Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Trump Ultimatum Iran 48 Jam Buka Selat Hormuz, Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik Teheran

Ali Sodiqin • Senin, 23 Maret 2026 | 12:30 WIB

Trump ultimatum Iran buka Selat Hormuz dalam 48 jam atau pembangkit listrik dihancurkan. Jalur vital energi dunia kini terancam konflik.
Trump ultimatum Iran buka Selat Hormuz dalam 48 jam atau pembangkit listrik dihancurkan. Jalur vital energi dunia kini terancam konflik.

RADARBANYUWANGI.ID - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencapai titik kritis. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka melontarkan ultimatum keras kepada Teheran untuk segera membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.

Jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, Washington mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur vital Iran, khususnya pembangkit listrik.

Pernyataan tegas itu disampaikan langsung oleh Trump melalui unggahan resminya pada 21 Maret pukul 23.44 GMT.

“Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz dalam 48 JAM sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai PEMBANGKIT LISTRIK mereka, DIMULAI DARI YANG TERBESAR!” tulis Trump dalam pernyataannya.

Berdasarkan waktu tersebut, Iran memiliki tenggat hingga 23.44 GMT pada 23 Maret, atau sekitar pukul 03.14 waktu Teheran (06.44 WIB), untuk memenuhi tuntutan Washington.

Selat Hormuz: Urat Nadi Energi Dunia

Ultimatum ini menjadi sorotan global karena menyangkut Selat Hormuz—jalur laut sempit namun sangat vital bagi distribusi energi dunia.

Secara geografis, selat ini diapit Iran di bagian utara, serta Oman dan Uni Emirat Arab di sisi selatan. Lebarnya sekitar 50 kilometer di kedua ujung dan menyempit hingga 33 kilometer di titik tersempit.

Meski sempit, jalur ini cukup dalam untuk dilalui kapal tanker raksasa pengangkut minyak mentah dan gas alam cair (LNG). Selat Hormuz menjadi penghubung utama antara Teluk Persia dan Laut Arab.

Data Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menyebutkan, pada 2025 sekitar 20 juta barel minyak per hari—atau hampir seperlima pasokan global—melintasi jalur ini.

Nilai perdagangan energi yang melewati Selat Hormuz diperkirakan mencapai hampir USD 600 miliar per tahun.

Tak hanya minyak, sekitar 20 persen LNG dunia juga dikirim melalui jalur ini. Negara seperti Qatar menjadi eksportir utama, dengan pengiriman mencapai 9,3 miliar kaki kubik per hari.

Selain energi, selat ini juga menjadi jalur penting distribusi pupuk global serta berbagai kebutuhan dasar ke Timur Tengah, mulai dari bahan pangan hingga obat-obatan.

Ancaman Serangan dan Penurunan Lalu Lintas Kapal

Sejak konflik memanas, situasi keamanan di Selat Hormuz memburuk drastis. Serangan terhadap kapal-kapal niaga meningkat, memicu ketakutan di kalangan pelaku industri pelayaran global.

Menurut laporan kantor berita AFP, sedikitnya 21 kapal telah menjadi sasaran serangan atau ancaman sejak konflik berlangsung. Salah satu insiden bahkan melibatkan kapal dengan empat awak warga negara Indonesia, di mana tiga di antaranya masih belum diketahui nasibnya.

Data pelayaran menunjukkan penurunan signifikan aktivitas di selat tersebut. Sepanjang bulan ini, hanya sekitar 99 kapal yang melintas—turun jauh dari rata-rata normal sekitar 138 kapal per hari sebelum konflik.

Sebagian kapal yang masih beroperasi diketahui memiliki keterkaitan dengan Iran, termasuk kapal berbendera Iran maupun yang terkena sanksi terkait perdagangan minyak Teheran.

“Risiko serangan membuat biaya asuransi melonjak tajam. Banyak kapal memilih menunggu hingga situasi aman,” ujar Arne Lohmann Rasmussen, analis Global Risk Management.

Ia menambahkan, meskipun tidak ada blokade fisik, ancaman drone dan rudal membuat kapal tanker enggan melintasi kawasan tersebut.

Harga Minyak Dunia Melonjak

Dampak langsung dari ketegangan ini terasa di pasar global. Harga minyak mentah kini menembus di atas USD 100 per barel—melonjak hampir 70 persen sepanjang tahun ini.

Kenaikan tajam tersebut dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global jika Selat Hormuz benar-benar ditutup atau tidak aman dilalui.

Respons Dunia: Sekutu AS Mulai Menjauh

Di tengah eskalasi ini, Trump juga meminta negara-negara sekutu untuk mengirim kapal perang guna mengamankan jalur pelayaran. Namun, respons yang diterima jauh dari harapan.

Negara-negara seperti Inggris, Jerman, Australia, Spanyol, dan Jepang secara tegas menolak terlibat dalam konflik militer langsung melawan Iran.

Penolakan tersebut menunjukkan kekhawatiran global akan meluasnya konflik menjadi perang besar di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak bergantung pada dukungan sekutu.

Opsi Militer dan Sejarah Konflik

Sejauh ini, Amerika Serikat belum mengerahkan armada besar ke Selat Hormuz. Operasi militer masih terbatas pada serangan udara, termasuk terhadap fasilitas militer Iran.

Pada 18 Maret, militer AS dilaporkan menghancurkan lokasi peluncur rudal anti-kapal milik Iran di sekitar selat.

Situasi ini mengingatkan pada konflik “Perang Tanker” pada akhir 1980-an saat perang Iran-Irak, di mana kapal-kapal minyak menjadi target utama serangan.

Kala itu, Angkatan Laut AS bahkan mengawal kapal tanker dalam operasi besar yang disebut sebagai salah satu pertempuran laut terbesar sejak Perang Dunia II.

Jalur Alternatif Belum Mampu Gantikan Hormuz

Sejumlah negara Teluk sebenarnya telah menyiapkan jalur alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.

Arab Saudi, misalnya, memiliki pipa minyak East–West sepanjang 1.200 kilometer dengan kapasitas hingga lima juta barel per hari. Uni Emirat Arab juga memiliki jaringan pipa menuju Pelabuhan Fujairah.

Namun, kapasitas jalur alternatif tersebut masih jauh dari cukup untuk menggantikan volume distribusi melalui Selat Hormuz.

Bahkan jika dialihkan, pasokan global diperkirakan tetap akan berkurang hingga 8–10 juta barel per hari.

Ancaman Eskalasi Besar

Ultimatum dari Donald Trump menandai babak baru dalam ketegangan AS-Iran. Jika tidak ada kompromi dalam tenggat waktu yang ditentukan, dunia berpotensi menyaksikan eskalasi konflik besar yang berdampak luas.

Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut—melainkan urat nadi ekonomi global. Gangguan di kawasan ini bukan hanya berdampak regional, tetapi juga mengguncang stabilitas energi dan ekonomi dunia.

Hingga kini, dunia internasional menanti respons resmi dari Iran atas ultimatum tersebut. Situasi tetap tegang, dan waktu terus berjalan menuju tenggat yang ditentukan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#perang timur tengah #selat hormuz #iran #harga minyak dunia #donald trump #jalur energi global #ancaman militer AS #konflik AS Iran #Trump ultimatum Iran #amerika serikat