Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Iran Luncurkan Rudal Balistik 4.000 Km, Israel Peringatkan Ancaman Bisa Capai Eropa

Ali Sodiqin • Minggu, 22 Maret 2026 | 09:23 WIB

Iran dilaporkan meluncurkan dua rudal balistik jarak menengah (intermediate-range ballistic missile) menuju pangkalan militer bersama Amerika Serikat dan Inggris di Diego Garcia.
Iran dilaporkan meluncurkan dua rudal balistik jarak menengah (intermediate-range ballistic missile) menuju pangkalan militer bersama Amerika Serikat dan Inggris di Diego Garcia.

RADARBANYUWANGI.ID – Eskalasi perang di Timur Tengah memasuki babak baru.

Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik jarak jauh hingga 4.000 kilometer yang menargetkan pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia.

Serangan ini disebut sebagai penggunaan pertama rudal jarak jauh oleh Teheran sejak konflik dengan Israel pecah pada 28 Februari 2026.

Kepala militer Israel, Eyal Zamir, menyebut peluncuran dua rudal tersebut memperluas ancaman secara signifikan, bahkan hingga ke wilayah Eropa.

“Rudal ini tidak dimaksudkan untuk menyerang Israel. Jangkauannya mencapai ibu kota Eropa seperti Berlin, Paris, dan Roma,” ujarnya.

Ancaman Meluas hingga Eropa

Pernyataan militer Israel menegaskan bahwa konflik tidak lagi terbatas di kawasan Timur Tengah.

Dengan jangkauan hingga 4.000 kilometer, sejumlah kota besar di Eropa kini masuk dalam radius ancaman.

Langkah ini menjadi sinyal bahwa perang berpotensi berubah menjadi konflik global jika eskalasi terus meningkat.

Target Serangan: Pangkalan Diego Garcia

Sasaran rudal Iran disebut mengarah ke Diego Garcia, pangkalan militer strategis milik AS dan Inggris di Samudra Hindia.

Serangan ini terjadi sebelum pemerintah Inggris memberikan otorisasi kepada Amerika Serikat untuk menggunakan fasilitas militer mereka dalam operasi terhadap Iran.

Sikap Donald Trump Berubah-ubah

Di tengah ketegangan, Presiden AS Donald Trump justru memberi sinyal ingin mengurangi operasi militer.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut Amerika Serikat tengah mempertimbangkan untuk mengakhiri secara bertahap operasi besar di Timur Tengah.

Namun, di sisi lain, AS tetap mengirim pasukan tambahan, termasuk marinir dan kapal pendarat berat ke kawasan konflik.

Pernyataan yang berubah-ubah ini membuat sekutu AS, termasuk negara-negara NATO, kesulitan menentukan posisi.

Serangan Lanjutan: Dimona hingga Natanz

Selain serangan jarak jauh, Iran juga melancarkan rudal ke wilayah selatan Israel, tepatnya di Dimona—lokasi yang dikenal dekat dengan fasilitas nuklir rahasia Israel.

Serangan tersebut menyebabkan seorang anak mengalami luka parah dan puluhan lainnya terluka.

Di sisi lain, media Iran melaporkan serangan terhadap kompleks nuklir Natanz Shahid Ahmadi-Roshan.

Namun, Badan Energi Atom Internasional menyatakan masih melakukan investigasi dan tidak ada kebocoran radioaktif yang terdeteksi.

Serangan ke Infrastruktur Energi dan Laut

Eskalasi juga meluas ke sektor energi. Iran melaporkan adanya serangan di wilayah strategis seperti:

Selain itu, Iran juga mengklaim telah meluncurkan drone ke pangkalan AS di Uni Emirat Arab dan Kuwait.

Langkah ini meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

Israel Balas Serangan, Targetkan Teheran

Sebagai respons, Israel meningkatkan intensitas serangan udara, termasuk menargetkan fasilitas produksi rudal di sekitar Teheran.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan pihaknya akan terus melanjutkan operasi militer.

“Kami akan menggagalkan kemampuan strategis Iran hingga semua ancaman terhadap Israel dan kepentingan AS dihilangkan,” tegasnya.

Korban Jiwa dan Dampak Global

Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas di Iran.

Di dalam negeri AS, kekhawatiran meningkat seiring dampak ekonomi yang mulai terasa, terutama lonjakan harga energi yang mendorong inflasi.

Situasi ini juga menjadi tantangan politik bagi Presiden Trump menjelang pemilu November.

Risiko Konflik Global Semakin Nyata

Dengan penggunaan rudal jarak jauh dan meluasnya target serangan, konflik Iran-Israel kini berpotensi berubah menjadi krisis global.

Ancaman terhadap Eropa, gangguan jalur energi, serta ketegangan antara kekuatan besar dunia membuat situasi semakin sulit diprediksi.

Peluncuran rudal balistik jarak jauh oleh Iran menandai fase baru dalam konflik dengan Israel.

Tidak hanya meningkatkan eskalasi militer, langkah ini juga memperluas ancaman hingga ke luar Timur Tengah.

Jika tidak segera diredam, konflik ini berpotensi berkembang menjadi krisis global dengan dampak besar bagi keamanan dan ekonomi dunia. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Iran rudal balistik #Konflik Timur Tengah terbaru #rudal balistik #Perang Iran Israel 2026 #Diego Garcia diserang #Diego Garcia #ancaman Eropa #Iran luncurkan rudal Sejjil