Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Trump Berbalik Arah, AS Tak Butuh Bantuan NATO di Selat Hormuz Meski Ancaman Iran Memanas

Ali Sodiqin • Rabu, 18 Maret 2026 | 15:00 WIB

Trump akui keputusan akhiri serangan ke Iran diambil bersama Netanyahu.
Trump akui keputusan akhiri serangan ke Iran diambil bersama Netanyahu.

RADARBANYUWANGI.ID - Langkah mengejutkan kembali diambil Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Setelah sebelumnya mendesak sekutu global untuk ikut mengamankan Selat Hormuz dari ancaman Iran, Trump kini justru menyatakan bahwa negaranya tidak lagi membutuhkan bantuan militer dari pihak luar.

Pernyataan itu disampaikan Selasa waktu setempat, baik melalui media sosial maupun saat pertemuan di Gedung Putih bersama Perdana Menteri Irlandia, Micheál Martin.

“Kami sebenarnya tidak membutuhkan bantuan apa pun,” ujar Trump di hadapan wartawan di Oval Office.

Sikap Berubah Hanya Dalam Sehari

Keputusan ini terbilang kontras. Sehari sebelumnya, Trump masih menyerukan negara-negara lain untuk “terlibat” dalam menjaga keamanan jalur pelayaran strategis tersebut.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi minyak dunia yang kini praktis terganggu akibat serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker.

Perubahan sikap mendadak ini memunculkan tanda tanya besar di kalangan analis dan sekutu internasional.

Sekutu NATO Enggan Terlibat

Sikap Trump diyakini tidak lepas dari respons dingin negara-negara sekutu, khususnya di Eropa.

Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius secara tegas menyatakan bahwa konflik tersebut bukan perang mereka.

Senada, Presiden Prancis Emmanuel Macron menolak keterlibatan militer dalam membuka Selat Hormuz selama konflik masih berlangsung.

Penolakan ini menunjukkan retaknya solidaritas dalam aliansi NATO, yang selama ini menjadi tulang punggung kerja sama militer Barat.

“America First” Kembali Ditekankan

Gedung Putih menegaskan bahwa keputusan Trump tetap sejalan dengan doktrin “America First”.

Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menyebut bahwa Trump telah lama menyoroti ketimpangan dalam hubungan internasional, di mana AS sering menanggung beban lebih besar dibanding sekutunya.

“Presiden akan terus memperkuat keamanan nasional AS dengan atau tanpa NATO,” tegasnya.

Pendekatan ini sekaligus mempertegas skeptisisme Trump terhadap aliansi militer multilateral.

Dampak Politik dan Ekonomi Mulai Terasa

Perang yang dimulai sejak 28 Februari 2026 antara AS-Israel melawan Iran kini mulai memicu dampak luas, termasuk lonjakan harga bahan bakar.

Kondisi ini menjadi tekanan politik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu Kongres pada November mendatang.

Sementara itu, hingga kini belum ada daftar resmi negara yang bersedia membantu AS, meski sebelumnya Trump mengklaim banyak pihak siap bergabung.

Kritik dari Sekutu dan Diplomat

Sejumlah diplomat Eropa mengkritik pendekatan Trump yang dinilai terlalu agresif dan kurang diplomatis.

Peter Westmacott, mantan duta besar Inggris untuk AS, menyebut gaya komunikasi Trump yang “menekan” tidak disukai oleh sekutu Eropa.

Bahkan seorang diplomat Eropa secara anonim menyebut bahwa permintaan bantuan AS sulit diterima karena konflik tersebut dianggap dipicu oleh Washington sendiri.

Risiko Strategis: Selat Hormuz Tetap Rawan

Meski AS menyatakan mampu bertindak sendiri, para analis menilai situasi di Selat Hormuz tetap sangat rentan.

Iran disebut memiliki kemampuan untuk mempertahankan penutupan jalur tersebut melalui penggunaan drone atau ranjau laut.

Hal ini berarti, tanpa kerja sama internasional, upaya membuka kembali jalur distribusi minyak dunia akan semakin sulit.

Perbandingan dengan Era George H.W. Bush

Situasi ini juga dibandingkan dengan pendekatan Presiden George H. W. Bush saat membangun koalisi global dalam Perang Teluk 1990-1991.

Kala itu, diplomasi intensif berhasil menyatukan dunia melawan Irak di bawah Saddam Hussein.

Sebaliknya, dalam konflik saat ini, banyak negara merasa tidak dilibatkan sejak awal, sehingga enggan berpartisipasi.

Hubungan Transatlantik Makin Renggang

Ketegangan antara AS dan sekutu Eropa juga diperparah oleh sejumlah kebijakan kontroversial Trump sebelumnya, termasuk isu Greenland dan pendekatan terhadap Rusia.

Komentar Trump yang dinilai lebih keras terhadap Presiden Ukraina dibanding Presiden Rusia juga memicu kegelisahan di kalangan sekutu.

Situasi ini memperlihatkan semakin renggangnya hubungan transatlantik di tengah krisis global.

Dunia di Persimpangan

Keputusan Trump untuk “berjalan sendiri” dalam konflik ini menjadi pertaruhan besar bagi stabilitas global.

Di satu sisi, pendekatan ini menunjukkan kemandirian AS. Namun di sisi lain, absennya dukungan sekutu dapat memperbesar risiko kegagalan dan memperpanjang konflik.

Dengan Selat Hormuz sebagai urat nadi energi dunia, setiap keputusan yang diambil akan berdampak luas, tidak hanya bagi kawasan Timur Tengah, tetapi juga ekonomi global.

Perkembangan ini menegaskan bahwa dalam geopolitik modern, kekuatan militer saja tidak cukup.

Koalisi, kepercayaan, dan diplomasi tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi krisis global yang semakin kompleks. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#donal trump #selat hormuz #harga minya dunia #AS tanpa sekutu #nato #perang Iran AS Israel