalam 48 jam atau pembangkit listrik dihancurkan. Jalur vital energi dunia kini terancam konflik.

RADARBANYUWANGI.ID - Ketidakpastian menyelimuti hubungan Amerika Serikat dan Iran di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.

Kedua negara kini saling bertolak belakang dalam memberikan pernyataan terkait kemungkinan adanya komunikasi menuju negosiasi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran.

Melalui unggahan di platform Truth Social pada Sabtu, Trump memberi tenggat 48 jam agar Teheran membuka kembali Selat Hormuz tanpa ancaman.

Jika tidak dipatuhi, Washington mengancam akan “menghantam dan menghancurkan” fasilitas pembangkit listrik Iran.

Namun perkembangan terbaru menunjukkan perubahan sikap. Pada Senin, Trump mengumumkan penundaan tenggat tersebut selama lima hari. Ia menyebut Iran masih memiliki “satu kesempatan lagi”.

Tak hanya itu, Trump juga mengklaim bahwa telah terjadi komunikasi antara kedua negara terkait upaya mencapai “penyelesaian total dan menyeluruh atas permusuhan” di Timur Tengah.

Iran Bantah Tegas: Tidak Ada Negosiasi

Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran. Ketua parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan apa pun dengan Amerika Serikat.

“Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS,” tegas Ghalibaf melalui pernyataannya di media sosial X.

Ia bahkan menyebut informasi mengenai adanya komunikasi atau perundingan sebagai “berita palsu” yang sengaja disebarkan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak global.

Pernyataan keras ini mempertegas sikap resmi Teheran yang menolak narasi adanya dialog langsung dengan Washington.

Ada Sinyal Tak Langsung Lewat Mediator

Meski demikian, sinyal berbeda justru datang dari sumber lain di internal Iran. Seorang pejabat senior Iran, seperti dikutip mitra BBC di AS, CBS News, mengungkapkan bahwa pihaknya memang menerima sejumlah poin dari Amerika Serikat.

“Kami menerima beberapa poin dari AS melalui mediator dan saat ini sedang ditinjau,” ujar pejabat tersebut.

Informasi ini membuka kemungkinan adanya komunikasi tidak langsung antara kedua negara. Namun, CBS News menegaskan bahwa langkah tersebut masih bersifat awal dan belum dapat dikategorikan sebagai negosiasi resmi.

Proses itu disebut hanya sebagai potensi awal menuju pembicaraan, bukan tanda bahwa perundingan telah dimulai.

Gedung Putih Minta Publik Tidak Berspekulasi

Di tengah simpang siur informasi, pihak Gedung Putih juga memberikan pernyataan yang lebih hati-hati. Pemerintah AS menegaskan bahwa situasi saat ini masih sangat dinamis.

Spekulasi mengenai adanya pertemuan atau negosiasi diminta untuk tidak dianggap sebagai fakta final sebelum diumumkan secara resmi.

“Situasi ini masih fluid. Spekulasi tentang pertemuan tidak boleh dianggap final hingga diumumkan resmi oleh Gedung Putih,” demikian pernyataan otoritas AS.

Dampak ke Pasar Global dan Energi

Perbedaan klaim antara Washington dan Teheran ini langsung berdampak pada ketidakstabilan pasar global, khususnya sektor energi.

Selat Hormuz, yang menjadi pusat perhatian dalam konflik ini, merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dunia. Ketidakpastian terkait keamanan jalur tersebut membuat pasar minyak sangat sensitif terhadap perkembangan situasi.

Analis menilai, isu negosiasi—benar atau tidak—sering kali digunakan sebagai instrumen untuk memengaruhi sentimen pasar, termasuk harga minyak dan gas global.

Ketegangan Masih Tinggi

Penundaan ultimatum oleh Donald Trump memberikan sedikit ruang bagi diplomasi. Namun, perbedaan pernyataan antara kedua pihak menunjukkan bahwa jalan menuju dialog masih penuh ketidakpastian.

Di satu sisi, Amerika Serikat membuka peluang penyelesaian konflik melalui komunikasi. Namun di sisi lain, Iran tetap bersikukuh bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung.

Situasi ini mencerminkan kompleksitas hubungan kedua negara yang selama ini dipenuhi ketegangan dan ketidakpercayaan.

Menanti Kepastian Arah Konflik

Dunia internasional kini menunggu kejelasan arah hubungan AS-Iran dalam beberapa hari ke depan. Tenggat baru yang diberikan Trump bisa menjadi penentu apakah konflik akan mereda atau justru semakin memanas.

Satu hal yang pasti, Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial. Setiap perkembangan di kawasan tersebut berpotensi membawa dampak besar, tidak hanya bagi Timur Tengah, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi global.

Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai dimulainya negosiasi. Yang ada baru sinyal-sinyal awal yang masih perlu diuji kebenarannya. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Ultimatum #selat hormuz #Krisis Timur Tengah #Trump Iran negosiasi #komunikasi AS Iran #Ghalibaf Iran #konflik AS Iran #Trump ultimatum Iran #Pasar minyak global