Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

AS Kesulitan Buka Selat Hormuz, Operasi Militer Hadapi Hambatan Besar

Lugas Rumpakaadi • Minggu, 22 Maret 2026 | 16:15 WIB

China tak bantu AS buka Selat Hormuz. Perang Iran paksa Trump tunda kunjungan ke Beijing, picu kekhawatiran geopolitik global.
China tak bantu AS buka Selat Hormuz. Perang Iran paksa Trump tunda kunjungan ke Beijing, picu kekhawatiran geopolitik global.

RADARBANYUWANGI.ID - Rencana Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz menghadapi tantangan serius di lapangan. Meskipun telah mengerahkan kekuatan militer besar ke kawasan Timur Tengah, jalur strategis yang menjadi urat nadi sekitar 20 persen pasokan energi dunia itu hingga kini belum sepenuhnya aman.

Sejak pertengahan Maret, Washington meningkatkan kehadiran militernya dengan mengirim kapal perang amfibi, termasuk USS Tripoli, serta ribuan personel Marinir yang dikerahkan dari Jepang. Langkah ini menjadi bagian dari operasi besar untuk menekan Iran sekaligus memastikan kelancaran distribusi energi global.

Selain itu, Amerika Serikat juga melancarkan serangan udara yang menargetkan fasilitas militer Iran di sekitar selat. Operasi tersebut dilaporkan melibatkan penggunaan bom penghancur bunker serta serangan terhadap aset laut Iran.

Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil signifikan. Selat Hormuz masih berada di bawah tekanan Iran, yang menggunakan berbagai taktik asimetris seperti ranjau laut, drone, dan kapal cepat untuk mengganggu pergerakan kapal tanker.

Dalam perkembangan terbaru, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai memberikan sinyal perubahan arah kebijakan. “Kami sedang mempertimbangkan untuk mengurangi operasi,” ujarnya, Minggu (22/3/2026).

Pernyataan ini mencerminkan adanya evaluasi terhadap efektivitas operasi yang telah berjalan. Trump bahkan meminta sekutu untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga keamanan Selat Hormuz.

Namun, respons dari negara-negara sekutu tergolong minim. Beberapa negara seperti Jepang dan Australia dilaporkan menolak untuk mengirim kapal perang dan terlibat langsung dalam operasi militer tersebut.

Di sisi lain, Iran tetap menunjukkan ketahanan militernya. Meskipun telah menjadi target berbagai serangan, tekanan terhadap jalur pelayaran strategis itu tidak berkurang.

Situasi ini menegaskan bahwa dominasi teknologi dan kekuatan militer tidak serta-merta menjamin keberhasilan di medan konflik yang kompleks. Operasi di Selat Hormuz kini berkembang menjadi tantangan multidimensi, dipengaruhi oleh tingginya resistensi Iran, terbatasnya dukungan sekutu, serta dampak global berupa kenaikan harga energi.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#selat hormuz #iran #as