RADARBANYUWANGI.ID - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah terus berdampak pada stabilitas pelayaran global, khususnya di Selat Hormuz. Pemerintah Inggris mengungkapkan bahwa saat ini sedikitnya 20 negara telah menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya konflik regional yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Jalur Selat Hormuz sendiri merupakan rute vital distribusi energi global, termasuk minyak dan gas alam cair (LPG), dari kawasan Teluk ke berbagai negara di dunia.
Sebelumnya, pada Kamis (19/3/2026), enam negara yakni Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang telah mengeluarkan pernyataan bersama terkait komitmen tersebut.
Dalam pernyataan itu, mereka menegaskan, "Kami menyatakan kesiapan untuk berkontribusi langkah yang tepat untuk memastikan pelayaran aman di Selat Hormuz. Kami menyambut komitmen bangsa-bangsa yang terlibat dalam rencana persiapannya."
Keenam negara juga menyoroti bahwa gangguan terhadap pelayaran internasional dan rantai pasok energi global "merupakan ancaman bagi perdamaian dan keamanan global." Mereka turut menyerukan penerapan "moratorium yang komprehensif dan segera" guna menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk fasilitas minyak dan gas.
Perkembangan terbaru menunjukkan dukungan yang semakin luas. Pada Sabtu, jumlah negara yang menyatakan kesiapan bergabung bertambah menjadi 20, dengan masuknya 14 negara baru seperti Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Norwegia, Swedia, hingga Finlandia dan sejumlah negara Eropa lainnya.
Ketegangan ini berakar dari serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran pada 28 Februari, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Dampak langsung dari eskalasi konflik tersebut adalah terhentinya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Kondisi ini memicu gangguan serius pada distribusi energi global, yang kemudian berimbas pada kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara.
Editor : Lugas Rumpakaadi